Melahirkan Normal atau Caesar?

  • 90
  •  
  •  
  •  
    90
    Shares

DatDut.Com – Bagi kebanyakan perempuan, melahirkan dengan cara normal adalah sebuah impian tersendiri. Bahkan, ada yang mengatakan jika tidak melahirkan dengan cara  normal, kita tidak akan tahu rasanya bagaimana perjuangan seorang ibu yang sesungguhnya. Sampai-sampai dikatakan tidak sempurna menjadi seorang ibu.

Dari pengalaman saya pribadi, melahirkan dengan cara normal memang sangat saya inginkan. Karena saya juga ingin merasakan, bagaimana perjuangan ibu saya dulu ketika melahirkan saya. Bagaimana beliau susah payah berjuang demi mengeluarkan saya dari rahimnya saat itu dengan normal melalui jalan lahir.

Tapi, jalan cerita hidup saya berbeda. Kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan keinginan. Ya, kan? Hamil anak pertama ini, saya harus operasi caesar.  Tak lain, karena minus mata yang sudah terlalu tinggi, yakni sembilan.

Dokter yang biasa menangani saya kontrol kandungan saat itu tidak ingin mengambil risiko, sebab jika saya tetap “ngeyel” untuk melahirkan dengan cara normal, saraf mata saya dapat rusak karena mengedan. Dan yang lebih  fatal bisa menyebabkan kebutaan.

Karena suami juga ingin saya tetap baik-baik saja,  kami memilih jalan operasi caesar. Meski sebenarnya berat, saya tetap jalani dan lalui.

Baca juga:  Miris! Eksploitasi Seksual terhadap Wanita Banyak Terjadi dalam 5 Hal Ini

Di sini saya berubah pikiran. Melahirkan normal atau pun dengan cara caesar adalah sama-sama berjuangnya. Butuh perjuangan. Keduanya berjuang mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati. Keduanya punya risiko masing-masing.

Meski masih ada segelintir orang yang mengatakan, bahwa melahirkan dengan cara normal itu lebih menyakitkan daripada caesar. Entah, mungkin saya bisa mengambil kesimpulan yang sama jika saya pernah melalui keduanya.

Yang saya tahu, ketika melalui proses operasi caesar pun ada rasa sakit-sakitnya. Sama. Pertama kita harus dipasang infus, juga selang kateter untuk membantu Buang Air Kecil (BAK) selama proses melahirkan.

Dibius sebelum operasi dan menggigil kedinginan sebab panas yang tinggi setelah operasi (ini karena pengaruh obat bius). Rasa perih sakit akibat jahitan bekas jalan lahir bayi di perut bagian bawah. Sakitnya lebih terasa ketika batuk dan tertawa.

Belum lagi setelah itu harus menyusui anak yang baru lahir, ini tidak mudah. Miring kanan, miring kiri perih-perih sakit. Kemudian bertahap, belajar duduk sampai dapat berjalan seperti biasa.

Baca juga:  Ibu Rumah Tangga Bukan Pengangguran

Saya merasakan itu. Tapi semua terbayar sudah, ketika  mendengar jerit tangis mesra anak saya yang baru lahir. Haru, juga membahagiakan sekali. Saya menjadi ibu.

Jadi, melahirkan normal atau caesar? Semua tergantung kondisi ibu hamil masing-masing. Jika memang dapat melahirkan normal, adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu. Apa yang diinginkan tercapai.

Tapi jika ada hal-hal yang mengharuskan caesar, tak masalah. Daripada membahayakan bagi ibu dan anak. Pun kita tidak pernah tahu pada akhirnya melahirkan normal atau caesar. Sebab, apa saja bisa terjadi dipenghujung penantian. Melahirkan normal atau caesar yang penting ibu dan anak sehat, akhirnya bersama menapaki kehidupan.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Windarti

Ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Terbuka.
  •  
    90
    Shares
  • 90
  •  
  •  

One thought on “Melahirkan Normal atau Caesar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close