Mahasiswa dan Media Sosial

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Mungkin Anda sebagai pembaca sudah bosan mendengar, membaca atau membicarakan persoalan mahasiswa dengan segala seluk beluknya.

Bisa jadi Anda sudah tahu banyak tentang dunia mahasiswa sehingga tidak butuh lagi terhadap informasi perihal ini, atau Anda mungkin tidak ingin tahu apa pun tentang seluk-beluk mahasiswa karena Anda terlalu sibuk membangun image di sosial media.

Apa pun itu selama kita masih menjabat sebagai mahasiswa dan kelak akan lulus dengan predikat cumlaude harus tetap up to date dengan perkembangan dunia mahasiswa. Predikat cumlaude saja tidak cukup, Bung! Karena tidak ada yang menjamin predikat itu bisa merubah dunia. Di luar sana banyak orang yang lebih hebat dari itu.

Saya sebagai penulis hanya ingin membagi informasi kepada Anda bahwa hari ini kita disibukan dengan dunia yang lain yaitu dunia maya. Pasti Anda sekarang mulai menggerutu karena informasi itu sudah bukan hal yang menarik dan Anda benar saya hanya memberikan informasi yang sudah basi.

Tapi tunggu! Apa kita sadar yang dilakukan di dunia maya itu terkadang berlebihan? Di sana kita terbuai oleh ilusi. Ilusi itu tercipta dari unggahan foto, video, dan tulisan, seolah-olah kita sedang menghadapi kenyataan sama seperti unggahan-unggahan itu. Padahal kita hanya sedang berhadapan dengan benda hasil rekonstruksi si pengunggah.

Karena kita terjebak ilusi maka terpancing untuk ikut mengunggah foto, video dan tulisan yang seolah-olah mewakili kegiatan dan perasaan yang sedang dialami, padahal tidak lebih dari reka ulang adegan dan edit sana-sini.

Memang dunia maya sana menawarkan kebebasan berekspresi tanpa harus takut dijustifikasi, tapi sayang dunia itulah yang akhir-akhir ini membuat nilai-nilai kemanusiaan semakin tidak dihargai.

Lantas kenapa harus mahasiswa yang di ketengahkan dalam tulisan ini? Karena bisa dipastikan mahasiswa adalah salah satu golongan masyarakat yang paling banyak hidup di dunia maya. Di sisi lain mahasiswa masih dipercaya sebagai agen perubahan.

Jika asumsi yang ada seperti itu, maka mahasiswa sangat berpengaruh terhadap dunia maya. Bagaimana pengaruh mahasiswa sejauh ini di dunia maya?

Pengaruh mahasiswa baik secara individu maupun golongan jauh tertinggal oleh akun, toko online, selebritis, organisasi kemasyarakatan (ormas) dan akun-akun hits lainnya.

Kita mengakui akun-akun tersebut jumlahnya sangat banyak dan durasi unggahannya pun cepat serta yang sekarang sedang marak terjadi banyak akun-akun yang memuat postingan bernada provokasi satu dengan yang lainnya.

Di dunia maya sekarang ini mahasiswa terlihat begitu lemah pengaruhnya. Jumlah akun pribadi yang begitu banyak tidak berbanding lurus dengan pengaruh positif yang diberikan dan diperparah oleh akun golongan yang tidak produktif.

Baca juga:  Dai Ini Meraih Gelar Doktor setelah Meneliti Ekspansi Ajaran Salafi

Akun golongan yang mengatasnamakan mahasiswa kalah bersaing dengan akun toko online, akun selebritis dan akun-akun politik. Yang seharusnya terjadi adalah mahasiswa sebagai agen perubahan banyak berkontribusi dengan membentuk iklim dunia maya yang konstruktif.

Iklim dunia maya yang konstruktif tidak mustahil dibentuk. Coba lihat saja akun-akun jual beli dan akun politik membentuk iklim itu. Mereka dengan mudah membentuk iklim yang diinginkan. Misalkan akun jual-beli membentuk iklim konsumtif pada masyarakat atau akun politik yang menggiring opini sesuai kemauannya.

Sampai di sini dunia kemahasiswaan kita tidak memberikan pengaruh yang kuat terhadap masyarakat dunia maya sebab tergilas oleh akun-akun yang lain. Kita sebagai mahasiswa malah terjebak di dalam liarnya dunia maya, tidak ada inovasi yang ditawarkan oleh si agen perubahan ini.

Sadar atau tidak kita malah disibukan oleh kepentingan eksistensi semata dan meniadakan esensi. Belum lagi generasi kita yang katanya generasi milineal ini hidup di atas bumi yang diatur sedemikian rupa oleh manusia yang haus kekuasaan dan menjelma menjadi beragam macam jenis ada yang kapilatis, sosialis, komunis, neo-kapitalis, agamis dan yang lainnya.

Lalu, bagaimanakah membentuk iklim media yang konstruktif? Negara ini adalah negara hukum dengan tipe politik demokrasi, kedua-duanya harus selaras. Hukum negara kita terbentuk melalui proses yang panjang dan dibentuk oleh kesepakatan umum, karena hal itulah semua orang berada pada posisi yang sama di mata hukum (equality of law).

Sistem politik demokrasi memberikan kebebasan dalam berpendapat, berserikat dan berekspresi yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam membangun masyarakat yang sejahtera.

Kedua hal tersebut sekarang tengah mengalami krisis, hukum sulit ditegakan dan demokrasi malah dimanipulasi. Di sinilah seharusnya mahasiswa mengambil peran sebagai agen penegak hukum yang adil.

Penegakan hukum tidak melulu bersifat represif, karena hukum akan lebih baik jika pencegahan lebih diutamakan.

Untuk hukum di wilayah dunia maya negara kita mempunyai undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur dan menetapkan hukuman bergaul di dunia maya dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial yang bisa dijadikan landasan hukum.

Penerapan terhadap hukum dan demokrasi tidak terlalu sulit untuk mahasiswa dikarenakan mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sudah paham kedua hal itu karena faktor pendidikan yang dijalaninya secara das sollen seperti itu, sekalipun ada yang tidak paham itu adalah pengecualian.

Baca juga:  This or That, Antara Narsis atau Takut dibilang Kudet

Teknisnya bisa bermacam-macam namun yang terpenting nafas dari penegakan hukumnya tidak hilang. Peran seperti ini dirasa semakin penting disaat masalah klasik yaitu masalah perbedaan pandangan politik dan SARA kembali meletus setahun belakangan.

Oknum penegak hukum dan pemerintah yang terlibat dalam pertikaian politik ini semakin menambah penting peran dari mahasiswa, saat rakyat tidak percaya lagi dengan penegak hukumnya maka mahasiswa bisa berperan sebagai media rekonsiliasi diantara mereka.

Mengapa mahasiswa harus memberikan pengaruh positif di dunia maya atau media sosial? Alasannya adalah tidak lain karena dampak dari media sosial begitu besar terhadap dunia nyata. Kedua dunia ini tidak bisa dipisahkan ibarat dua sisi mata uang.

Kejadian di dunia nyata akan langsung berhubungan dengan dunia maya dan begitupun sebaliknya. Dampak media sosial semakin besar karena jumlah penggunanya yang sangat banyak dan terus bertembah setiap harinya. Berbagai informasi bisa langsung tersebar dengan cepat.

Efek bombastis dari dari media sosial sangat terasa. Media sosial dijadikan sebagai sumber informasi dari banyak hal, dari mulai hal yang sepele sampai yang super serius.

Media sosial bisa menjadi sumber kebaikan dan sumber keburukan sekaligus, yang paling kentara sekarang ini adalah media sosial yang alakadarnya sering dijadikan patokan dalam menggali pengetahuan yang seringkali keliru karena sumber data yang tidak jelas dan komprehensif.

Orang-orang sekarang kadang merasa cukup mendapat informasi dari media sosial dan menjadikannya sebagai sebuah kebenaran tanpa melakukan pengecekan ulang dan analisis terhadap sumber yang komprehensif.

Masih banyak lagi hal yang harus diperbincangkan tentang media sosial dan peran mahasiswa di dalamnya, sayangnya tempat ini tidak cukup untuk itu. Namun yang menjadi catatan terpenting adalah mahasiswa harus sadar akan perannya di mana pun dia berada. Jangan sampai kita sendirilah yang mengkhianati peran dari mahasiswa itu sendiri.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Irvan Hidayat

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora 2016 dan mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Irvan Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close