Masa Memperingati Maulid Nabi Saja Bidah?

  • 5
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

DatDut.Com – Nabi terlahir dari rahim seorang ibu bernama Aminah pada bulan Rabiulawal. Kakeknya memberi nama Muhammad agar semua orang di dunia menyanjung-nyanjung namanya dan mengenangnya sebagai tokoh Islam panutan. Saat kelahirannya, semua orang senang dan bahagia menyambut kedatangannya.

Nama Muhammad yang diberikan kakeknya ini terbukti puluhan tahun kemudian. Muhammad dapat menanamkan nilai-nilai Islam di seluruh kalangan masyarakat Arab, sehingga namanya selalu dikenang hingga saat ini.

Untuk mengenang semua jasa Nabi pada Islam, hampir semua umat Islam di Indonesia merayakan hari kelahiran Nabi atau Maulid Nabi. Namun demikian, sebagian kelompok menolak perayaan Maulid Nabi.

Menurut mereka, Maulid Nabi merupakan bidah (Baca: Sahabat Nabi Juga Lakukan Bidah Kok! Ini 5 Buktinya) yang tidak boleh dilakukan. Benarkah Maulid Nabi bidah? Baca 5 argumen ini.

 

1. Maulid Nabi Tradisi Baik

Mayoritas Muslim Indonesia merayakan Maulid Nabi. Perayaan ini menggambarkan cinta umat Islam pada Nabi. Bahkan, kata maulid sudah tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Artinya, masyarakat Muslim Indonesia sudah mengenal tradisi ini (Baca: Agar Tidak Gunakan Hadis Palsu tentang Maulid Nabi, Baca 5 Uraian Ini).

Secara umum, tradisi Maulid Nabi yang dilaksanakan setiap kali memasuki bulan Rabiulawal ini, mencakup tiga tahapan. Pada tahapan pertama, biasanya masyarakat membaca biografi Nabi yang ditulis beberapa ulama.

Di antaranya kitab al-Barzanji atau Syaraful Anam karya Ja’far bin Hasan (771 H) dan kitab ad-Diba’i karya Abdurrahman bin Ali (449 H).

Setelah itu, ulama menyampaikan ceramah terkait Maulid Nabi. Dari ceramah ini, umat Muslim diharapkan menteladani gagasan-gasasan cemerlang Nabi sehingga sukses dalam berdakwah. Ceramah ini masuk pada tahapan kedua.

Pada tahap ketiga, usai ceramah, biasanya panitia Maulid Nabi menyediakan suguhan makanan untuk dimakan berjamaah. Selain itu, makanan-makanan tersebut juga didistribusikan ke fakir miskin. Bukankah semuanya ini tradisi baik yang diperintahkan Allah dan Nabi-Nya?

Baca juga:  Soal Harry Tanoe ke Pesantren, Contohlah Rasulullah dalam Hubungan dengan Non-Muslim

 

2. Kisah Abu Lahab Merdekakan Tsuwaibah di Hari Kelahiran Nabi

Umar Abdullah Kamil dalam Kalimah Hadi‘ah fil Ihtifal bil Maulid mengutip Ibnu Kasir yang menjelaskan bahwa Abu Lahab, paman Nabi, sangat senang atas kelahiran keponakannya tersebut.

Saking senangnya, dia membebaskan Tsuwaibah al-Aslamiyah dari perbudakan. Tsuwaibah al-Aslamiyah pun menjadi ibu susuan Nabi yang pertama dalam sejarah kehidupan Nabi.

Jika Tsuwaibah tidak dimerdekakan Abu Lahab, maka status anak yang disusui juga bisa menjadi budak dalam hukum Islam. Abu Lahab yang tidak percaya pada Islam saja bahagia atas kelahiran Nabi, apalagi kita sebagai umatnya!

Menurut penulis buku ini, cerita pembebasan Abu Lahab ini terekam dalam Shahih Bukhari. Bahkan, dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa Abu Lahab setiap Senin diselamatkan dari api neraka.

 

3. Nabi Puasa pada Hari Kelahirannya

Atas rasa syukur pada Allah atas kelahirannya, Nabi Muhammad Saw. selalu berpuasa di hari Senin. Diriwayatkan dari Abu Qatadah yang meceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa hari Senin.

“Puasa Senin dilakukan itu karena hari kelahiranku. Selain itu, aku mendapatkan wahyu berupa Alquran juga pada hari Senin,” jawab Rasulullah Saw. menerangkan (H.R. Muslim).

Rasa syukur pada Allah dapat diekspresikan dengan berbagai cara positif, di antaranya berpuasa. Apa yang dilakukan Rasulullah Saw. mengindikasikan bahwa puasa Senin itu berarti menghormati hari kelahiran Nabi panutan Muslim di dunia. Selain itu, hadis ini juga dapat diterapkan untuk hari kelahiran kita sendiri.

Tidak menutup kemungkinan, hadis tersebut dimaknai secara umum bahwa penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi dapat dilakukan setahun sekali. Karena hari kelahiran Nabi itu bertepatan dengan bulan Rabiulawal, yang dalam kalender hijriyah berulang satu tahun sekali.

Baca juga:  Dikit-dikit Ngomong "Tuhan Tak Perlu Dibela", Pahami Konteksnya Dong!

 

4. Menghormati Hari Kelahiran Para Nabi

Bentuk penghormatan lain mengenang kelahiran seseorang dilakukan dengan cara salat di tempat atau daerah di mana orang tersebut dilahirkan. Hal ini juga pernah dipraktikkan langsung Rasulullah Saw. atas perintah Jibril As.

Diriwayatkan dari Syidad bin Uwais bahwa Jibril memerintah Nabi salat dua rakaat di Bethlehem. Usai salat, Jibril pura-pura bertanya pada Nabi, “Nabi, di manakah tadi Anda salat?”

“Saya tidak tahu, Jibril,” jawab Nabi. “Tadi itu, Anda salat di tempat Nabi Isa dilahirkan,” jawab Jibril menghilangkan rasa penasaran Nabi (H.R. an-Nasai).

 

5. Allah Perintah Baca Salawat untuk Nabi

Selain membaca kisah kehidupan beliau, dalam Maulid Nabi juga dibacakan salawat-salawat memuji Nabi. Hal ini tentu sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran.

“Allah dan para malaikat-Nya membaca salawat dipersembahkan untuk Nabi. Karenanya, para mukmin hendaklah juga membaca salawat dan salam dipersembahkan untuk Nabi” (QS al-Ahzab [33]: 56).

Bayangkan, Allah dan malaikat-Nya saja membaca salawat untuk Nabi. Tentu, kita sebagai mukmin yang baik seharusnya melakukan perintah Allah tersebut.

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *