Ketika Mahasiswa Terjebak pada Gaya Hidup, Nilai, dan Tuntutan Cepat Kerja

  • 122
  •  
  •  
  •  
    122
    Shares

DatDut.Com – Era mandulnya peran mahasiswa memang sedang berjalan saat ini. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang dikenal sebagai generasi mahasiswa yang aktif, peka, dan selalu menjadi pemeran utama dalam perjuangan rakyat.

Menurut catatan sejarah, mahasiswa atau umumnya kaum muda adalah kelompok yang mempelopori lahirnya gerakan nasional yang menjadi cikal bakal terbentuknya negara ini. Selain itu, mahasiswa selalu berperan aktif dalam mengawasi kinerja pemerintah sesuai dengan zamannya.

Pada zaman Orde Lama, mahasiswa dengan tekad yang kuat dan semangat mengabdi kepada masyarakat berhasil menurunkan Presiden Soekarno melalui aksi demonstrasi dengan tuntutan Trituranya yaitu, pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet Dwikora, dan turunkan harga sembako. Tuntutan Tritura ini berujung pada dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang manandai beralihnya tampuk kePresidenan dari Soekarno dan Soeharto.

Pada era selanjutnya, setelah 30 tahun lebih Soeharto bertahta di singgasana Presiden tepat tanggal 21 Mei 1998, mahasiswa sebagai pemeran utama berhasil menurunkan dengan paksa presiden yang berkuasa sekian lama. Ini menandakan betapa hebatnya mahasiswa karena bisa menjatuhkan sekaligus mengangkat presiden kemudian menjatuhkannya lagi.

Tapi kehebatan itu kini tinggal cerita yang terus disambung dari mulut ke-mulut atau lewat cataan di buku-buku sejarah saja. Tidak ada lagi jejak nyata yang diwariskan kepada mahasiswa sekarang.

Mahasiswa di zaman sekarang ini adalah tuan-tuan tanah yang tinggal memetik hasil panen yang pohonnya telah ditanam oleh generasi mahasiswa sebelumnya. Mengapa begitu? Sebut saja generasi mahasiswa sebelum kita dengan kata senior. Senior kita di era Orde Lama dan Orde Baru adalah generasi yang terhitung berhasil memainkan perannya sebagai agent of change. Mereka telah berhasil mengubah tatanan masyarakat yang buruk kepada yang lebih baik. Berkat mereka kita bisa merasakan demokrasi yang sesungguhnya.

Mahasiswa zaman ini juga tidak banyak berbuat. Mahasiswa generasi ini tenggelam dalam telaga tipudaya kehidupan hedonis dan tidak lagi kritis. Mereka cenderung pragmatis karena pola pikirnya yang simpel yaitu hanya seputar, kuliah, kerja kemudian menikah dan lantas bisa hidup kaya dengan keluarganya.

Baca juga:  Mahasiswa dan Media Sosial

Nasib bangsanya tidak lagi jadi fokus utama. Pendidikan tinggi bukannya membuat mereka menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain, melainkan membuatnya semakin jauh dari sifat manusia dan malah mendekati sifat iblis yang jahat.

Mahasiswa generasi ini telah keasikan dengan sistem zaman yang serba enak dan instan. Tidak ada lagi gelora perjuangan yang menyala seperti dahulu. Mereka hanya berpacu dalam prestasi demi mancapai predikat cumlaude atau menjadi mahasiswa terbaik, karena dengan prestasinya itu, maka kedudukannya akan tinggi dan akan lebih mudah untuk mencari kerja.

Dengan obsesinya untuk menjadi yang terbaik, maka yang terjadi, mereka diperbudak oleh nilai sehingga cara apa pun akan ditempuh tak peduli benar atau salah. Tidak ada lagi jiwa muda yang tulus yang rela tidak dihargai nilai tinggi yang bersedia mengorbankan sebagian hidupnya untuk kepentingan rakyat.

Akal sehat mereka terpenjara oleh nafsu iblis yang seolah itu adalah sebuah kebenaran. Alasannya semua aktivitas manusia terseret ke pusaran ekonomi. Semua yang dilakukan pasti ujung-ujungnya karena uang.

Coba kita akui bersama hal apa sajakah yang sudah kita perbuat di kampus, selain duduk manis di kelas sembari main gadget, mendengarkan dosen ceramah, nongkrong, main play station, baca buku, diskusi. Mungkin hanya itu-itu saja.

Pernahkah kita perhatikan warga sekitar kampus kita yang kurang mampu dalam hal ekonomi? Sangat kecil kemungkinan. Lantas di mana tanggung jawab kita yang diberi gelar “maha”, atau itu hanya isapan jempol belaka karena memang sebenarnya banyak mahasiswa yang masih bermental siswa atau yang parah lagi bermental anak TK, yang sukanya cuma senang-senang saja.

Baca juga:  Kamu Mahasiswa? Perhatikan 5 Etika Ber-SMS atau Mem-WA Dosen

Mahasiswa sekarang benar-benar sudah kehilangan elan vitalnya mahasiswa sekarang. Ini ditambah lagi dengan sistem pendidikan yang memang memaksa mahasiswa untuk jadi seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, selalu nurut apa kata majikannya dalam hal ini pemerintah.

Mungkin senior-senior kita tak habis pikir jika adik-adiknya jadi seperti ini. Mungkin mereka geram dengan kelakuan kita, namun apa daya otot-otot mereka sudah mengkerut dan tulang mereka mulai rapuh. Tidak ada daya dan upaya. Yang ada hanya tangis sendu dan menyesali perjuangannya dahulu. Hingga tulisan pendek ini rampung ditulis, saya kira mahasiswa generasi ini akan tetap begini. Mereka lupa akan perannya sebagai bagian yang diandalkan.

Mereka terlanjur asik dan enggan hengkang dari zona nyamannya. Mereka hanya sibuk mencari prestasi dan jabatannya tinggi. Keberanian mereka mati terkubur. Yang hidup hanyalah ketakutan. Padahal masyarakat benar-benar membutuhkan sumbangan ide-ide dan tenaga mahasiswa, karena memang merekalah yang punya ilmunya.

Jika setelah membaca tulisan ini masih tidak ada keinginan untuk berubah, lebih baik gugurkan saja gelar mahasiswamu. Atau masuk perguruan tinggi tanpa sepengetahuan orang lain agar nanti tidak ada yang tahu kalau kamu mahasiswa. Namun kalau tulisan ini dianggap sebagai lelucon belaka, saya percaya yang membaca adalah bagian dari generasi mahasiswa yang tak berbudi, karena tak memahami perannya sebagai aktor utama pengabdi masyarakat.

 

 

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Irvan Hidayat

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora 2016 dan mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Irvan Hidayat
  •  
    122
    Shares
  • 122
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close