Karamah Mbah Kiai Syafa’at, Ulama Karismatik Banyuwangi, Pendiri Pesantren Darussalam Blokagung

  • 1.6K
  •  
  •  
  •  
    1.6K
    Shares

Dibaca: 22082

Waktu Baca4 Menit, 53 Detik

DatDut.Com – Mbah Kiai Syafa’at, begitu beliau akrab dipanggil, adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Salah satu pesantren salaf semi modern di Banyuwangi.

K.H. Mukhtar Syafa’at Abdul Ghafur, lahir pada 6 maret 1919. Beliau merupakan salah satu tokoh dan ulama sepuh di Banyuwangi. Ketokohannya hanya berbeda masa dari ulama sepuh Banyuwangi sebelumnya, yaitu Mbah Kiai Abdul Manan dan Mbah Kiai Askandar. Bahkan beliau pernah mondok di Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi asuhan K.H. Abdul Manan.

Karena kondisi daerah Muncar saat itu kurang kondusif dan tidak nyaman, akhirnya Syafaat muda hanya mondok disana sekitar satu tahun. Kemudian beliau pindah ke Pesantren Tasmirit Thalabah (kini terkenal sebagai Pesantren Ibrahimy), Jalen, Genteng, asuhan K.H. Ibrahim Arsyad. Beliau ini adalah mertua dari K.H. Askandar, Berasan. Juga masih guru dari K.H. Abdul Manan.

Membicarakan kisah kiai sepuh, hal yang paling menarik selain keteladanan dan perjuangannya adalah tentang kisah karamahnya. Nah, tulisan kali ini akan menyuguhkan 5 kisah di antara sekian banyak kisah karamah Mbah Kiai Syafa’at Blokagung, yang dirangkum oleh Muhammad Fauzinudin Faiz dalam bukunya Mbah Kiai Syafaat, Bapak Patriot dan Imam Al-Ghazalinya Tanah Jawa. Kisah tersebut adalah yang dianggap paling kuat sumbernya.

[nextpage title=”1. Ada di Mekah dan di Rumah”]

1. Ada di Mekah dan di Rumah

Dikisahkan oleh K.H. Syuhada Karomi, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Sumberan, Karang Anyar, Ambulu, Jember, pada tahun 1971 Kiai Syafaat sedang haji ke Mekah. Ketika itu, salah satu tetangga yang rumahnya di sebelah barat Pondok Pesantren Blokagung bernama Muhammad Ihsan kedatangan tamu.

Seorang teman yang ingin sekali sowan kepada Mbah Kiai. Meski sudah dijelaskan bahwa Mbah Kiai baru berangkat haji beberapa minggu yang lalu, tapi tamu itu tetap bersikeras ingin sowan ke ndalem Mbah Kiai. Ia mendesak agar Bapak Ihsan mengantarkannya sowan.

Karena tamu itu tetap ngotot akhirnya ia diantar ke ndalem Mbah Kiai. Bapak Ihsan hanya mau mengantar sampai depan rumah kiai saja. Ia yakin bahwa keluarga Mbah Kiai akan mengatakan bahwa Mbah Kiai tidak ada.

Di luar dugaan, ternyata teman Bapak Ihsan tidak juga keluar hingga satu jam lamanya. Bapak Ihsan akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi tak berapa lama, temannya itu keluar dari rumah Mbah Kiai. Ia bercerita bahwa baru saja berbincang-bincang langsung dengan Mbah Kiai Syafa’at hampir 1 jam lamanya.

Baca juga:  Ini 5 Kerendahan Hati Nabi yang Harus Kamu Teladani

[nextpage title=”2. Ditanya Kesiapannya Oleh Malaikat Izrail”]

2. Ditanya Kesiapannya Oleh Malaikat Izrail

Kisah ini diperoleh dari Mbah Nuruddin, Seragi, Sumberarum, Sronggon. Hal yang sama diceritakan oleh K. Hambali, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Krajan, Umbul Rejo, Umbul sari.

Sembilan tahun sebelum wafatnya Mbah Kiai Syafa’at, beliau pernah bercerita kepada Nuruddin saat usai ngaji kitab Ihya ‘Ulumiddin bahwa pada hari Jumat pukul 06.30 WIB, beliau ditemui malaikat Izrail.

Malaikat pencabut nyawa ini menanyakan apakah Mbah Kiai Syafa’at sudah siap untuk menghadap hadirat Allah Swt. Ditanya demikian, Mbah Kiai mengatakan bahwa beliau belum siap menghadap. Hal itu karena putra pertamanya, K.H. Ahmad Hisyam Syafa’at, saat itu sedang menimba ilmu di pesantren. Beliau belum siap karena melihat keadaan Pesantren Blokagung belum siap kehilangan sosok sangat berpengaruh seperti dirinya.

Setelah wafatnya Mbah Kiai Syafa’at pada 2 Februari 1991, Nuruddin baru berani menceritakan pengalamannya kepada salah seorang temannya bernama K.H. Muhyi. Ternyata Mbah Muhyi pun mendapat kisah yang sama.

[nextpage title=”3. Membaca Pikiran dan Masa Depan”]

3. Membaca Pikiran dan Masa Depan

Tholib, adalah salah satu santri kalong (tidak menetap) yang ikut mengaji kepada Mbah Kiai Syafa’at. Ia berasal dari Sukorejo, Banyuwangi. Ketika awal-awal pernikahannya ia kebingungan dan kesusahan karena belum memiliki pekerjaan dan penghasilan. Ia bermaksud sowan dan minta arahan kepada Mbah Kiai soal keadaan hidupnya pasca menikah.

Saat di kediaman Mbah Kiai, Tholib urung mengadukan kesusahannya karena merasa kurang pantas kalau sowan hanya mengeluhkan perkara dunia. Namun tiba-tiba Mbah Kiai berkata, “Begitu saja kok bingung? Perbanyak wiridan, insyaallah tahun depan bisa naik haji.”

Sepulang dari kediaman Mbah Kiai, Tholib mengamalkan wiridan yang diijazahkan. Dan benarlah, setahun kemudian ia bisa menunaikan ibadah haji.

Pengalaman serupa juga dikisahkan oleh K.H. Mahfudz, Pasembon. Ketika sowan, seperti biasanya ia dipersilakan makan terlebih dahulu begitulah tradisi yang dicontohkan Mbah Kiai Syafa’at dalam menghormati tamu. Usai makan, Mbah Kiai berkata, “Kang Mahfudz, sampean nanti bisa berangkat haji kalau sudah memilki dua anak.” Kemudian Mbah Kiai menuliskan sesuatu di tangan kiai mahfudz. Ternyata benar, setelah kelahiran putra yang kedua, kiai mahfudz melaksanakan haji.

Baca juga:  Habib Rizieq dan K.H. Said Aqil Siradj Tak Pernah Akur Sejak 2012

[nextpage title=”4. Menjadi Tabib”]

4. Menjadi Tabib

Seorang kiai memang sering dianggap sosok serba bisa. Bukan hanya bisa mendidik santri, tapi juga bisa menjadi tabib. Menurut Mbah Hamdi dan Mbah Tarmudi, santri Blokagung angkatan keempat, Mbah Kiai Syafa’at sering diminta untuk mengobati oleh masyarakat.

Ketika mengobati orang, Mbah Kiai menulis lafadz ya’lamuna. Selanjutnya beliau menancapkan paku pada huruf ‘Ain sambil dipukul dengan palu. Sesekali pasien ditanya apakah masih sakit. Kalau masih sakit, maka paku tersebut dipukul lagi. Kalau makin parah, maka huruf mim juga ditancapi paku lalu dipukul lagi. Konon banyak pasien yang cocok dengan pengobatan tradisional ala Mbah Kiai Syafa’at ini.

[nextpage title=”5. Mbah Kiai Syafaat dan Sosok Imam Ghazali”]

5. Mbah Kiai Syafaat dan Sosok Imam Ghazali

Putra Mbah Kiai Syafa’at yang kesebelas dari pernikahannya dengan Nyai Siti Maryam, K.H. Abdul Kholiq Syafaat (Gus Kholiq). Saat Gus Kholiq kecil, suatu malam setelah isya, pernah bertanya kepada Mbah Kiai tentang sosok Imam Ghazali dalam gambar-gambar yang sering diperjualbelikan. Sosok Imam Ghazali digambarkan sebagai orang yang hanya tinggal di masjid, bertasbih panjang dan besar, berjenggot tebal, dan berjidat hitam.

Saat itu, Mbah Kiai menjawab bahwa sosok Imam al-Ghazali tidaklah seperti yang digambarkan dalam gambar-gambar yang dijual itu. “Padahal Imam Ghazali adalah sosok yan kurus, pakaiannya sederhana, ia berjenggot namun tidak setebal yang digambar, jidatnya tidak sehitam itu, dan Imam Ghazali tidak selalu berada di masjid,” terangnya.

Penuturan tersebut barangkali merupakan isyarat bahwa Mbah Kiai pernah berhadapan langsung atau bertemu lewat mimpi dengan Imam Ghazali.

0 0
Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 1.6K
    Shares