Figur

Meneladani Akhlak K.H. Zaini Mun’im, Pendiri Ponpes Nurul Jadid Paiton

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid, Paiton-Probolinggo Jawa Timur. Dilahirkan sekitar tahun 1906 M di Pamekasan-Madura dari pasangan K.H. Abdul Mun’im dan Ny. Hj. Hamidah. Kalau diruntut, silsilahnya sampai kepada Rasulullah Saw. melalui Bendoro Sa’ud.

Banyak pesantren yang beliau singgahi. Banyak kiai yang beliau dekati, di antaranya K.H. M. Kholil dan K.H. Muntaha di PP Pademangan Bangkalan-Madura, K.H. Abdul Hamid, dan putranya K.H. Abdul Madjid di PP Banyuanyar-Pamekasan, K.H. Nawawi di PP Sidogiri-Pasuruan, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Maksum bin Kuaron dan K.H. Wahid Hasyim di PP Tebuireng-Jombang, K.H. Syamsul Arifin (Abahnya K.H. As’ad Syamsul Arifin) di PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo-Situbondo.

Terakhir beliau mondok di Mekah (1928) setelah haji. Beliau menetap selama 5 tahun di Mekah dan di Madinah selama 6 bulan. Masyayikh-nya sewaktu di sana, di antaranya K.H. M. Baqir (berasal dari Yogyakarta), Syekh Umar Hamdani AI-Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki (Mufti Maliki di Mekah), Syekh Sa’id Al-Yamani (Mufti Syafi’i di Mekah), Syekh Umar Bayunid (Mufti Syafi’i di Mekah), Syekh Yahya Sangkurah (berasal dari Malaysia), dan Syekh Syarif Muhammad bin Ghulam As-Singkiti (Mauritania).

Berikut ini saya sajikan 5 teladan beliau, disarikan dari beberapa sumber di antaranya Afandielhasan.blogspot.com dan Lontarmadura.com:

1. Merakyat, Jujur, Ikhlas, Sederhana dan Pemberani

Meskipun terlahir dari nasab bangsawan dan ulama, beliau tidak sombong. Sebaliknya beliau sosok yang merakyat. Dalam kesehariannya, beliau enggan menenteng kebesaran nasabnya. Gemar berbaur dengan masyarakat dan turba (Turun ke bawah).

Saat mondok di Tebuireng, K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) menjulukinya dengan Zaini Al-Khalis (Zaini yang ikhlas) karena kejujuran dan keikhlasan sosoknya.

Kepada anak dan keluarganya, beliau mengajarkan life style sederhana, seperti membelikan baju yang wajar, meskipun beliau mampu membelikan yang mewah. Bagi beliau gaya hidup sederhana adalah prinsip hidup yang mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Beliau terkenal gigih dan berani dalam memperjuangkan keadilan bagi masyarakat. Misalnya, suatu saat ada ketidakadilan dalam pembagian air (irigasi) untuk masyarakat petani, lalu beliau datang sendiri dan berkata kepada si penjaga irigasi, “Apa kamu takut untuk melawan orang yang memaksamu untuk berbuat tidak adil? Jika takut, mari bersama saya menghadapinya.”

Baca juga:  Ini 5 Fatwa Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub yang Berkearifan Lokal dan Tak Berbau Arab

2. Tawaduk, Memuliakan dan Menghormati Orang Lain

Misalnya, pada waktu itu, ada salat jamaah dengan imam yang biasanya dipimpin oleh Bapak Mulyadi. Mengetahui Kiai Zaini datang, segera Pak Mulyadi mempersilahkan beliau untuk memimpin salat. Tapi Kiai Zaini menolaknya dengan halus. Karena beliau datang belakangan dari Pak Mulyadi. Akhirnya, Pak Mulyadi yang bertindak sebagai imam, sementara beliau sebagai makmumnya.

3. Hati-hati dalam Berfatwa; Ketat Kepada Diri Sendiri, Longgar terhadap Orang Lain

Dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, beliau juga sangat tekenal dengan sikap yang longgar dan hati hati. Misalkan, meski dalam masalah hukum beliau sangat ketat, baik untuk dirinya sendiri, keluarga dan santrinya, tapi jika dengan orang lain, beliau memperlakukannya dengan sangat longgar.

Sikap ini terlihat ketika seorang pengusaha menanyakan pada beliau tentang hukum berhubungan dengan bank. Ditanya demikian, beliau balik bertanya, “Sampeyan menanyakan hukum itu pada diri saya pribadi atau apa yang sudah diputuskan NU dalam muktamarnya di Menes Jabar? Jika pendapat saya pribadi, hukumnya haram. Tapi jika keputusan NU itu ada tiga; haram, mubah dan ikhtilaf.”

Sebaliknya, sikap kehati-hatian dalam menghadapi persoalan yang timbul di masyarakat, tampak ketika beliau menasihati santrinya yang telah selesai mondok dan terjun ke masyarakat, “Dalam masa setahun atau dua tahun, janganlah ikut campur dalam persoalan di masyarakat. Tapi lihat dulu, bagaimana situasi dan kondisi masyarakat sesungguhnya. Setelah kamu betul-betul tahu dan paham tentang seluk-beluk masyarakat, silakan kamu mulai terjun dan mengabdi pada masyarakat.”

4. Bercita-cita tinggi

Beliau memiliki visi dan misi hidup yang besar dan jelas, lebih-lebih pada hal yang bersifat keilmuan. Cita-cita dan orientasi keilmuan Kiai Zaini ini, tercermin dari keinginan dan cita-cita beliau untuk menjadikan seluruh masyarakat Indonesia menjadi masyarakat pesantren, yaitu masyarakat yang dijiwai oleh tiga prinsip hidup (Trilogi Santri):

Pertama, al-ihtimam bil furudh al-‘aniyyah, artinya masyarakat (santri) harus selalu mementingkan permasalahan agama yang hukumnya fardu ain. Kedua, al-ihtimam bi tarkil kaba’ir, masyarakat (santri) harus memiliki komitmen tinggi dalam menghindari perbuatan dosa besar. Ketiga, husnul adab ma’allah wa ma’al makhluq, masyarakat (santri) yang senantiasa membina hubungan baik dengan Allah dan makhluk-Nya.

Baca juga:  K.H. Zayadi Muhajir, Ulama Besar Betawi yang Makamnya Banyak Diziarahi

Trilogi santri tersebut, mendorong agar santri dalam mendalami ilmu tidak hanya untuk dimiliki atau dikuasai, melainkan untuk diamalkan. Sehingga tumbuh kepribadian santri yang “berilmu amaliah, beramal ilmiah” dan berakhlak karimah. Rumusan Trilogi santri ini, memberi peluang kepada setiap Muslim untuk mengembangkan dirinya berkepribadian santri walaupun tidak pernah menuntut ilmu di pesantren.

5. Berpikir Strategis

Selain ilmu agama, beliau juga menaruh perhatian kepada ilmu umum. Ini tampak dari perkataannya, “Saya mendirikan Pesantren Nurul Jadid ini tidak ingin hanya mencetak kiai saja, tapi juga insan yang beriman dan punya komitmen tinggi terhadap perjuangan, di manapun mereka berada dan sebagai apa pun. Saya menginginkan agar para santri ini ada di mana-mana, sehingga jika kita kemana saja, ke departemen-departemen yang ada di Indonesia, ini ada santrinya.”

Berangkat dari perkataannya di atas, beliau tidak pernah melarang para santrinya menjadi pegawai negeri. Padahal waktu itu umat Islam seolah-olah anti-PNS. Mengenai sikap beliau ini, Kiai Zaini berkata, “Jika posisi itu tidak kita pegang, pasti orang luar yang akan memegangnya. Apa kita semua rela jika Islam dikendalikan oleh orang orang non-Muslim? Yang tahu membangun Islam adalah orang Islam sendiri, maka orang Islam harus masuk di dalamnya.

Artinya beliau menginginkan dengan berdirinya PP Nurul Jadid tercetaknya insan-insan yang tidak hanya paham dan mengamalkan agama tetapi juga menguasai IPTEK dan keterampilan hidup, serta ruhul jihad yang tinggi sehingga bisa menjadi sosok Muslim yang secara aktif dalam kehidupannya berperan dalam menyelesaikan problema umat dalam kapasitasnya sebagai apa pun dan hidup di manapun.

 

Alvian Iqbal Zahasfan

Alvian Iqbal Zahasfan

Kandidat doktor pada Universitas Dar El hadith El Hassania, Rabat, Maroko. Pernah jadi santri di Ponpes Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Ponpes Al-Ghazali Karangrejo-Tulung Agung, PIQ Singosari-Malang, Al-Ma’had Darus-Sunnah Al-‘Dauli li Ulumil Hadis Jakarta.
Alvian Iqbal Zahasfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *