Mengapa Orang yang Menyeru Persatuan Malah Sering Dimusuhi?

  • 17
  •  
  •  
  •  
    17
    Shares

DatDut.Com – Beberapa kejadian akhir-akhir ini semakin menguatkan kesimpulan saya bahwa lebih gampang mengajak orang untuk menjadi garis keras dan main hantam sana-sini. Atau sebaliknya, mengajak untuk menjadi garis lunak, pragmatis, dan oportunis.

Yang sulit justru mengajak orang untuk berada di garis tengah, adil dalam menilai, dan berani mengakui kesalahan, terutama yang dilakukan oleh diri atau kelompoknya sendiri.

Ketika Kiai Ali Mustafa Yaqub menulis artikel yang kemudian jadi buku “Titik Temu Wahabi-NU”, beliau “dihantam” dari segala penjuru. Di kalangan yang satu beliau dituduh agen Wahabi. Di kubu satunya lagi beliau dituduh ulama pemerintah.

Begitulah nasib para mujahid yang berani melawan sikap fanatisme buta dan menyerukan persatuan serta berlaku adil dalam menilai.

Baca juga:  Pesantren Tebuireng, Tempat Para Ulama dan Guru Bangsa Belajar Agama, Ini Profilnya

Para mujahid itu pasti dimusuhi orang-orang yang selama ini dapat keuntungan dari sikap fanatisme para pengikutnya. Mereka yang hanya mementingkan kepentingan dan ego kelompoknya, serta mengabaikan sama sekali kepentingan yang lebih besar berupa persatuan umat.

Dan, dalam hal ini tak banyak ulama hebat yang berani mengambil sikap berisiko seperti beliau. Sebetulnya  tak mengherankan karena dalam sejarah selalu saja orang yang ingin menggabungkan atau mencari titik temu dua pihak yang bertikai dan berselisih pendapat, selalu saja dimusuhi oleh salah satu atau dua-duanya pihak itu.

Maka, tak banyak yang ambil posisi ini karena orang seperti ini biasanya jarang yang mendukungnya. Secara tabiat memang manusia senang berada di kutub ekstrim: kanan atau kiri.

Oleh karenanya terkait kisruh hari-hari ini, saya memang dari dulu tak pernah setuju adanya pengusiran atau penolakan lantaran berbeda paham, apa pun pahamnya dan siapa pun pelaku pengusirannya. K

arena sepanjang sejarah peradaban manusia, perbedaan paham tak pernah berhasil diselesaikan dengan pengusiran atau penolakan, bahkan dibunuh sekalipun. Ia harus didiskusikan dan diperdebatkan untuk mencari titik persamaan dan titik perbedaannya.

Baca juga:  Belajarlah Makna Cinta Sejati dari 5 Sabda Nabi Ini

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *