Karena Menjadi Mahasiswa Tak Seindah yang Ada di Sinetron, Maka Pahamilah Realitasnya

0 0
  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 300

Waktu Baca5 Menit, 0 Detik

DatDut.Com – Pada bulan Agustus ini hampir semua jalur pendaftaran masuk perguruaan tinggi sudah ditutup. Sebagian besar perguruan tinggi sudah mengantongi daftar nama mahasiswa baru yang sudah lulus ujian masuk. Setelah sebelumnya, setiap ujian masuk perguruan tinggi selalu dijejali oleh para pendaftar  terutama untuk perguruan tinggi yang masuk kategori favorit.

Seiring perkembangan pendidikan Indonesia, maka minat masyarakat untuk masuk perguruan tinggi pun ikut meningkat. Data statistik yang diunggah oleh Direktorat Pendidikan Tinggi menunjukan jumlah mahasiswa Indonesia saat ini mencapai 4 juta lebih.

Meningkatnya minat masyarakat untuk masuk perguruan tinggi tentunya dilatarbelakangi oleh motivasi yang kompleks. Motivasi terbesar yang dapat diamati adalah tertanamnya paradigma tentang pentingnya pendidikan untuk kehidupan manusia secara individu dan manusia sebagai bagian dari masyarakat.

Paradigma terkait pentingnya pendidikan kemudian memiliki turunan, misalkan saja pentingnya pendidikan untuk meningkatkan taraf ekonomi, pendidikan untuk meningkatkan strata sosial, dan pentingnya pendidikan untuk memperluas wawasan pengetahuan. Apa pun motivasi yang melandasi seseorang untuk masuk perguruan tinggi hukumnya sah-sah saja, karena sebenarya hasil akhir dari proses pendidikan yang dilalui di perguruan tinggi sangat tergantung kepada usahanya.

Hasil akhir dari pendidikan di kampus tidak akan selalu linear dengan rencana dan program studi yang diambil, karena ada banyak kemungkinan yang akan terjadi seusai lulus. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi misalkan, seorang sarjana sejarah belum tentu menjadi seorang sejarawan karena pada faktanya hanya sebagian kecil yang menjadi sejarawan dan sisanya ada yang menjadi wartawan, pengusaha, aparatur pemerintahan dan bahkan banyak juga yang jadi pengangguran.

Pada proses menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi pastinya ada tahapan-tahapan yang harus dilewati sebelum menyabet gelar sarjana. Tahap pertama adalah diterima masuk, pada tahap inilah proses transisi terjadi. Maksudnya adalah peralihan dari jenjang pendidikan yang lebih rendah ke pendidikan yang lebih tinggi.

Fase transisi ini adalah termasuk fase yang sangat sulit karena ada proses adaptasi yang harus dilakukan, adaptasi terhadap lingkungan sosial yang baru. Lingkungan sosial baru yang tidak terprediksi sebelumnya, karena ketidaksesuaian antara konsep kampus yang ada dalam alam pikiran yang terbentuk karena pengaruh media dengan realitas yang ada.

Setiap perguruan tinggi mempunyai ciri khas yang berbeda. Artinya setiap kampus memiliki perbedaan pada iklim sosialnya. Perbedaan iklim sosial inilah yang harus diketahui oleh setiap mahasiswa baru agar adaptasi terhadap lingkungan tidak berjalan sulit. Padahal, fase ini adalah tahap terpenting yang akan mempengaruhi langkah kaki seterusnya hingga lulus bahkan sampai setelah lulus.

Baca juga:  Ketika Mahasiswa Terjebak pada Gaya Hidup, Nilai, dan Tuntutan Cepat Kerja

Tahap adaptasi ini akan berimbas pada langkah-langkah selanjutnya dalam menempuh jalan terjal di kampus. Analoginya adalah langkah awal seorang mahasiswa bagaikan pondasi bangunan yang disusun di atas tanah untuk membangun rumah idaman. Rumah idaman itu adalah cita-cita yang telah direncanakan sebelum masuk kampus.

Pondasi rumah idaman didominasi oleh unsur-unsur baru yang ditemui di dalam lingkungan kampus yang disebut dengan keadalan sosial kemasyarakat. Mahasiswa baru harus mulai mengetahui kondisi budaya, politik, dan ekonomi yang telah mapan di lingkungan kampus. Informasi tentang kondisi-kondisi itu bisa didapatkan dengan mencari informasi langsung kepada masyarakat yang sudah lebih duluan tinggal misalkan, kepada mahasiswa lama, dosen, dan pegawai.

Sejauh pengalaman penulis sangat kecil kemungkinan masyarakat kampus non-mahasiswa bisa memberikan pengetahuan tentang iklim kampus secara komperhensif, karena interkasi dengan non-mahasiswa sangat terbatas artinya pengetahuan tentang kampus akan sangat mudah didapatkan melalui mahasiswa lama.

Mahasiswa lama sebagai kalangan yang sudah lebih dahulu mengenyam rasa pahit asam garam lebih tahu dan lebih mudah untuk dijadikan narasumber tentang pengetahuan kondisi sosial kemasyarakatan di kampus. Sebagian mahasiswa lama pada setiap momen penerimaan dan masa orientasi mahasiswa baru akan dengan senang hati menyambut “adik-adiknya” , karena sebagai mahasiswa lama tentunya memiliki motivasi tersendiri sama dengan mahasiswa baru yang masuk kampus.

Motivasi mahasiswa lama inilah yang juga harus diketahui oleh mahasiswa baru sebelum menggali informasi darinya agar tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Motivasi mahasiswa lama juga sangat beragam. Meskipun secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu, motivasi individu dan motivasi kelompok. Motivasi pribadi adalah misi terselubung yang ditujukan pada mahasiswa baru. Misi terselubung ini sulit untuk dipahami, namun setidaknya sebagai mahasiswa baru harus cermat membaca gerak-geriknya.

Kedua adalah motivasi kelompok. Motivasi ini sangat berkaitan erat dengan komunitas, organisasi atau apa pun itu yang melibatkan orang banyak. Motivasi kelompok mempunyai misi yang sangat mendasar yaitu, misi perekrutan menjadi bagian dari anggotanya. Baik motivasi pribadi atau motivasi kelompok kedua-duanya harus diketahui dengan cermat karena keduanya akan memberikan efek langsung pada berlangsungnya proses pendidikan di kampus bisa saja berdampak positif ataupun negatif.

Baca juga:  Ini Pesan Heroik Panglima TNI Gatot Nurmantyo pada Kuliah Kebangsaan di UIN Jakarta

Mahasiswa baru diharuskan agar aktif dan kritis dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak boleh pasif dengan mengonsumsi informasi mentah-mentah. Informasi yang diterima harus dicari kebenarannya, karena pada masa adaptasi mahasiswa baru sangat rentan terkena penyakit apatis.

Penyakit ini adalah penyakit yang berbahaya karena bisa mengubur cita-cita yang telah digantung tinggi. Penyakit apatis adalah penyakit yang timbul karena kegagalan memahami realitas kampus, kegagalan ini diakibatkan karena ketidakcermatan dalam mengonsumsi pengetahuan tentang kampus.

Nah, sampai sejauh ini sudahkah mulai timbul pikiran betapa sulitnya menjadi mahasiswa baru? Harusnya sudah, karena memang kuliah tidak semudah yang digambarkan oleh sinetron di televisi. Ada banyak persoalan yang harus dijawab.

Menjadi bagian dari mahasiswa pengidap penyakit apatis sangat tidak menguntungkan karena mahasiswa apatis adalah golongan yang tidak memperdulikan kondisi sekitarnya yang pada akhirnya golongan ini juga tidak akan diperdulikan oleh golongan mahasiswa yang sehat. Ibarat manusia yang, hidup enggan mati tak mau. Dampak jangka panjangnya adalah pengidap penyakit ini hanya akan menambah daftar pengangguran Indonesia.

Menjadi bagian dari kalangan terdidik bukanlah hal yang mudah, melainkan harus ada usaha keras yang dilakukan. Kampus sebagai tempat menuntut ilmu juga bukan jalan lurus dengan permukaan yang rata. Kampus ibarat jalan berliku dan terjal yang harus dilewati oleh seorang mahasiswa. Bukan hanya gelar kesarjanaan yang menjadi target utama dari seorang mahasiswa sebagai tunas bangsa melainkan ada hal lain yang tidak kalah penting dari selembar ijazah yaitu, ilmu pengetahuan yang luas dan bisa bermanfaat untuk kehidupan masyarakat.

Proses untuk menggapai semua yang dicita-citakan tergantung pondasi yang dibangun. Dunia kampus yang terjal bukan untuk diacuhkan, namun untuk dipelajari. Menjadi mahasiswa berarti menjadi bagian dari manusia yang bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, karena mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change).

 

 

 

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Irvan Hidayat

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *