Memaafkan Itu Memang Akhlak NU yang Patut Ditiru, Tapi Kali Ini Memang Sudah Keterlaluan

  • 25
  •  
  •  
  •  
    25
    Shares

DatDut.Com – Mengenai etika buruk (suul adab) yang dilakukan oleh Ahok serta tim pengacaranya kepada Kiai Ma’ruf Amin, ada yang berpendapat bahwa setiap orang apa pun kedudukan dan pangkat yang disandangnya berkedudukan sama di depan hukum.

Bisa jadi argumen semacam itu digunakan untuk meredam respon nahdliyyin pada khususnya dan sebagai justifikasi bahwa kemarahan mereka sesungguhnya tidak perlu terjadi.

Tentunya persamaan derajat di mata hukum itu adalah hal yang mutlak benar termasuk bagi seorang faqih seperti Kiai Ma’ruf Amin sekalipun. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa pernyataan tersebut ditempatkan pada konteks yang tidak tepat. Mengingat yang diprotes oleh khalayak tidak lain adalah sikap dari tersangka dan pengacaranya.

Gedung pengadilan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mengedepankan tata krama. Tata krama bekerja secara lintas batas dan tanpa sekat tempat. Bukankah kita tetap diharuskan berlaku santun kepada orang tua kita meskipun dipisahkan oleh perbedaan keyakinan?

Di antara adab yang dicontohkan oleh para ulama NU adalah memaafkan. Beberapa kasus yang pernah menjadi bahan perbicangan di dunia maya di antaranya adalah sebagai berikut:

[nextpage title=”Mbah Moen dan Ujaran “Sesat””]

Mbah Moen dan Ujaran “Sesat”

“Sesat nii orang jgn diikutin yg bginian,kcuali klo islam lo cm KTP cm diakui negara bkan Allah.kitab suci dihina kok mnta maaf slsai,goblog.dah mau msuk liang lahat aj msih keblingerr,” tulis seorang pengguna facebook, sebut saja namanya Syaibah.

Postingan itu diduga bermula dari ketidaksukaan pemilik akun terhadap respon K.H. Maimoen Zubair saat menanggapi permintaan maaf Ahok dalam kasus Al-Maidah, 51.

Saat itu Mbah Moen mengatakan bahwa sikap yang sebaiknya diambil masyarakat adalah menerimanya dan tidak membesar-besarkannya lagi. Jika amarah dapat diredam, persatuan dapat tetap dijaga, begitu pesan beliau.

Sontak status Syaibah menuai kecaman penghuni dunia maya. Permintaan maaf melalui dinding facebook-nya tidak menghentikan kecaman yang ditujukan padanya. Akhirnya, perempuan berjilbab itu meminta maaf kepada mbah Moen dengan datang langsung ke Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang.

[nextpage title=”Gus Dur dan Pak Harto”]

Gus Dur dan Pak Harto

Mungkin kita yang lahir baru-baru ini, menganggap NU sebagai organisasi yang tidak kritis kepada pemerintah. Terlebih lagi jika menghubugkannya dengan organisasi politik yang dinisbahkan orang sebagai partainya nahdliyyin, PKB, yang berada di dalam lingkaran kekuasaan eksekutif. Silakan, itu tidak dilarang.

Namun apakah Anda tahu tentang fakta bahwa pemerintah, kala itu Orde Baru, pernah berupaya keras mengintervensi NU? Peristiwa itu terjadi saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung tahun 1994. Saat itu, pemerintah berupaya menjegal Gus Dur dalam pemilihan ketua umum PBNU dengan memberikan dukungan kepada calon lain dari kubu penantang Gus Dur, Abu Hasan.

Dari 4 nama yang maju sebagai ketua umum PBNU, muncul 2 nama yang mendapat dukungan mayoritas dari para muktamirin, yakni Gus Dur dan Abu Hasan.

Bayangan kekalahan sudah di depan mata karena salah satu calon yang tersingkir yakni Chalid Mawardi hampir pasti menyumbangkan suaranya ke kubu Abu Hasan. Namun kenyataan berkata lain saat para muktamirin yang semula menjatuhkan pilihannya ke Fahmi Saifuddin akhirnya merapat ke kubu Gus Dur, sehingga kursi ketua umum PBNU kembali diduduki Gus Dur.

Baca juga:  Jangan Bangga Menang Debat dengan Wahabi!

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu, Gus Dur mengatakan bahwa figur yang dikatakannya sebagai musuh ialah Pak Harto. Namun diakuinya, saat lebaran tiba beliau kerap bersilaturahmi ke kediaman pak Harto. Jadi, artinya Gus Dur tidak menganggap pak Harto sebagai musuh.

[nextpage title=”Gus Mus dan “Bid’ah Ndasmu””]

Gus Mus dan “Bid’ah Ndasmu”

Tak biasanya Gus Mus mengalamatkan kata “bid’ah” kepada orang lain. Hal itu itu untuk menanggapi ajakan yang diprakarsai oleh GNPF MUI untuk menggelar shalat jamaah Jumat di Jl. Sudirman.

Sebagian pihak menilai hal itu sebagai sebuah gerakan yang memanggul tema politik, namun ada pula yang mendukungnya namun menyarankan untuk tidak mengadakan shalat Jumat di jalanan. Salah satunya Prof. Din Syamsuddin yang mengatakan ada baiknya Jumat digelar di Gelora Bung Karno atau Istora Senayan.

Namun ada saja yang panas hati dengan twit Gus Mus di atas. Salah satunya seorang karyawan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, panggil saja dengan Pandu. Begini bunyi twitannya :
“Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jum’at juga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid’ah ndasmu!”, dengan me-mention akun twitter Gus Mus, @gusmusgusmu.

Tak butuh waktu lama, Banser pun menyambangi tempat kerjanya untuk meminta klarifkasi. Beberapa hari kemudian, yang bersangkutan pun didampingi keluarganya menyambangi kediaman Gus Mus untuk meminta maaf.

Fajroel Rachman yang menjadi Komisaris Utama tempat Pandu bekerja pun sampai merasa perlu meminta maaf kepada Gus Mus. “Atas nama pribadi dan @AdhiKaryaBUMN saya ucapkan MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA kepada @gusmusgusmu atas ucapan tak pantas karyawan kami – FR”, begini bunyi twitan Fadjroel.

Begini respons Gus Mus di akun Facebook pribadinya, Ahmad Mustofa Bisri (Simbah Kakung), “Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan.”

[nextpage title=”Kiai Said Aqil dan Anggota DPRD Depok”]

Kiai Said Aqil dan Anggota DPRD Depok

Kiai Said.. sudah tidak terhitung berapa banyak hujatan atau hinaan yang diarahkan kepada beliau. Dan salah satu yang tercatat adalah penghinaan yang dilakukan oleh mantan anggota DPRD Kota Depok, Aceng Toha melalui akun media sosial-nya.

Aceng mem-posting berita dari sebuah situs yang memajang foto kiai Said Aqil Siradj yang isi beritanya berupa hasil telaah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU tentang shalat Jumat di jalan raya. Dalam statusnya itu Aceng memberi caption “itulah ulama duit”.

Menyikapi tindakan tersebut, Ketua PCNU Kota Depok melaporkannya ke Mapolresta Depok atas tuduhan melakukan pelanggaran terhadap UU ITE. Menindaklanjuti pelaporan tersebut, Polres Depok bersedia menjadi mediator.

Namun, akibat belum adanya berita mengenai Aceng Toha, akhirnya salah seorang pengurus NU berinisiatif untuk melakukan klarifikasi langsung kepada si terlapor, yakni Aceng Toha.

Baca juga:  Ini Kenangan 5 Tokoh tentang Gus Dur Saat Haul ke-6

Akhirnya di hadapan kiai NU dan Banser Kota Depok, yang bersangkutan mengakui kesalahannya. Dirinya juga meminta maaf kepada kiai NU, Banser dan secara khusus membuat pernyataan permintaan maaf secara tertulis kepada PBNU, K.H. Mustofa Bisri, dan seluruh warga NU.

“Karena yang bersangkutan sudah minta maaf ya kita maafkan. Ini juga jadi pelajaran buat rekan yang lainnya,”papar Ketua PCNU Kota Depok KH R Salamun Adiningrat menganggap pemintaan maaf tersebut.

[nextpage title=”Pesantren Sidogoro dan Wisnu Bagus Prabowo”]

Pesantren Sidogoro dan Wisnu Bagus Prabowo

Adalah Wisnu, lelaki yang tinggal di Jember yang dengan berani menghujat Pondok Pesantren Sidogiri di akun facebook-nya. Tentu saja, hujatan kebencian itu membuat marah santri dan alumni pondok pesantren salaf tersebut. Hujatan itu pun sempat menjadi viral sebelum akhirnya diklarifikasi di darat.

Pertemuan antara Wisnu dan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember digelar di Masjid Sunan Kalijaga, Jl. Kalimantan, Jember. Di hadapan Ketua IASS Jember Shodiq AS, M. Rosul Baidla’i dan sejumlah pengurus lainnya, Wisnu diminta agar menghapus komentar hujatan di akun facebook-nya sekaligus meminta maaf.

Wisnu pun menyanggupi tuntutan tersebut dengan menulis dan menandatangani permintan maaf di sehelai kertas yang dibubuhkan materai di atasnya. Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris GP Ansor Jember Kholidi Zaini berharap agar kasus tersebut merupakan yang terakhir terjadi. Sebab, ujaran kebencian di media sosial, apalagi sampai mengungkap aib tokoh atau organisasi, sungguh mempunyai efek degradasi sosial yang luas.

“Alhamdulillah kasus itu bisa diselesaikan secara damai dan cepat. Ansor tetap berkomitmen membela NU dan pesantren. Lebih-lebih pesantren NU seperti Sidogiri,” ucapnya kepada NU Online melalui sambungan telepon seluler.

Jadi, Anda tidak akan heran dengan keputusan Kiai Ma’ruf Amin yang dengan mudahnya memaafkan seseorang yang memiliki masalah dengan kelakuannya. Bisa jadi sebagian dari kita menganggap permintaan maaf Ahok sebagai trik politik untuk meredam amarah warga NU. Dan itu juga yang menjangkit di pikiran saya sebenarnya.

Tapi alangkah baiknya, kita tetap ber-husnudhan kepada Kiai Ma’ruf Amin. Tidak semua hal bisa diperhitungkan dengan akal saat kita berurusan dengan kehendak Tuhan.

Namun, karena apa yang dilakukan si penista ini berkali-kali dan dalam waktu berdekatan, menyerahkan ke proses hukum adalah cara paling tepat untuk menghentikan kezalimannya. Toh, dalam beberapa liputan media, Kiai Ma’ruf masih enggan ditemui si penista. Itu tentu bermakna beliau marah dan tidak suka dengan perlakuan si penista, meski tetap memaafkan.

Komentar

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me
  •  
    25
    Shares
  • 25
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *