Memburu Keramat di Masjid Luar Batang

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com- Percaya akan adanya karomatul auliya (karomah para wali) termasuk doktrin ahlusunah waljamaah.

Meski kini di tengah gempuran dogma materialisme, cerita-cerita tentang karamah hanya dianggap sebagai dongeng-dongeng mistik pengantar tidur yang tak pernah ada secara nyata.

Hal ini sangat membahayakan karena mengancam eksistensi iman kita sebagai muslim Ahlusunah Waljamaah.

Doktrin yang krusial tetapi sering dilupakan oleh penganutnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang keramat wali yang masih eksis hingga saat ini.

Keramat ini berada di tengah kota metropolitan yaitu masjid keramat luar batang, penjaringan, Jakarta utara serta shahibul karamah habib Husein ibn Abu Bakar Al Idrus.

Laksana oasis di tengah gurun pasir. Meski berada di antara penduduk kota yang cenderung materialistis dan hedonis, masjid di pesisir utara Jakarta ini tak pernah sepi.

Pengunjung datang tanpa henti yang berziarah sembari membawa asa dan mengharap percikan berkah dari sang wali agar hajatnya dikabulkan tuhan.

Dua puluh empat jam masjid ini terbuka untuk peziarah. Selama itu pula lantunan tahlil, tahmid, takbir senantiasa bersaut-sautan memuji Sang Maha Pengasih yang telah menitipkan kasih sayangnya untuk kekasihnya ini.

Bukankah ketika kekasih telah memintakan untuk kita, pastilah sang pengasih tidak akan tega untuk tidak mengabulkannya?

Kira-kira seperti itulah konsep tawasul dalam tradisi Ahlusunah Waljamaah. Selain mengharap berkah juga mempercepat proses terkabulnya doa. Dan hal ini sah serta dianjurkan oleh agama.

Banyak kisah menarik tentang orang-orang yang terpenuhi hajatnya setelah berziarah ke masjid Luar Batang. Ada yang menemukan cintanya setelah berziarah ke tempat ini padahal sebelumya susah ketemu jodoh.

Ada yang mendapatkan solusi permasalahan yang dihadapi padahal sebelumnya selalu menemui jalan buntu.

Bahkan seperti yang diceritakan habiB Husein bin Hasan Alydrus al mutawali (pengayom) masjid luar batang pernah ada seorang ibu yang susah melahirkan.

Sampai beberapa hari sang jabang bayi tak kunjung lahir sampai akhirnya dibawalah sang ibu itu ke masjid Luar Batang oleh suaminya. Setelah tawasul kepada shahibul maqam (pemilik makam) bayi itu akhirnya lahir di tempat itu juga.

Ada juga seorang china yang datang meminta doa kepada Habib Husain selaku mutawali Masjid Luar Batang karena uangnya di bank sebesar 800 juta tidak bisa cair karena ada gangguan likuiditas.

Baca juga:  Masjid Keramat Empang Bogor Selalu Ramai Dikunjungi Tiap Malam Jumat

Akhirnya setelah bertawasul kepada shahibul maqam, tidak menunggu lama uangnya bisa dicairkan.

Kemudian sebagai bentuk rasa syukur, dia menyumbang keramik dan bahan bangunan untuk merapikan salah satu serambi Masjid Luar Batang.

Bukan hanya dari kalangan masyarakat umum saja yang berziarah ke masjid keramat ini. Bahkan sampai para pejabat sekelas menteri seperti Imam Nahrawi menpora, Dahlan Iskan, dan beberapa Gubernur di daerah jawa pernah berziarah kesini.

Umumnya mereka merasa tercapai hajatnya setelah berziarah di makam habib Husain ibn Abubakar Alydrus.

Beliau adalah seorang habib asal Yaman selatan yang dipenuhi karamah bahkan menurut Gus Dur beliau adalah salah satu paku bumi kota Jakarta.

Lahir di kota Hadramaut Yaman dan telah diliputi keistimewaan semenjak kecil. Pernah suatu hari sang habib kecil tidak mau pergi mengaji karena terlalu asyik bermain.

