Hanya Menunggu Waktu Negara Ini Hancur Saat Kita Kehilangan Semangat Bela Negara

  • 24
  •  
  •  
  •  
    24
    Shares

Dibaca: 722

Waktu Baca3 Menit, 4 Detik

DatDut.Com – Sebuah perhelatan akbar yang melibatkan para ulama dunia digelar pada tahun lalu, tepatnya pada 27-29 Juli 2016 di Pekalongan, Jawa Tengah. Sebuah konferensi yang diprakarsai oleh Jam’iyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Al-Nahdliyah (JATMAN) itu bertajuk “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Dalam Islam“.

Jam’iyyah yang didirikan pada 20 Rojab 1377 / 10 Oktober 1957 dan yang kini diketuai oleh Habib Luthfi bin Yahya tersebut menampilkan diri di kancah internasional dengan tema yang bisa jadi saat ini eksistensinya tengah mengalami degradasi, nasionalisme.

Sudah banyak konferensi digelar di Timur Tengah namun hasilnya nihil, sebab tidak ada keterikatan hati para tokohnya dengan ikatan spiritual yang mendalam. Hal ini jauh berbeda dengan konferensi di Indonesia.

Indonesia berhasil menjadi pionir dalam gerakan penggeloraan bela negara di dunia Islam saat ini. Demikian disampaikan oleh ulama Suriah, Syaikh Muhammad Rajab Dib, sebagaimana dikutip oleh situs jatmanevent.

Di Indonesia, peran serta kaum agamis dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tidak mungkin dipandang sebelah mata. Banyak kisah heroik yang melibatkan para alim ulama dan para santrinya.

Deretan nama-nama menghiasi sejarah perjuangan negeri ini. Sebutlah tokoh-tokoh NU seperti Syekh Hasyim Asy’ari yang menginisiasi ‘Resolusi Jihad’ sehingga muncullah perjuangan rakyat Surabaya yang legendaris itu. Kiai Abdulwahhab Chasbullah yang jadi penggerak laskar Hizbullah, atau pula Kiai Wachid Hasyim yang berkontribusi dalam badan persiapan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga:  Felix Siauw: Tidak Ada Dalil Nasionalisme, Ini 5 Bantahannya

Tak kalah peran ulama Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, yang berperan dalam pembentukan laskar perlawanan yang dikenal dengan Markas Ulama – Angkatan Perang Sabilillah (Lasykar APS) di Yogyakarta, atau Mr. Kasman Singodimejo yang berperan dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Dalam hal diplomasi, kita kenal Mohammad Natsir (Masyumi) yang atas prakarsanya, munculnnya sebuah Mosi yang kemudian dikenal sebagai Mosi Integral Natsir, dimana dengannya Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali menjadi Republik Indonesia sebagai NKRI.

K.H. Agus Salim yang juga dikenal sebagai seorang diplomat ulung yang begitu dekat dengan presiden Soekarno. Dan masih banyak lagi nama yang mencerminkan kontribusi besar bagi keberlangsungan negeri bernama Indonesia ini.

Kini, setelah berpuluh tahun lepas dari masa itu, semangat yang mereka miliki tampaknya perlu digelorakan kembali kepada generasi penjaga negeri. Mengingat berlalu-lalangnya paham yang berpotensi melunturkan semangat bernama nasionalisme itu.

Dan jika kita tilik fakta di atas, adalah sebuah langkah strategis jika inisiatif untuk membangun semangat bela negara datang dari para agamawan. Sehingga khalayak melihat bahwa pada dasarnya tidak ada sekat pemisah antara nilai-nilai spiritual dengan nasionalisme, bahwa cinta tanah air adalah bagian dari nilai-nilai reliji.

Saat ini, tampaknya bahaya disintegrasi patut diberi kursi penting dalam bahasan mengenai bela negara. Tiap hari kita disuguhi dengan sajian berita perselisihan antar anak negeri dan konflik-konflik horisontal maupun vertikal yang tiada henti.

Seolah semua pihak tak mau melihat kepentingan yang lebih besar. Hal itu bukan tidak mungkin bisa dijadikan oleh pihak-pihak yang justru bukan berasal dari pihak yang berselisih untuk mendulang emas. Ini adalah sebuah potensi besar perpecahan negeri yang luas dan kaya ini.

Baca juga:  Ini 5 Mursyid Tarekat Terkemuka di Indonesia

Selain itu hadirnya paham transnasional yang tidak memandang adanya nasionalisme juga patut diperhitungkan. Karena sudah banyak di antara kita yang menaruh simpati terhadap pergerakan mereka bahkan para tokoh mereka sudah cukup dikenal oleh khalayak. Namun tampaknya, pemerintah belum menaruh perhatian serius terhadap paham seperti ini.

Di luar, kita bisa lihat fakta tentang tercerai berainya negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika akibat konflik internal, Suriah, Libya, Irak dan Sudan contohnya. Mereka tengah mengalami kisah panjang sebuah konflik yang meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan.

Banyak skenario yang terjadi di negeri-negeri itu dan bisa saja semua itu beterbangan sampai ke negeri kita. Dari skenario sektarian, konspirasi asing, perebutan hegemoni politik sampai motif ekonomi, semua tersaji dalam sebuah sebuah seri peperangan panjang. Kita berharap, semua itu segera menjadi sebuah sejarah dan segera hilang dari pemberitaan di berbagai media.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Ahmad Indra
follow me
Latest posts by Ahmad Indra (see all)
  • 24
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *