Saat Dihadapkan pada Masalah Rumah Tangga, Ini Seni dan Solusinya

  • 132
  •  
  •  
  •  
    132
    Shares

DatDut.Com – Semua pasangan yang memutuskan untuk menikah atas pilihannya sendiri pasti menginginkan kehidupan rumah tangganya damai, tentram, berkecukupan, dan adem-ayem. Namun, keinginan seperti ini ternyata tidak sesuai dengan faktanya.

Riak-riak baik yang kecil maupun yang besar pasti mewarnai bahtera yang dikayuh atas nama cinta itu. Riak inilah yang bila tidak dikelola bisa berubah menjadi kebencian antarpasangan suami istri dan kehancuran pondasi-pondasi yang dibangun dalam rumah tangga.

Hanya saja inilah sunatullahnya. Siapa yang berani menikah, ya harus berani pula menghadapi semua tantangan dan rintangan yang menghadang. Siapa yang berani menikah, ya harus berani pula menjaga keutuhan rumah tangga dan harus berani pula gagal bila keutuhan itu tidak terjaga lagi.

Masalah rumah tangga banyak macamnya, mulai masalah nafkah lahir dan nafkah batin, perselingkuhan, perbedaan pendapat dengan pasangan kita, perselisihan dengan keluarga dari pasangan kita, dan kesenjangan komunikasi.

Masalah-masalah itu datang silih berganti, tanpa tahu waktu, bahkan kadang bersamaan. Kita bahkan tidak bisa memprediksikan bagaimana masalah-masalah itu berkembang, yang tidak jarang berkembang dengan sangat pesat, padahal mulanya hanya permasalahan sepele saja.

Masalah-masalah yang disebutkan di atas dialami oleh semua rumah tangga, tak memandang status sosial, tingkat pendidikan, orang kota atau orang desa, di negara maju atau di negara berkembang, yang sudah menikah lama atau yang baru saja menikah. Berikut 5 solusi yang patut Anda coba saat punya masalah rumah tangga:

1. Butuh Kedewasaan dan Kearifan

Untuk mengatasi masalah rumah tangga, butuh kedewasaan dan kearifan luar biasa agar masalah yang muncul justru menjadi perekat rumah tangga yang sudah kehilangan vitalitasnya. Karena, bila tidak ada kedewasaan dan tidak ada kearifan di sana, tentu bukan mustahil perceraian yang tidak diinginkan akan terjadi juga.

Masalah-masalah di atas rentan sekali muncul, terutama di pasangan rumah tangga modern. Mengapa? Pasangan modern yang menuntut kedua belah pihak memiliki penghasilan, susah untuk mengesampingkan ego masing-masing.

Keduanya sama-sama mempunyai nilai tawar yang bila tidak dikelola menjadi paling tidak 51:49 akan berantakan juga rumah tangga, semapan apa pun dalam parameter-parameter yang umum, cepat atau lambat.

2. Jangan Benci Pasangan

Nasihat Nabi Muhammad berikut patut menjadi panduan bersikap dalam menyelesaikan masalah rumah tangga. Kata nabi, seorang yang beriman tidak boleh membenci pasangannya. Jika ada perilaku yang ia tidak sukai, dia bisa menyukai perilakunya yang lain.

Nasihat Nabi ini benar-benar mengandung makna yang dalam, karena memang benar tidak semua yang ada pada pasangan kita itu jelek. Faktanya, ada yang baik dan ada pula yang jelek. Jangan sampai kita memutuskan tidak menyukai pasangan kita, hanya lantaran ada sebagian perilakunya yang tidak kita sukai.

Baca juga:  Jangan Berlebihan Menyanjung Ustaz yang Lagi Tenar

Jika itu yang terjadi, penyesalan tak berkesudahan mungkin akan kita rasakan di kemudian hari. Kecuali, bila itu memang suatu kesalahan yang fatal, yang tidak dibenarkan dalam kehidupan berumah tangga baik secara norma sosial maupun norma agama, seperti melakukan kekerasan fisik dan psikis yang berlebihan atau melakukan perselingkuhan.

3. Fokuslah pada Sisi yang Disukai

Kita sering terlalu fokus pada sisi yang tidak kita sukai. Saya pribadi sering mendengar kawan di kantor berujar dengan mimik serius, “Saya mau meninggalkan istri saya. Saya mau menikah lagi dengan wanita lain.” Atau, kita juga suatu kali mendengar istri yang mengatakan, “Saya tidak mampu lagi hidup bersama dia.”

Saya biasanya bertanya pada lawan bicara saya yang berkata seperti itu, “Apa yang telah dilakukan oleh pasangan Anda?” Dia menjawab, “Tidak ada. Ya, cuma saya sudah tidak menginginkannya. Saya ingin menikah lagi!! Masih banyak, kok, yang mau sama saya. Memang ada beberapa hal yang tidak saya sukai darinya.”

Bila mampu akan saya katakan pada orang-orang yang berkata seperti itu, “Mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak,” (QS An-Nisa [4]: 19).

Atau, saya juga akan katakan, “Belum tentu bila Anda bercerai, Anda mendapatkan pasangan yang lebih baik lagi dari pasangan Anda yang sekarang. Pasangan Anda yang sekarang sudah Anda ketahui semua tabiat dan perangainya, sementara tabiat dan perangai pasangan yang mungkin akan menggantikan pasangan Anda yang sekarang, masih misteri.

Mengapa Anda tidak merenovasi saja bangunan cinta yang mungkin sudah mulai koyak? Ingat, biaya merenovasi jauh lebih murah daripada membangun dari awal kembali!”

4. Tidak Ada Pasangan yang Sempurna

Bila ada sikap dan perilaku pasangan kita yang tidak cocok dengan selera, kita mesti segera menyadari bahwa tidak ada orang yang sempurna. Tidak ada orang yang juga bisa memuaskan seratus persen keinginan pasangannya. Bahkan, Tuhan saja tidak selalu memuaskan keinginan kita. Ingat, kita ini manusia biasa dan bukan malaikat.

Kita juga masih di dunia, belum di surga. Bantu dia untuk memperbaiki apa yang tidak baik pada dirinya! Asal dia mau diingatkan akan kekurangan-kekurangannya dan mau memperbaiki diri, untuk apa kita mesti mengukuhkan ego kita? Di waktu yang lain, kita juga bersalah. Kita pun tidak selalu memuaskan keinginannya.

Lihatlah sisi baik pada pasangan kita yang mungkin memesonakan kita. Ini harus terus kita tanam dan terus kita tingkatkan! Cari suasana baru bila diperlukan. Kita juga dianjurkan untuk membuat variasi-variasi dalam kehidupan seksual kita dengan pasangan kita supaya keharmonisan tetap terjaga.

Pola komunikasi pun kita pererat kembali supaya simpul-simpul yang sudah diikat mati bisa agak longgar. Kebuntuan hati harus dicairkan dengan berbincang dari hati ke hati di suatu tempat yang mungkin mempunyai kenangan manis saat masih pacaran atau tempat yang benar-benar melepaskan kepenatan kita dalam menghadapi hidup.

Baca juga:  Ustaz, Brand, dan Diksi

5. Tidak Semua Perpisahan Jadi Solusi

Berpisah memang kadang menjadi solusi, tetapi tidak semua perpisahan menjadi solusi. Masalah yang muncul dan berkembang tidak selalu begitu saja bisa berakhir dengan perpisahan. Perpisahan bahkan tak jarang malah menjadi kerumitan tersendiri dalam hidup. Perpisahan pun kadang menjadi nestapa dan luka yang tak terpulihkan.

Berpisah bisa menjadi jalan keluar bila perpisahan dipikirkan berdasarkan atas pertimbangan yang matang, dengan kepala dingin, berdiskusi dengan pihak lain, atau bila perlu berdiskusi dengan pihak yang dianggap lebih mengetahui permasalahan, dan berdasarkan pemikiran yang cukup waktu.

Bila semua prosedur ini terpenuhi dan semuanya menggiring ke satu titik yang sama, dan itu kita yakini sepenuhnya, maka mungkin perpisahan menjadi pilihan terbaik saat itu.

Namun perlu untuk diingat, apa yang terbaik saat itu belum tentu juga terbaik untuk masa mendatang. Kita patut mempertimbangkan kembali langkah ke depan kita, sebelum keputusan final kita ambil. Jangan sampai keputusan itu justru membuat kita dipermalukan oleh keputusan yang kita ambil hanya untuk kepentingan saat itu.

Bila sudah mempunyai anak, persoalan anak juga patut dipertimbangkan. Jangan sampai pula perpisahan malah melahirkan permusuhan dan memudarkan rajutan silaturahim yang terjalin sebelumnya.

Sebaik apa pun keputusan yang kita ambil, dengan pertimbangan sematang apa pun, dan keyakinan atas kebenaran yang kita pegang, belum tentu semua itu menjamin keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang juga disukai oleh Tuhan. Untuk itu, kita juga patut mencari jawaban dari langit atas permasalahan kita.

Allah memberi mekanisme salat istikharah untuk hal ini. Salat ini ditujukan untuk mendapatkan pilihan terbaik menurut versi Allah yang memiliki kita dan mengetahui sepenuhnya apa yang terbaik untuk kita sekarang dan masa mendatang.

Hasil istikharah sendiri itu berupa ketetapan hati memilih keputusan yang kita ambil. Dan, tidak selalu hasil istikharah itu berupa mimpi atau petanda yang lain. Yang penting, hati kita yakin, itulah yang kita ambil. Harapan kita, semoga keputusan itu pula yang menjadi pilihan Allah. Maka, jangan panik bila punya masalah rumah tangga.

 

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *