Mahar Cinta yang Tak Lunas

  • 20
  •  
  •  
  •  
    20
    Shares

DatDut.Com – Kutatap bayangan seseorang di cermin. Dia mengenakan jas hitam. Kepalanya tertutup rapih dengan songkok hitam berukuran 7. Hidungnya terlihat cukup mancung.

Wajahnya tampak lebih bersih dari biasanya. Dia tampan,  sangat tampan. Tapi matanya, siapapun yang menatap sepasang mata itu, akan tahu kalau tak ada apa pun di sana, hanya kehampaan, kekosongan. Bayangan itu adalah aku, sepasang mata itu adalah milikku.

Saat ini aku berada di kamarku yang telah dihias sedemikian rupa. Aroma harum bunga menusuk hidung. Ini adalah kamar pengantinku. Aku duduk di sisi ranjang, menatap pintu kamar yang tertutup rapat tepat di belakangku.

Dari luar kamar terdengar suara riuh. Riuh karena orang-orang di luar sana sedang sibuk menyiapkan tetek-bengek keperluan prosesi akad nikah yang akan diadakan begitu calon istriku dan keluarganya yang saat ini masih dalam perjalanan tiba dari kota Atlas.

Namanya Maria. Wanita yang akan jadi pendampingku. Tak banyak yang kutahu tentangnya, kecuali dia adalah putri teman kiaiku. Dia sarjana lulusan UIN Walisongo. Jurusan, bahkan aku lupa jurusannya.

Dia wanita yang baik menurut kiaiku, dan cerdas kata bu nyaiku. Selebihnya aku tak tahu apa-apa. Aku dan dia bertemu tiga kali sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengannya setelah kiaiku memintaku. Lebih tepatnya memaksaku.

“Aku tak begitu mengenal Maria, Yai” ujarku sebulan yang lalu, ketika kiaiku menyampaikan permintaannya padaku untuk menikah dengannya.

“Kalian akan punya waktu untuk saling mengenal setelah menikah. Abah mengenalnya, Zam. Dia adalah wanita yang baik jika itu yang kau khawatirkan, lagi pula tak mungkin Abah menginginkan kamu menikah dengan wanita tidak jelas, iya kan?”

Aku bergeming.

“Abah tak pernah meminta apa

Baca juga:  Utari - Bagian 1

pun padamu, tapi kali ini Abah minta, kalau perlu Abah mohon, menikahlah dengan Maria” Ujar Abah dengan kening berkerut dan nada suara lembut.

Aku bisa apa kalau abah sudah begitu, keinginan terbesarku adalah tak ingin membuat abah kecewa. Dan jika tidak menikah dengan Maria akan membuat beliau kecewa, maka aku tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan mereka, menikah dengan Maria.

Aku kira Maria juga akan merasa keberatan dengan pernikahan yang kiaiku rencanakan, tapi ternyata tidak. Dia malah bilang merasa beruntung dengan perjodohan ini.

“Kau tahu? Kurasa aku akan tetap memilih untuk kaupinang seandainya kiaimu tak menjodohkan kita,” ujarnya sedikit malu ketika kami berbicara lewat ponsel beberapa minggu yang lalu.

Pintu tiba-tiba terbuka lalu tertutup lagi, mebuyarkan lamunanku. Aku berbalik. Dia di sana menatapku, aku terpaku. Tubuhnya yang kecil dan imut bersandar ke pintu.

“Kau…kau cantik sekali.”

Aku berdiri. Jantungku berdetak lebih cepat dan selalu begitu setiap kali aku bersama wanita di hadapanku ini. Wanita yang kukenal seumur hidupku. Temanku sekaligus seseorang yang kucintai tanpa berani mengatakan kepadanya. Zhafira.

“Ada apa, Zhaf?”

Aku terkejut mendapati suaraku tak kalah serak.

Zhafira menghampiriku. Sekarang kami berhadapan. Jarak kami sangat dekat. Aku menatap matanya yang seakan-akan mengisyaratkan suatu hal.

“Aku hanya….”

Suaranya tercekat, matanya berkaca-kaca. Sebelum aku menyadarinya, tanganku telah berada di pipinya. Dadaku mulai sesak. Kami bertatapan. “Aku tidak menyangka rasanya akan sesakit ini,” bisiknya.

Aku terperanjat ketika kurasakan sesuatu menarik tanganku, dan melingkarkannya di pinggangnya. Tangan Zhafira. Ya, tangan Zhafira telah menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya, menarikku lebih merapat ke tubuhnya.

“Kumohon lakukan ini, sekali saja, untuk pertama dan terakhirnya.”

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) - Bagian 1

Bibirku bergerak, ingin berbicara tapi tak ada suara yang keluar dan seketika aku mendaratkan bibirku pada keningnya.

Aku memejamkan mata, mencoba memahami semuanya, Semua yang tak pernah kami bicarakan, tapi aku dan Zhafira tahu sesuatu itu ada. Sesuatu yang selama ini aku dan Zhafira hindari, namun tak pernah pergi malah semakin tumbuh, berdenyut dalam dada kami. Tanganku tetap terkulai di sisi tubuhnya. Aku gemetar. Bibirku mulai bergetar.

Selama beberapa waktu kami tetap seperti itu, tangan Zhafira di pinggangku dan keningnya di bibirku. Andai jarum jam lupa cara bergerak dan waktu membeku di detik ini, waktu berhenti saat ini, aku tak akan pernah menyesal.

Aku melepaskan Zhafira. Begitu aku membuka mata, Zhafira telah berada dalam jarak satu langkah dariku, dan kulihat pipinya basah.

“Maafkan aku.”

Suaranya bergetar.

“Hapus air matamu Zam.”

Zhafira juga melakukan hal yang ia perintahkan padaku, menghapus air matanya. Dia lalu berbalik dan sebelum memutar ganggang pintu dia berkata.

“Semoga kau bahagia.”

Kemudian pintu terbuka, tertutup dan tak ada lagi Zhafira di hadapanku. Aku mencoba mengingat dan mencerna apa yang baru saja terjadi. Tanpa bisa kutahan, aku menangis tergugu. Air mataku menganak sungai membasahi pipi. Dan di sini, saat ini di kamar pengantinku yang penuh bunga, aku menyadari ada sesuatu yang membuatku ngilu, sakit. Dan aku tahu, aku akan menjalani hari esokku dengan sakit ini di dadaku.

Komentar

Zamachsyari Chawarazmi

Zamachsyari Chawarazmi

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2018
Zamachsyari Chawarazmi

Latest posts by Zamachsyari Chawarazmi (see all)

  •  
    20
    Shares
  • 20
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *