Masihkah Buku Menjadi Jendela Dunia?

  • 4
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

DatDut.Com – “Sekarang ini kan buku hanya jadi simbol gitu, ya. Di era digital ini kan sudah ada internet, orang sudah jarang yang baca buku,” kurang lebih begitulah tutur dosen saya dalam sebuah kuliah mengenai perkembangan teknologi komunikasi.

Lantas, jika memang buku kini hanyalah sebuah simbol, timbul pertanyaan besar di benak saya: Masihkah buku menjadi jendela dunia?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Namun, persepsi ini seakan gugur sedikit demi sedikit. Pendidikan kini tak melulu diidentikkan dengan buku.

Sebab, buku tak lagi menjadi satu-satunya rujukan jika seseorang ingin belajar mengenai hal baru. Orang zaman sekarang cenderung lebih memilih internet untuk mempelajari hal baru dengan cepat. Hal inilah yang menjadikan penikmat buku tak lagi sebanyak dulu.

Di era digital, orang lebih memilih mengakses internet untuk mencari tahu sesuatu daripada membaca buku diperpustakaan. Kebanyakan dari mereka berpendapat, dengan mengakses internet, mereka bisa secara langsung menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan. Hanya perlu sekali mengetik kata kunci di mesin pencari jawaban yang diinginkan akan muncul di layar.

Berbeda dengan membaca buku, orang cenderung merasa bosan karena ketika membaca harus mencermati lembar per lembar untuk menemukan jawaban mengenai suatu hal. Sehingga, semakin sedikit jumlah orang yang rutin ke toko buku untuk membeli sebuah buku cetak dan membacanya.

Bicara mengenai eksistensi buku di era digital seperti sekarang ini, ada 3 poin penting yang layak menjadi perhatian bersama. Hal penting pertama yang harus diketahui adalah fakta bahwa seiring sepinya toko buku, dan tingginya pertumbuhan konsumsi internet di Indonesia, ternyata tidak juga dapat menaikkan angka minat baca masyarakat Indonesia.

Seperti yang kita tahu, minat baca memang tidak selalu diukur dari seberapa banyak orang yang membaca buku di suatu negara. Angka minat baca dapat memperhitungkan akses terhadap perpustakaan digital dan jumlah pembaca buku elektronik atau e-book.

Menurut data yang dirilis UNESCO pada tahun 2012, angka minat baca di Indonesia hanya 0,001 yang artinya, dari 1000 orang Indonesia hanya ada satu orang yang membaca buku.

Baca juga:  Ini 5 Surat Terbuka Paling Fenomenal

Fakta yang hampir sama dikemukakan oleh Central Connecticut State University mengenai Most Littered Nation in the World pada Maret 2016, Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara. Posisi ini persis berada di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Padahal, jika dihubungkan dengan data dari Asosisasi Penyelenggara Internet Indonesia, jumlah orang yang mengakses internet pada tahun 2016 menunjukkan kenaikan yang signifikan dari 88 juta di tahun 2014 menjadi 132,7 juta di tahun 2016. Ini artinya, sejak dua tahun lalu, lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah terkoneksi internet.

Dengan tingginya angka konsumsi internet di Indonesia, tentu diharapkan masyarakat akan lebih terliterasi, karena internet dianggap mampu menggantikan peran buku dalam kehidupan manusia. Tetapi ternyata data-data ini justru memberikan gambaran yang berbeda.

Meskipun orang rutin mengakses internet, faktanya antara apa yang mereka akses dengan apa yang kita harapkan untuk mereka akses tidak sesuai. Di tahun yang sama dengan masifnya penggunaan internet di negara kita, yaitu tahun 2016, angka minat baca di Indonesia nyatanya masih saja ciut. Inilah ironi yang terjadi pada bangsa kita.

Hal kedua yang menjadi fokus saya adalah karakteristik internet yang sebenarnya tidak sebaik buku dalam meliterasi pembacanya. Sifat internet yang big data, membuat informasi dan berbagai pengetahuan yang ada di dalamnya tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan ilmu.

Semua orang bisa sesuka hati menuliskan apa saja di internet. Inilah yang membuat informasi atau pengetahuan yang kita akses lewat internet acapkali tidak valid dan susah untuk dipertanggungjawabkan.

Lain halnya dengan buku. Ketika kita membaca buku maka jelas siapa penulisnya, bagaimana latar belakang penulis, siapa penerbitnya, di mana alamatnya dan informasi mendasar lainnya mengenai identitas buku tersebut. Sehingga, sebuah buku lebih dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya ketika dijadikan rujukan ilmu atau dijadikan landasan untuk melakukan analisis mengenai suatu hal.

Maka, tak heran jika di lingkungan kampus banyak dosen yang melarang keras mengutip data dari internet dan menjadikan internet sebagai rujukan dalam menganalisis suatu fenomena. Apalagi memasukkan sumber internet ke dalam daftar pustaka sebuah jurnal penelitian.

Baca juga:  Latihan Pramuka Makan Langsung di Rumput, Ini Kata Kepala KwartirNas

Tentunya himbauan dosen kepada mahasiswanya ini merujuk pada persoalan akurasi data yang ada di internet. Karena sekali lagi, tidak semua web atau blog dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisanya, dosen akan lebih merekomendasikan buku cetak untuk dijadikan pegangan para mahasiswa.

Selanjutnya, pada poin ketiga yang sangat ingin saya soroti adalah kehadiran pemerintah dalam isu minat baca masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah patut diapresiasi, karena upaya pemerintah untuk turut mengatasi rendahnya minat baca orang Indonesia dapat kita lihat secara nyata.

Gagasan untuk menggalakkan kembali budaya baca buku ini dilakukan pemerintah dengan menetapkan hari bebas kirim buku ke seluruh pelosok negeri setiap tanggal 17 lewat pos Indonesia.

Gebrakan ini memang terbilang masih baru dan belum banyak diketahui masyarakat. Akan tetapi, adanya upaya pemerintah untuk terus meningkatkan minat baca lewat cara yang unik dan menarik seperti ini sebaiknya kita dukung. Salah satu dukungan kita adalah dengan tidak lagi meremehkan buku dan kembali membudayakan membaca buku setidaknya di lingkungan terdekat.

Internet boleh saja berkembang dengan masif di negara kita, tapi budaya literasi dengan membaca buku tak boleh terkikis dengan kehadiran internet.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip petuah Tan Malaka mengenai pentingnya kehadiran buku dalam kehidupan manusia, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka dapat dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

 

 

 

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Rofida Amalia Andini

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas UPN Yogyakarta
Rofida Amalia Andini

Latest posts by Rofida Amalia Andini (see all)

  •  
    4
    Shares
  • 4
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close