Memusuhi Apa yang Tidak Diketahui

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Ada pepatah Arab yang menarik direnungkan. Annasu a`dau ma jahilu. Orang cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya.

Ada kisah dari senior saya di kampus. Dia cerita dulu ada dosennya yang melarang mahasiswa menulis skripsi atau makalah dengan komputer.

Menurut si dosen, komputer itu membuat mahasiswa malas. Komputer juga membuat manusia tidak terlatih kesabaran dan ketelitiannya.

Tentu saja si dosen saat itu tidak punya komputer, karena saat itu yang punya komputer baru segelintir orang dan harganya pun masih mahal.

Singkat cerita, setelah zaman sudah serba komputer, ternyata si dosen tadi akhirnya menggunakan komputer (termasuk laptop).

Setelah mengetahui si dosen akhirnya memakai komputer, senior saya yang akhirnya jadi kolega si dosen tadi, memberanikan diri bertanya soal dia yang akhirnya pakai laptop itu.

“Saya waktu itu melarang pakai komputer karena saya tak pernah pakai komputer dan tak tahu begitu banyak manfaat komputer,” kata si dosen menjelaskan soal larangannya di masa lalu.

Beberapa hari lalu saya terlibat diskusi di FB dengan seorang penolak konsep Islam Nusantara (IN).

Baca juga:  Jangan Maafkan Manusia Rasis di Negeri Ini! Hukum Steven!

Sayangnya, terasa sekali lawan diskusi saya ini tidak memahami dengan baik apa yang ditolaknya. Dan, secara tak beradab menyerang personal saya gara-gara dia gagal menyajikan argumen yang ilmiah dan memadai.

Akhirnya dia hanya muter-muter saja dan bullyan kepada saya lantaran tak bisa membantah argumen yang saya sajikan.

Saat Idul Adha lalu saya kembali membaca berita ada satu ulama di luar Pulau Jawa yang berkhotbah Idul Adha dengan materi terkait penolakannya terhadap konsep IN.

Saya pribadi tidak ada persoalan dengan siapa pun yang menolak konsep IN. Toh, saya tak ada kaitan langsung dengan IN. 

Kalaupun selama ini saya kerap membicarakan soal IN itu karena saya pernah menjadi ketua panitia International Conference on Islam Nusantara (ICON) pada tahun 2014.

ICON sendiri adalah seminar pertama tentang Islam Nusantara di Indonesia yang menghadirkan banyak pembicara kompeten dalam dan luar negeri.

Saya juga mencoba memahami pikiran berbagai orang mengenai IN. Toh, hingga hari ini belum ada definisi tunggal soal IN. Terlalu banyak versi yang dikemukakan para ahli.

Baca juga:  Murid yang Baik dalam Pandangan Islam, Ini 5 Cirinya

Secara umum dapat disimpulkan bahwa IN merupakan corak ber-Islam yang memang khas dipraktikkan di Nusantara. Tidak ada doktrin baru, tidak ada akidah baru, dan tidak ada ajaran baru. Hanya variasi ekspresi saja.

Nah, di sinilah saya masih belum mengerti mengapa ada orang yang begitu keras menolak IN. Terkadang yang menolak juga di lain waktu kerap memasarkan Islam Berkemajuan, Islam Terpadu, atau Islam Kaffah.

Di sinilah perlu kearifan kita dalam memahami versi yang diamalkan dan dipikirkan orang lain. Jangan sampai kita menolak sesuatu yang tidak betul-betul kita pahami.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah
  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *