Menjawab Kritik Ngawur terhadap IAIN/UIN

  • 23
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

DatDut.Com – Dulu ketika ada buku provokatif dan penuh fitnah yang menuduh IAIN/UIN sarang liberal dan ada pemurtadan, sempat terpikir di benak sebagaian dosen dan pimpinan untuk memperkarakan penulisnya di ranah hukum karena isinya tak sesuai realitas dan hanya fitnah belaka.

Tapi para sesupuh kampus melarang hal itu. Meski kami yang muda-muda kecewa, tapi para sesepuh berhasil meyakinkan kami bahwa tak perlu kejahatan dibalas dengan kejahatan. Kita buktikan dengan karya nyata dan perbaikan demi perbaikan.

Para sesepuh juga menasihati jangan sampai kita malah terjebak dengan strategi marketing yang dilakukan penulisnya agar bukunya laris.

Dengan judul bombastis yang cenderung menipu itu, penulisnya memang seperti sengaja menggunakan strategi itu agar ada tanggapan dari pihak kampus. Yang ujung-ujungnya sebetulnya ekonomi juga. Singkatnya, biar buku yang kualitasnya biasa-biasa saja itu laku.

Namun, buku provokatif yang tak ada “isinya” itu ternyata dipercayai isinya oleh mereka yang enggan tabayun dan mencari tahu lebih jauh dengan melihat dan mengecek langsung IAIN/UIN itu seperti apa yang sesungguhnya. Gegara buku itu banyak orang percaya IAIN/UIN seperti yang digambarkan buku itu.

Akibatnya, banyak orang tua hingga hari ini yang takut mengkuliahkan anaknya di IAIN/UIN Jakarta. Bahkan, saya mendapat laporan dari ustaz dan dai alumni IAIN/UIN ditolak ceramah atau khutbah di masjid-masjid tertentu, gara-gara DKM-nya percaya dengan buku itu.

(Sungguh keji sekali buku itu. Penulisnya tidak hanya menyebar fitnah, tapi juga “ifk” dan “buhtan”, yang saya yakini harus dipertanggungjawabkannya di akhirat nanti. Saya meyakini setiap orang yang tak jadi masuk IAIN/UIN gegara baca buku itu, penulisnya akan bertanggung jawab di akhirat karena sudah membuat “buhtan”).

Apakah kampus IAIN/UIN di seluruh Indonesia memperkarakan penulis buku ini? Tidak. Sama sekali tidak. Bukan karena setuju dengan isinya, tapi kami tak mau “ramai” dan tak mau lebih banyak memberi keuntungan ekonomi pada penulisnya yang mungkin jadi kaya dan terkenal gegara buku fitnah itu.

Beberapa hari ini kembali banyak kritik yang diserangkan ke IAIN/UIN gegara kasus disertasi AA, lalu ketika kami sebagian sivitas akademika IAIN/UIN menggunakan hak jawab kami dan menjelaskan duduk persoalannya, eh tetiba ada beberapa tulisan yang beredar sbb: “IAIN/UIN harus berbesar hati menerima kritik. Jadikan kasus ini sebagai introspeksi dan evaluasi.”

Baca juga:  Pak Kiai! Ini 5 Curhatan Para Santri tentang Anda yang Bikin Hati Trenyuh

Nah, beginilah kalau si kudet (kurang update) dan kurfo (kurang info) kepedean. Gak tahu duduk persoalannya, gak tahu perkembangan UIN terkini, sok-sok menasihati. Duh!

Ini masalahnya bukan soal tidak menerima kritik, tapi kami mempersoalkan substansi kritiknya yang memang tak berdasar. Masa ada orang yang berbasis browsingan menyebut bahwa masuk UIN akan disekulerkan, diateiskan, dan dikafirkan.

Kami jelas keberatan dengan tulisan itu. Karena selain tak sesuai realitas, juga bahwa tulisan itu sangat ngawur dan bukan berdasarkan hasil penelitian lapangan, apalagi hasil investigasi.

