Meluruskan Pandangan Ustaz Dadakan Soal “Pesta Seks di Surga”

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Baru-baru ini, pemirsa televisi dikagetkan dengan tayangan ceramah seorang ustaz yang mengucapkan perkataan kurang pantas diucapkan oleh seseorang, terlebih yang mengucapkan adalah seorang yang dianggap ustaz.

Petikan ucapan yang menghebohkan itu berbunyi: “… salah satu yang kita tunggu-tunggu di surga adalah pesta seks…,”  “…dan kenikmatan yang paling besar yang diberikan oleh Allah Swt. di surga, adalah pesta seks.”

Sontak ucapan tersebut mendapat kritikan dari banyak orang dan dari berbagai kalangan. Jika dicermati, pesta seks yang dimaksud oleh saudara yang sedang berbicara di televisi ini, mengandung tiga kemungkinan.

Pertama, pesta seks kepada istrinya yang menjadi istri di dunia, dan kemungkinan ini agak kurang tepat karena dari dunia sudah berstatus suami-istri, begitu juga di akhirat.

Kedua, berpesta seks dengan wanita lain yang bukan istrinya waktu di dunia. Dan ini adalah pemikiran kotor, menurut saya, yang tidak bisa diterima akal dan naql (dalil). Secara akal, hukum Islam melarang tegas perzinahan di dunia, apalagi di akhirat yang jelas waktunya pembalasan bagi para pezina.

Baca juga:  Menyedihkan! Berita Basi Soal Indomie Diangkat Lagi dan Viral hingga Dibagikan 90 Ribu Kali

Jika anda berkata, “Kan, katanya semua yang dilarang di dunia ini, nanti diperbolehkan di akhirat, termasuk hal ini?” Astaghfirullah, pemikiran yang kurang tepat menurut saya.

Untuk menjawabnya, saya justru mengajukan pertanyaan, apakah ada dalilnya tentang hal itu? Apakah ada keterangan Al-Qur’an, Hadits atau kitab-kitab ulama yang mengatakan nanti di surga bisa bergonta ganti perempuan, gonta ganti bidadari, kepuasan seks, dll.?

Itu semua hanya Allah Swt. yang mengetahui, (dan menurut saya tidak mungkin seperti itu, hanya Allah-lah yang mengetahui kepastian surga dan apa yang ada di dalamnya.)

Kemungkinan ketiga, pesta seks dengan bidadari Surga, dan ini dibantah langsung dalam Al-Qur’an dalam surah Ad-Dukhan, 54: “Demikianlah, Kami berikan (kawinkan) mereka dengan bidadari.” Juga dalam surah Ath-Thur, 20: “Dan Kami berikan (kawinkan) mereka dengan bidadari.”

Baca juga:  Elly Risman, SNSD, dan Netizen

Kata zawwajna (kawinkan) pada ayar itu, ada dua penafsiran di kalangan mufasirin. Pertama, bermakna menikah, atau dinikahkan, dan ini jelas bertentangan dengan ucapan pesta seks yang telah diucapkannya (Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir).

Muslihin, Lc.

Muslihin, Lc.

Alumni Universitas Imam Syafi'i Mukalla Hadramaut Yaman. Anggota Bahtsul Masail PCNU Kab. Grobogan. Alumni Pon Pes Al-Ma'ruf Bandungsari, Pon Pes Al-Maymun Kauman Klambu Grobogan.
Muslihin, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *