Mengapa Orang yang Menyeru Persatuan Malah Sering Dimusuhi?

  • 17
  •  
  •  
  •  
    17
    Shares

Dibaca: 289

Waktu Baca1 Menit, 26 Detik

DatDut.Com – Beberapa kejadian akhir-akhir ini semakin menguatkan kesimpulan saya bahwa lebih gampang mengajak orang untuk menjadi garis keras dan main hantam sana-sini. Atau sebaliknya, mengajak untuk menjadi garis lunak, pragmatis, dan oportunis.

Yang sulit justru mengajak orang untuk berada di garis tengah, adil dalam menilai, dan berani mengakui kesalahan, terutama yang dilakukan oleh diri atau kelompoknya sendiri.

Ketika Kiai Ali Mustafa Yaqub menulis artikel yang kemudian jadi buku “Titik Temu Wahabi-NU”, beliau “dihantam” dari segala penjuru. Di kalangan yang satu beliau dituduh agen Wahabi. Di kubu satunya lagi beliau dituduh ulama pemerintah.

Begitulah nasib para mujahid yang berani melawan sikap fanatisme buta dan menyerukan persatuan serta berlaku adil dalam menilai.

Baca juga:  Ini Sejarah 5 Perluasan Masjidil Haram di Masa Lalu

Para mujahid itu pasti dimusuhi orang-orang yang selama ini dapat keuntungan dari sikap fanatisme para pengikutnya. Mereka yang hanya mementingkan kepentingan dan ego kelompoknya, serta mengabaikan sama sekali kepentingan yang lebih besar berupa persatuan umat.

Dan, dalam hal ini tak banyak ulama hebat yang berani mengambil sikap berisiko seperti beliau. Sebetulnya  tak mengherankan karena dalam sejarah selalu saja orang yang ingin menggabungkan atau mencari titik temu dua pihak yang bertikai dan berselisih pendapat, selalu saja dimusuhi oleh salah satu atau dua-duanya pihak itu.

Maka, tak banyak yang ambil posisi ini karena orang seperti ini biasanya jarang yang mendukungnya. Secara tabiat memang manusia senang berada di kutub ekstrim: kanan atau kiri.

Oleh karenanya terkait kisruh hari-hari ini, saya memang dari dulu tak pernah setuju adanya pengusiran atau penolakan lantaran berbeda paham, apa pun pahamnya dan siapa pun pelaku pengusirannya. K

arena sepanjang sejarah peradaban manusia, perbedaan paham tak pernah berhasil diselesaikan dengan pengusiran atau penolakan, bahkan dibunuh sekalipun. Ia harus didiskusikan dan diperdebatkan untuk mencari titik persamaan dan titik perbedaannya.

Baca juga:  Ini 5 Kepedulian Rasulullah Saw. pada Rakyat Jelata
0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah
  • 17
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *