Menilai Kualitas “Ulama” Medsos

  • 5
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

DatDut.Com – Dalam Ilmu Hadis, ada tradisi menjarh dan menta’dil. Menjarh berarti menilai negatif seorang rawi, sementara menta’dil menilai positif.

Soal menta’dil, kita semua pasti langsung mafhum. Namun, soal menjarh, bagi yang belum belajar Ilmu Hadis, mungkin hal itu akan mengagetkan.

Bagaimana bisa para ulama hadis justru membuka aib orang lain, sementara di banyak hadis diajarkan untuk menutup aib?!

Nah, ini menariknya disiplin Ilmu Hadis. Dalam ilmu ini, kita diajari kritis, tegas, rigid, disiplin, dan skeptis.

Semua itu dilakukan agar hadis terjaga dari orang-orang jahat dan punya motivasi buruk, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas, otentisitas, dan kredibilitas hadis sebagai sumber kedua hukum Islam.

Dengan cara ini, hadis dijaminkan tidak disebarkan orang yang mau menipu, memalsukan, mendistorsi informasi dalam hadis, atau hanya ingin meraih keuntungan pribadi.

Maka, jangan heran kalau Anda membaca kitab-kitab tarajim (biografi para rawi), ditemukan seorang rawi disebut kadzib (pendusta), kadzdzab (gemar berdusta), atau bahkan dajjal (rajanya pendusta).

Ada juga penilaian khatha’ (salah), fihi syay’ (ada masalah pada dirinya), fasiq (melanggar norma agama), masalah pada muruah (melanggar norma sosial), bahkan sektenya pun disebut bila terindikasi menyimpang, seperti rafidhi (penganut Rafidhah).

Baca juga:  Jangan Maafkan Manusia Rasis di Negeri Ini! Hukum Steven!

Sekali lagi, mengapa sampai segitunya? Nah, ini yang menarik. Bila itu aib pribadi dan tak ada hubungan dengan dirinya sebagai rawi hadis, ini yang harus ditutupi.

Namun bila aibnya berhubungan dengan hadis yang akan berdampak pada hukum dan persoalan keumatan, dalam Ilmu Hadis wajib informasi mengenai aib itu disebarkan ke publik, agar publik mendapat jaminan kualitas hadis yang layak guna.

Dalam konteks ini pula, viralnya “ulama” dan “ustaz” medsos beberapa waktu lalu terkait kapasitas keilmuan yang elementer dalam kajian Islam, perlu ada jarh kepada mereka.

Baju keulamaan dan label keustazan yang mereka sandang, perlu dikritik agar masyarakat dan umat tidak tertipu. Mereka yang belum memenuhi standar keulamaan, mestinya tak boleh menipu umat dengan baju keulamaan.

Kalau soal Sharaf (Morfologi Bahasa Arab) saja masih belum memadai kapasitasnya, pantas bila banyak pihak kemudian mempertanyakan label keulamaan dan keustazannya, apalagi sampai menduduki jabatan sentral di MUI.

Tentu pada titik ini kita juga perlu memastikan bahwa tak semua yang digelari ulama atau ustaz di medsos itu kualitas dan kapasitasnya di bawah standar.

Banyak ulama dan ustaz di medsos yang memenuhi kualifikasi standar dan bahkan di atas standar.

Uniknya, ulama dan ustaz yang berkualitas ini bahkan kadang justru melepaskan gelar dan label keulamaan atau keustazan di akun medsosnya.

Baca juga:  Meski Non-Muslim dan Cina, Umat Islam Tak Pernah Mempermasalahkan Kwik Kian Gie

Sementara di seberangnya, “ulama” atau “ustaz” yang belum memenuhi standar ini yang justru tampil dengan baju kebesaran, layaknya seperti ulama besar dan akunnya dilabeli gelar keulamaan atau keustazan.

Padahal, aktivitas di medsosnya seringnya hanya agitasi, provokasi, dan fitnah. Jangankan memahami ayat atau hadis, membacanya pun masih belepotan.

Di sinilah perlu ada lembaga yang bisa menjarh “ulama” medsos ini agar umat dan masyarakat tidak tertipu pada “ulama” yang sebetulnya bukan ulama.

Belajar dari banyak kejadian belakangan, mungkin perlu segera dibentuk lembaga sertifikasi ustaz dan ulama, agar umat dan masyarakat mendapat sumber informasi mengenai agama dari orang yang tepat dan ahli.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

  •  
    5
    Shares
  • 5
  •  
  •  

One thought on “Menilai Kualitas “Ulama” Medsos

  1. Segera pak. sebelum semuanya terlambat. Anak-anak sekolah, kampus, sangat membutuhkan bimbingan agama. Jangan sampai mereka dibimbing oleh orang yg tidak kompeten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close