Akhirnya oleh ibunya, sang habib dihukum dikunci di dalam kamar dan diancam tidak akan diberi makan sebelum menyelesaikan gulungan-gulungan benang untuk dipintal.

Dan anehnya ketika sore hari sang ibu masuk ke kamar habib ternyata sedang tertidur pulas dan gulungan benang telah terpintal menjadi kain.

Padahal normalnya membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan pintalan benang itu.

Sementara bagi sang habib hanya butuh waktu sehari saja. Karena kaget, sang ibu melaporkan kejadian itu kepada para masyayikh di Yaman.

Dan salah seorang mereka memberi nasihat agar sang ibu mengikhlaskan anaknya jika nanti buah hatinya harus pergi ke tempat jauh untuk berdakwah. Karena putranya akan menjadi orang besar yang dikaruniai karamah.

Ternyata memang benar setelah beberapa tahun kemudian di usia yang masih terbilang muda beliau harus pergi merantau ke tanah Gujarat di India.

Di tanah perantauan yang beliau singgahi adalah tanah yang gersang karena sedang di landa kemarau panjang dan pada saat itu juga penduduknya terkena wabah penyakit lepra.

Oleh para dukun hindu setempat sang habib dianggap titisan dewa yang mampu menghentikan wabah yang melanda lalu dimintalah beliau mengatasinya.

Lalu habib minta dibuatkan sebuah kolam besar, kemudian beliau berdoa. Akhirnya turunlah hujan. Dari air kolam itu penduduk diminta untuk mandi disana dan atas izin allah terbebaslah mereka dari wabah penyakit.

Nah itulah yang membuat banyak penduduk Gujarat masuk islam. Setelah itu beliau melanjutkan dakwahnya di daerah asia pasifik tepatnya di tanah Betawi yang waktu itu masih di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Baca juga:  Ramai “Yuk, Bersepeda ke Masjid” di Media Sosial

Di bagian barat Sunda Kelapa tepatnya diatas teluk dibangunlah surau oleh Habib Husein.

Semakin lama dakwakwahnya semakin diterima oleh penduduk setempat. Sampai pada suatu hari ada seorang tahanan belanda yaitu seorang Tionghoa dalam keadaan basah kuyup mendatangi Habib Husein.

Orang ini minta perlindungan karena akan dihukum mati. Akhirnya dilindungilah dia oleh habib dan akhirnya masuk Islam dan menjadi pembantu habib yang nama islamnya Abdul Qadir.

Suatu hari ada seorang Sinyo Belanda berpapasan dengan sang habib, ditepuklah dada sinyo Belanda itu dan berkata, “Sebentar lagi kau akan dipanggil ke negeri Belanda dan akan diangkat jabatanmu!” kata habib.

Ternyata apa yang dikatakan habib menjadi kenyataan. Sang sinyo diangkat menjadi gubernur jendral di Batavia. Dan dia menghadiahkan 10ha tanah dan berkarung karung uang.

Di tanah itulah sang habib membangun masjid luar batang dari bekas suraunya. Sementara uang yang diberikan beliau buang ke laut.

“Kenapa uang itu dibuang wahai habib?” tanya sinyo Belanda tadi. “Bukan aku buang, uang itu aku kirimkan kepada ibuku di Yaman,” kata sang habib.

Ternyata setelah dikonfirmasi benarlah uang itu sampai kepada ibu sang habib tepat pada waktu di mana habib membuang uang itu ke laut.

Di usia 40 tahun tepatnya hari kamis, 24 juni 1756 berpulang sang habib ke rahmatullah. Peraturan Belanda waktu itu, orang asing harus dikuburkan di Tanah Abang.

Dibawalah jenazahnya ke Tanah Abang. Ternyata sampai di sana kurung batang (keranda mayat) kosong. Setelah dicek ternyata jenazahnya berada di kamar beliau.

Kejadian ini sampai berulang tiga kali sehingga masyarakat sepakat untuk menguburkan beliau di kamarnya sendiri. Itulah cikal bakal mengapa kampungnya kini disebut sebagai kampung Luar Batang.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close