Mengajar Tafsir Ibnu Katsir dan Karamah Gus Qoyyum Lasem

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Alhamdulillah Rabu malam kemarin untuk pertama kalinya saya memulai mengisi kajian Tafsir Ibnu Katsir di Masjid Fathullah UIN Jakarta.

Saya menggantikan Prof. Dr. Salman Harun yang karena sudah sepuh meminta diganti oleh yang lebih muda.

Saya pasti merasa tidak pantas menggantikan beliau, tapi pihak DKM masjid meminta saya. Entah atas pertimbangan apa.

Ada banyak perasaan berkecamuk. Karena yang dikaji tafsir, tak seperti yang biasa saya sampaikan di masjid dan majelis taklim lainnya.

Inilah yang membawa saya dalam beberapa hari ini tiba-tiba teringat memori di tahun 1992 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur Lasem.

Waktu itu saya masih kelas 2 MtsN Lasem. Salah satu pengajian yang harus kami para santri ikuti sepulang sekolah (termasuk santri yang tak sekolah formal) adalah Pengajian Tafsir Jalalain.

Baca juga:  Gus Qoyyum Lasem: Berlomba-lombalah Beramal Saleh dalam Keadaan Berat atau Ringan

Pengajian itu diikuti oleh semua santri, termasuk santri-santri yang dari luar Ponpes An-Nur.

Pada beberapa kesempatan, K.H. Abdul Qoyyum (Gus Qoyyum), meminta santri-santri tertentu untuk membacakan beberapa bagian Tafsir Jalalain di hadapan santri lainnya.

Saya adalah salah satu yang diminta beliau. Saya memang bukan satu-satunya. Tapi saya yang terkecil saat itu. Yang lain umumnya santri senior, sementara saya saat itu baru kelas 2 MTs. Dan, tak ada santri MTs yang diminta saat itu selain saya.

Dan, hari ini saya merasa kesempatan yang diberikan kepada saya, merupakan berkah guru kami K.H. Abdul Qoyyum, juga abah beliau K.H. Mansur Kholil, dan guru-guru kami yang lain, termasuk kedua orangtua kami. Selain berkah, sepertinya ini juga salah satu karamah Gus Qoyyum.

Baca juga:  Mereka yang Suka Sekali Mentahdzir Orang Lain

Semoga bisa istikamah dan bisa bermanfaat.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close