Tapi ya begitu. Orang-orang itu seperti biasa. Lempar batu sembunyi tangan. Saya jadi ingat ketika awal-awal DatDut.Com berdiri, penulis kami menurunkan bantahan terhadap buku fitnah tentang IAIN/UIN, yang saya forward ke penulis buku itu.

Beberapa bantahan yang cukup telak itu ternyata membuat penulisnya tak sanggup lagi membantahnya karena tulisan di DatDut berdasarkan fakta, yang membantah opini berdasarkan ilusi penulisnya.

Beberapa hari ini ada yang ganti nama akun setelah namanya disinggung-singgung dalam postingan jawaban atas serangan ke IAIN/UIN hari-hari ini. Padahal, seperti diakuinya di kolom komentar bahwa akun itu dulu dikelola admin yang bahkan pernah diendorsenya.

Saya hanya mengingatkan pada para pengkritik itu, janganlah gegara satu-dua orang, lalu semua sivitas akademika dikait-kaitkan. Tiap kampus pasti ada orang yang nyeleneh. Di UI, misalnya, ada orang seperti Ade Armando. Tapi apa kita adil menganggap semua orang di UI seperti Ade Armando. Lalu, menghasut orang untuk tidak masuk UI gegara ada Ade Armando?!

Di IPB, ada juga guru besar yang pernah terjerat kasus korupsi yang pernah heboh. Lalu, apakah adil menganggap semua orang di IPB seperti itu?! Lalu, menghasut orang untuk tidak masuk IPB gegara guru besar itu.

Baca juga:  Aneh! Gara-gara Razia Warteg di Serang, Kok Perda Syariah yang Jadi Korban?

Janganlah karena ingin menangkap satu tikus lalu membakar rumahnya. Janganlah karena tak suka dengan kelakuan seseorang di suatu institusi lalu menghancurkan institusinya.

Para pengkritik IAIN/UIN perlu menyadari bagaimanapun juga IAIN/UIN masih sangat dibutuhkan hingga kapan pun juga selama negeri ini masih ada masjid, majelis taklim, pengadilan agama, KUA, sekolah Islam, pesantren, madrasah, dan institusi Islam lainnya. Karena hingga hari ini semua institusi itu sebagian besarnya diisi alumni IAIN/UIN.

Silakan kalau mau memberi saran dan kritik pada IAIN/UIN, tapi lakukan secara adil. Basis kritiknya juga harus penelitian. Bila ada kurikulum, dosen, model/sistem pembelajaran, pola pembinaan yang tidak sesuai harapan, silakan berikan saran dan kritik pada kami. Insya Allah pihak IAIN/UIN terima dan lakukan perbaikan berdasarkan masukan konstruktif. Basisnya sekali lagi jangan dari browsingan/googlingan.

Satu lagi, dalam pembekalan wisudawan kemarin, saya di hadapan forum sempat bertanya (dan ini rutin saya lakukan) kepada menantu HRS yang ikut diwisuda. “Apakah ketemu yang liberal di sini?” tanya saya. “Tidak ada.” “Apakah ketemu yang dosen yang aneh-aneh di sini?” tanya saya. “Tidak,” jawabnya dengan mantap.

Menantu HRS ini menyelesaikan S1-nya di Timur Tengah. Habib Muhammad Alatas namanya. Dia ini Ketua Madrasah Tarbiyah FPI dan Sekretaris Umum Markas Syari’ah Mega Mendung, Bogor.

Maka, benar pepatah yang menyebut, “Melihat langsung jauh lebih berharga daripada hanya mendengar”. Sebelum menuduh IAIN/UIN macam-macam, datanglah dan lihatlah IAIN/UIN seperti apa. Setelah itu, silakan saja kalau mau mengkritik apa saja.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

  •  
    23
    Shares
  • 23
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close