Memahami Kemudahan Islam saat Tinggal di Eropa

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – Hidup di Eropa mungkin menjadi dambaan sebagian orang. Namun, tentu apa yang dibayangkan oleh banyak orang tentang hidup di Eropa, tak selamanya selalu indah. Salah satunya soal kemudahan beribadah, terutama saat berada di luar rumah.

Hal itulah yang menjadi topik pengajian Perhimpunan Masyarakat Islam Indonesia Prancis (PERMIIP) pada Sabtu (28/10). Hadir sebagai narasumber Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.

Warga Indonesia yang ada di Paris antusias mengikuti kegiatan pengajian kali ini. Tampak hadir di tengah-tengah jamaah adalah Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Prof. Dr. Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman dan Wakil Duta Besar RI untuk Prancis, Agung Kurniadi.

“Tema seperti ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia di Prancis. Selama ini mereka menghadapi kendala-kendala dalam beribadah di tengah budaya yang berbeda di Eropa,” kata Ketua PERMIIP, Teuku Zulkaryadi.

Bertempat di Balai Budaya Kedubes RI di Paris, Ustaz Syarif menjelaskan berbagai peluang dan alternatif dalam beribadah yang bisa diambil dari mazhab-mazhab yang sudah diakui, seperti mazhab Syafi’i, mazhab Hambali, mazhab Hanafi, dan mazhab Maliki.

Baca juga:  Qasidah Maulid yang Biasa Dibaca di Majelis Rasulullah

“Bila di sini kita kesulitan menerapkan mazhab Syafi’i dalam beribadah, kita bisa mengambil mazhab yang lain. Inilah bukti bagaimana Islam itu banyak memberi kemudahan dalam beribadah. Jangan sampai pengetahuan kita yang kurang memadai soal alternatif-alternatif itu, membuat kita malah enggan atau tidak mau beribadah,” kata Syarif.

Dalam kesempatan itu, Syarif memberikan banyak contoh aplikatif penerapan mazhab non-Syafi’i. Salah satunya terkait salat di ruang publik. Bila tidak menemukan tempat salat yang memadai, diperbolehkan salat dijamak dan qashar. Atau, untuk kepentingan li hurmatil waqt (menghormati waktu salat), bisa salat dengan duduk. Meskipun nanti di rumah, ada pendapat yang mengatakan perlu diulang lagi salatnya dengan berdiri.

Contoh-contoh yang disampaikan Syarif, rupanya cukup mengena dan sepertinya juga dirasakan oleh sebagian besar jamaah yang hadir pada pengajian bulanan tersebut. Di akhir sesi banyak jamaah yang menyampaikan pertanyaan terkait berbagai hal dalam kaitan ibadah mereka selama di Eropa. Bahkan, Dubes RI untuk UNESCO dan Wakil Duber RI untuk Prancis juga ikut bertanya.

Baca juga:  Gus Qoyyum Lasem: Berlomba-lombalah Beramal Saleh dalam Keadaan Berat atau Ringan

Pengajian ini juga disiarkan secara langsung melalui video streaming di akun Facebook Syarif, yang ikut disaksikan oleh masyarakat Indonesia baik yang ada di Tanah Air maupun di negara-negara lain, seperti Hong Kong, Korea Selatan, New Zealand, China, Australia, dan lain-lain.

Keberadaan Syarif di Prancis saat ini dalam rangka mengikuti Research Fellowship untuk kegiatan Postdoc yang dibiayai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama hampir dua bulan, Syarif meneliti di Centre Asie du Sud-Est (CASE), EHESS Paris, Prancis, untuk meneliti fenomena siber Islam di Indonesia.

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *