Ust. Luthfi Bashori, Imam Besar Situs NU Garis Lurus, Bedah 5 Fakta Hubungan Keduanya Hanya di Sini!

  • 69
  •  
  •  
  •  
    69
    Shares

DatDut.Com – Tokoh ini masih terbilang muda. Umurnya mendekati 50-an tahun. Namun kiprahnya dalam menyebarkan dakwah Islam dengan segala lika-likunya telah banyak menarik perhatian. Lebih menarik lagi ketika kemunculan situs NU Garis Lurus (NUGL) dengan segala ulahnya tak pernah lepas membawa-bawa Kiai Luthfi sebagai Imam Besarnya.

Lahir di Singosari, Malang, 5 juli 1965, sebagai anak ke-9 dari 11 bersaudara, Luthfi menempuh pendidikan formal hingga SMP (1982). Selanjutnya putra dari K.H. M. Bashori Alwi dan Hj. Qomariyah ini masuk ke Pesantren Darut Tauhid Malang asuhan Ust. Abdullah Awadl Abdun. Ternyata Pesantren Darut Tauhid adalah pintu gerbang yang mengantarkannya berguru kepada Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani (alm).

Selama belajar kepada Sayyid Muhammad, Luthfi Bashori termasuk santri yang dekat dan tekun mengabdi pada sang guru. Baginya, dalam menuntut ilmu selain belajar haruslah mengutamakan ikhlas mengabdi. Selama 8 tahun (1983-1991) ia pernah mengabdikan diri sebagai pelayan para tamu Sayyid Muhammad. Menyuguhkan teh hijau dan kopi arab. Ketika tahun 1987 ia mengikuti perintah Sayyid Muhammad untuk pindah ke Mekah, ia bertugas sebagai katib (juru tulis) Sayyid Muhammad.

Menelusuri biografi dan sepak terjang dakwahnya, banyak hal yang mengagumkan untuk diungkap. Belum lagi terkait keberadaan situs dan kelompok NUGL yang memasyhurkan gelar Imam Besar kepada dirinya. Mari kita telusuri 5 fakta berikut ini, bersumber dari profilnya dalam situs resmi pejuang Islam, dan penelusuran IPNU-IPPNU Brawijaya:

[nextpage title=”1. Garis Nasab Harus Ditelusuri Sendiri”]

1. Garis Nasab Harus Ditelusuri Sendiri

Ketika Luthfi muda hendak kembali dari Mekah ke Indonesia, ia mendapat pesan dari Sayyid Muhammad agar menelusuri garis keturunannya. Memang, sejak semula Luthfi tidak begitu mempedulikan tentang garis nasab. Ketika ia bertanya kepada K.H. Bashori tidak didapatnya jawaban yang memuaskan. Dari para bibi jalur ayah, ia dapati informasi bahwa keluarga ayahnya merupakan keturunan Adipati Omben dari Madura.

Demi melaksanakan pesan Sayyid Muhammad, ia pun pergi ke Madura. Di sana ia mendapat banyak informasi dari tokoh daerah Omben, K.H. Khalil Thayyib dan Ust. Jazuli. Adipati Omben sejatinya bernama Syarif Husain. Ayahnya bernama Maulana Ibrahim yang masyhur dengan nama Sunan Dalem. Maulana Ibrahim ini adalah putra Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo.

Secara singkat, hasil penelusuran tersebut menemukan jalur nasab sebagai berikut: Luthfi bin K.H. Bashori (Pendiri dan Pengasuh pertama PIQ SIngosari, Pendiri Jam’iyatul Qurro’ wal Huffadz) bin Kiai Alwi bin Buyut Murtadla bin Datuk Abdurrahim bin Alwi (Agus Matal) bin Datuk Yusuf Qadir bin Datuk Hasan (Bujuk Raddin) bin Syarif Husain (Adipati Omben/Bujuk Rokem).

[nextpage title=”2. Hubungan dengan 3 Tokoh”]

2. Hubungan dengan 3 Tokoh

Sejak kepulangannya dari Mekah tahun 1991, Ust. Luthfi Bashori menegaskan ciri khasnya dalam berdakwah. Tegas, lugas, keras, teguh dengan prinsip dan keyakinan, namun juga sejuk, lembut dan komunikatif. Ia tegas menentang aliran-aliran seperti Syiah, Wahabi, Liberal, Manunggaling Kawulo Gusti, Sinkretisme (pencampuran agama) dan berbagai ritual yang bertentangan dengan syariat. Dalam beberapa masalah, ia berseberangan dengan tokoh NU lainnya seperti Gus Dur.

Baca juga:  Ini 5 Sahabat Nabi yang Wafat Hari Jumat

Ust. Luthfi Bashori pernah dekat dengan beberapa orang dari kelompok garis keras. Ust. Ja’far bin Thalib (Pendiri Laskar Jihad), Ust. Abu Bakar Ba’asyir (Majelis Mujahidin Indonesia), dan Habib Rizieq Shihab (Pendiri FPI). Ketiga tokoh tersebut, menurut Ust. Luthfi saat diwawancarai IPNU Universitas Brawijaya, merupakan incaran Amerika. Terlebih setelah peristiwa Bom Bali. Bahkan Ust. Luthfi terkena imbasnya hingga termasuk dalam pengawasan aparat.

Kedekatan itu bukan berarti kesamaan pemahaman. Namun lebih pada kesamaan ide dan perjuangan. Ust. Luthfi pernah seide dengan Ust. Ja’far menentang adanya presiden wanita (Megawati), meskipun sebenarnya Ust. Ja’far cenderung Wahabi dan pernah mengkritik Sayyid Muhammad, guru Ust. Luthfi.

Kedekatan dengan Ust. Abu Bakar Ba’asyir yang cenderung ke al-Irsyad, karena dirinya sering dijadikan tempat rujukan konsultasi para anggota MMI. Sedangkan hubungan dengan Habib Rizieq adalah karena keduanya bersahabat sejak sama-sama belajar di Mekah. Habib rizieq sendiri dalam akidah dan amliyah sama dengan umumnya warga NU.

[nextpage title=”3. Aktifis Lintas Organisasi”]

3. Aktifis Lintas Organisasi

Ust. Luthfi Bashori merupakan orang yang terbuka dalam menerima ajakan dakwah. Ia tidak memandang perbedaan latar belakang organisasi dan kultur. Sehingga dalam perjalanan dakwah bidang keorganisasian, berbagai organisasi yang notabene non-NU, banyak yang ia aktif di dalamnya, bahkan mengemban jabatan penting.

Beberapa organisasi yang ia turut serta antara lain: ketua FORMAIS (Forum Masyarakat Islam Singosari), anggota FUUI (Forum Ulama Umat Indonesia) Bandung, penasehat MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) Pusat, komisi fatwa MUI kabupaten Malang, penasehat FPI (Front Pembela Islam)  Jatim, penasehat FSPS (Forum Silaturahim Peduli Syariat) se-Malang Raya, penasehat FKRM (Forum Komunikasi Remaja Masjid) kabupaten Malang, penasehat Tim Fakta dan ARIMATEA cabang Malang (dua organisasi yang berkecimpung dalam membentengi umat Islam dari maraknya kristenisasi), Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Kabupaten Malang, Ketua LPAI (Lembaga Penegakan Aqidah Islam).

Ia juga banyak mengisi seminar dan kajian di kampus-kampus yang diadakan oleh kalangan pesantren, Remas, bahkan Hizbut Tahrir, KAMMI, PKS, dan pergerakan Islam lainnya. Ia juga menjadi salah satu pengurus Hai’ah Ash-Shofwah, sebuah organisasi wadah alumni Ma’had Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki yang beranggotakan para ulama dan habaib.

[nextpage title=”4. Munculnya NU Garis Lurus”]

4. Munculnya NU Garis Lurus

Kedekatan Ust. Luthfi Bashori dengan beberapa tokoh yang diincar aparat membuatnya juga dalam pengawasan. Memang, pasca Bom Bali, hampir semua pesantren dicurigai sebagai sumber terorisme utamanya pesantren yang beraffiliasi ke ajaran Salafi Wahabi. Sebenarnya pun aktivitas Ust. Luthfi selama itu tidak pernah berkaitan dengan tindakan dan ajaran yang menjurus ke terorisme.

Untuk menepis tuduhan kepada dirinya, Ust. Luthfi berinisiatif membuat wesbsite pejuangislam.com dengan mencantumkan kalimat “Pejuang Islam, NU Garis Lurus”. Melalui website ini, Ust. Luthfi menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam rangka memperjuangkan dakwah. Ternyata tulisan-tulisannya mendapat respons antusias dari dalam negeri bahkan pembaca dari mancanegara.

Menurut Ust. Luthfi, di antara pembaca ada para pelajar dari Hadramaut Yaman yang tertarik dengan pemikiran-pemikiran Ust. Luthfi. Menjelang pra Muktamar ke-33 NU di Jombang, mereka memunculkan ide untuk membuat website dan FB atas nama nugarislurus.com yang isinya banyak mengambil dari website pejuangislam.com.

Baca juga:  Bukan Hanya Garis Lurus dan Protestan, Ternyata Ada 5 Macam NU Lainnya di Medsos!

Selain itu, ada pembaca yang mengusulkan dan berkonsultasi agar pemikiran-pemikiran Ust. Luthfi dikembangkan di daerah-daerah. Hal itu disetujui olehnya jika yang dimaksud adalah kajian-kajian tentang NU yang anti-Syiah, Wahabi dan Liberal. Bukan untuk membentuk organisasi semacam NU Garis Lurus.

Ternyata usai konsultasi itu, secara sepihak, ada sekelompok orang yang membuat gerakan membuat website NU Garis Lurus untuk memerangi Syiah, Wahabi dan liberal utamanya liberalis dalam NU. Semenjak itulah istilah NU Garis Lurus kian terkenal.

Baca: Membongkar 5 Fakta di Balik Situs NU Garis Lurus

Kalau menilik fakta ini, bisa jadi karena kesamaan ide, antara pencetus ide pertama (pelajar dari Yaman) dan kelompok kedua (yang konsultasi) keduanya lantas bahu-membahu menyebarkan apa yang mereka anggap sebagai perjuangan meluruskan NU.

[nextpage title=”5. Termasuk dalam Jajaran Ulama yang Mufaraqah”]

5. Termasuk dalam Jajaran Ulama yang Mufaraqah

Mufaraqah merupakan istilah yang dimunculkan oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin semasa kepemimpinan Gus Dur. Sebagai salah satu pelaku dan saksi hidup berdirinya NU, beliau menentang pemikiran Gus Dur yang dianggap cenderung sangat lentur bahkan liberal.

Mufaraqah sendiri dalam NU diartikan sebagai berlepas diri dan lepas tanggung jawab dari pemimpin yang ada. Mufaraqah dalam NU bukan berarti membelot ke pihak musuh seperti dalam KBBI. Singkatnya, tetap dalam NU, namun tak mengakui dan tak mangikuti kepemimpinan yang ada karena telah dianggap batal.

Persis seperti shalat berjamaah. Saat ada seorang makmum yakin imamnya telah batal, maka ia meneruskan shalat sendiri tanpa perlu keluar dari barisan ataupun masjid. Secara organisai NU, pelaku mufaraqah memilih menjadi NU kultural.

Hal ini rupanya terulang pada kepemimpinan K.H. Said qil Siradj kali ini. Pada periode kedua jabatannya di PBNU, banyak kalangan ulama yang menentang hasil pemilihan karena menganggap Kiai Said tidak cocok lagi memimpin NU, bahkan proses pemilihannya tidak sah dan cacat hukum.

Puncaknya, pada 21 September 2015, K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy mengumumkan maklumat mufaraqah di Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sukorejo situbondo, Jatim dalam acara Halaqah ke III Dalam Rangka Mengenang Kembali Perjalanan Pendirian NU.

Sebagaiman dilansir oleh situs resmi Ma’had Aly, mahad-aly.sukorejo.com., dalam acara itu para peserta sepakat untuk tanda tangan dan turut mufaraqah. Ust. Luthfi Bashori turut hadir dalam acara itu bersama K.H. Sholahuddin Wahid, K.H. Hasyim Muzadi, K.H. Luthfi Bashori, K.H. Afifuddin Muhajir, perwakilan dari Medan, Jawa Tengah, dan berbagai ulama sepuh lainnya.

1 1
100 %
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    69
    Shares
  • 69
  •  
  •  
Close