Ali Audah, Maestro Terjemah Indonesia itu Telah Berpulang

  • 19
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

DatDut.Com – Saya pertama kali melihat namanya di majalah Tempo edisi IX tahun 2014 yang tanpa sengaja saya temukan. Saya serta merta jatuh cinta pada melihat matanya for the very first sight. Aura kecerdasan, kegigihan, dan keikhlasan telanjang di wajahnya, siapa pun bisa melihatnya.

Ali Audah (selanjutnya disingkat AA) namanya. Lelaki dengan usia senja dan segunung karya-karya mewah nan megah. Sejak saat itu, setiap mendengar atau membaca namanya seperti muncul debaran rindu ingin bertemu.

Ingin mencium punggung tangannya yang pasti sudah keriput sana sini. Ingin bertanya banyak hal terkait apapun, aku yakin akan betah berlama-lama di sampingnya, mendengarkan semua apa pun yang keluar dari mulutnya, dari hatinya.

Dikenal sebagai polyglot, AA mengeluarkan banyak sekali karya baik terjemahan maupun karya tulis, untuk karya terjemahan mayoritas memang dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, terbanyak kedua adalah dari Inggris ke Indonesia, bahasa Perancis dan Jerman menyusul setelahnya.

Konon, semua keterampilan yang berkaitan dengan bahasa tersebut, didapati AA dengan otodidak. Dan mengenai penerjemahan, alih-alih AA mendapat proyek terjemahan, AA hanya mau menerjemahkan karya-karya pilihannya sendiri, karya yang monumental dan kualitas karya dunia, seperti misalnya “Sejarah Muhammad” karya Haekal, sang sastrawan Mesir, “Membangun Kembali Pikiran Agama” dalam Islam karya filsuf Pakistan, Iqbal, dan lain-lain.

AM Fatwa mengatakan bahwa AA adalah maestro terjemah Indonesia. Dan, kini sang maestro itu telah berpulang menghadap Ilahi. Kemarin (20/6) menjadi hari terakhirnya mengabdi dalam dunia yang dicintainya. Berikut adalah 5 karya AA yang monumental:

Baca juga:  Kiai Ali Mustafa Yaqub; Kiai yang Penulis dan Penulis yang Kiai

1. Sejarah Muhammad

Buku tersebut berjudul Hayatu Muhammad. Ditulis oleh seorang jurnalis yang juga sastrawan Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal. Tidak ada keterangan berapa lama AA menghabiskan waktu untuk menerjemahkan karya yang terdiri lebih dari 500 halaman ini.

Dalam buku yang dicetak pertama kali pada tahun 1972 dan pada April 2014 sudah masuk cetakan yang ke 44 ini membahas sejarah munculnya Islam, bagaimana orientalis menentang dan menjelek-jelekkan Islam, serta sejarah Nabi Muhammad dari sebelum lahir hingga kepemimpinannya digantikan oleh Abu Bakar.

Sejarah Muhammad adalah buku pertama berbahasa Arab yang diterjemahkannya oleh AA. Baginya, ini adalah buku yang membuatnya bisa cinta kepada Nabi junjungan Muhammad SAW, karena ditulis dengan menekankan hanya pada dua mukjizat, akhlak dan al-Qur’an, di mana buku sejenis dipenuhi oleh cerita-cerita takhayyul.

2. Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya

The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali, tebal 1.862. diedarkan di Amerika Serikat sebagai hadiah dari Raja Arab Saudi. Buku ini dinilai jelas dan kontekstual oleh banyak orang karena ditulis oleh ilmuwan Islam yang berkualitas.

The Holy Qur’an: Text, Translation, and Commentary terbit pertama kali tahun 1934, telah diterjemahkan dengan baik sekali oleh AA ke dalam bahasa Indoensia pada saat usianya sudah lanjut. Terjemahan tafsir ini terbit pada 2009, saat AA berusia 84 tahun.

3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam

Judul aslinya adalah The Reconstruction of Religious Thought in Islam, karya monumental seorang sastrawan dan filsuf besar Pakistan, Mohammad Iqbal. AA tidak sendiri menerjemahkan buku ini,  Beliau dibantu oleh dua sahabatnya Goenawan Muhammad dan Taufik Ismail. Buku tersebut berisi wawasan Islam, terutama yang menyangkut kemerdekaan “ego insani”, bentuk mandat Tuhan kepada manusia di bumi.

Baca juga:  Ini 5 Resep Ampuh Menjadi Penerjemah ala Ali Audah

4. Lorong Midaq

Judul aslinya adalah Zuqaqul Midaq karya sastrawan Mesir Naquib Mahfudz. Novel yang berlatar Mesir ini bercerita tentang  kehidupan masyarakat Mesir di sebuah lorong yang namanya Lorong Midaq pada tahun 40-an.

Novel yang ditulis pada tahun 1957 ditayangkan secara bersambung di Koran al-Ahram. Novel ini dilarang terbit di Mesir karena menurut ulama-ulama Mesir, novel ini menghina Islam dan para ulama.

Novel ini bercerita tentang Hamida, gadis yatim piatu miskin cantik yang hidup bersama ibu angkatnya, Umm Hamida, seorang wanita berusia 60 tahunan. Hamida bermimpi memiliki kehidupan yang lebih baik dan suami yang bisa memenuhi hasrat duniawinya.

Azzah Zain Al Hasany

Azzah Zain Al Hasany

Mahasiswa Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu muda yang bekerja di Mahkamah Agung dan pernah menjadi Ketua Forum Lingkar Pena Ciputat.
Azzah Zain Al Hasany

One thought on “Ali Audah, Maestro Terjemah Indonesia itu Telah Berpulang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *