Ini 5 Alasan Kenapa Kaum Liberal Pembela LGBT Perlu Dikasihani

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Kalau ada kelompok yang belakangan getol membela LGBT, ya kelompok liberal. Mereka kencang berteriak dan berisik di media sosial membela LGBT dengan dalih HAM. Padahal praktisi LGBT sendiri malah tak banyak terdengar suaranya di tengah hiruk-pikuk pembicaraan pro-kontra LGBT.

Selama ini kelompok liberal dikenal selalu menjadi corong kepentingan Barat. Untuk semua kepentingan Barat, kelompok ini biasanya membela mati-matian sampai berani menabrak semua pagar keimanan dan akal sehat.

catatanInilah yang biasanya dicurigai oleh banyak pihak bahwa apa yang dilakukan kelompok ini tak lebih sekadar cari makan, dengan bersembunyi di balik proyek HAM dan liberalisme. Mereka “menjual” agama dengan dolar demi mendapat proyek-proyek yang dibiayai oleh Barat.

Merekalah yang biasanya keras sekali pada kelompok-kelompok Islam. Kalau ada satu kesalahan saja yang dilakukan oleh kelompok atau negara Islam, mereka teriak-teriak kesetanan dan tak henti-hentinya berisik di dunia maya. Namun, sebaliknya bila yang melakukan kesalahan itu Barat atau bukan kelompok Islam, mereka seperti sepi seperti tak punya gigi.

Maka, kepada kaum liberal yang hari-hari ini getol membela kaum LGBT, kita perlu kasihan. Setidaknya ada 5 alasan kenapa mereka perlu dikasihani oleh kita yang belum terkontaminasi kerancuran dan ketidakadilan cara berpikir mereka. Berikut 5 alasan yang perlu diketahui oleh kita yang belum kecipratan dolar subhat (kalau tidak “haram”) itu:

[nextpage title=”1. Berani Menentang Hukum Tuhan “]

1. Berani Menentang Hukum Tuhan 

Untuk menyebut mereka berani menentang hukum Tuhan, perhatikan dan baca dengan seksama twitan salah satu gembong liberalisme berikut:

“Jika benar Tuhan mengazab Sodom karena LGBT, kenapa Dia tak mengazab negeri-negeri yang menolerir LGBT sekarang? Kenapa?”

Mengapa twitan itu mirip sekali dengan yang dikatakan kaum LGBT pada zaman Nabi Luth pada ayat berikut:

“(Ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, ‘Kalian benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun umat sebelum kalian. Apakah pantas kalian mendatangi laki-laki, memaksa, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan kalian?’

Jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah jika kamu termasuk orang-orang yang benar,’” (QS Al-Ankabut [29]: 28-29).

Begitulah sejarah mengajari kita. Pembangkangan terhadap agama dan perlawanan terhadap ajaran para nabi, selalu muncul dari kaum elit baik dari segi ekonomi, sosial, politik, maupun dari segi ilmu pengetahuan.

Bukankah penentang dan lawan semua nabi selalu para elit?! Kesombongan karena status sosial dan posisi di masyarakat yang tinggilah, yang membuat para elit ini sombong dalam menerima kebenaran dan menutup mata dari fakta.

Bukankah pendukung HAM dan liberalisme, juga orang-orang yang “merasa” elit di masyarakat sehingga mereka berani mempertanyakan hukum haramnya LGBT dan menantang azab Tuhan?

[nextpage title=”2. Menjadi Abdi Dalem Kepentingan Barat”]

2. Menjadi Abdi Dalem Kepentingan Barat

Baca juga:  Ini 5 Hadis yang Melarang Perilaku LGBT yang Perlu Disebarkan

Ada satu tulisan gembong liberal yang menganggap para penentang LGBT adalah kelompok yang perlu dikasihani. Padahal, merekalah yang benar-benar sedang perlu dikasihani.

Lucunya, argumennya adalah karena di luar sana LGBT sudah dilegalkan di Barat. Argumen lainnya karena semua pihak di luar sana bersuara lantang mendukung keberadaan LGBT. Dari Apple, Microsoft, Cisco, Facebook, Google, eBay, Instagram, Line, Nike, Levi Strauss, Starbucks, MasterCard, Citi, AT&T, Johnson & Johnson, Ernst & Young, dan UBS.

Kata si gembong liberalisme ini, semuanya bersuara positif dan menegaskan bahwa mereka mendukung undang-undang perkawinan sesama jenis yang dikeluarkan Pengadilan Amerika.

Perhatikan cara berpikirnya! Otaknya sudah terdominasi oleh semua yang berbau Barat. Lihatlah produk dan negara yang disebutnya. Itu artinya, bagi orang-orang liberal itu, keberanan adalah Barat. Dan, Barat adalah kebenaran itu sendiri. Mereka benar-benar sudah menjadi abdi dalem kepentingan Barat.

[nextpage title=”3. Tak Pernah Adil Menilai”]

3. Tak Pernah Adil Menilai

Maka, jangan heran kalau mereka begitu nyinyir pada orang yang pakai jenggot, celana cingkrang, dan bercadar, sementara yang LGBT malah dibelaian sampai hampir mati (akal sehatnya)?!

Kenapa?! Karena yang berjenggot, bercelana cingkrang, dan bercadar itu bukan orang Barat, bukan pihak yang sering menyuplai dolar untuk kegiatannya! Coba kalau yang berjenggot, bercelana cingkrang, dan bercadar itu orang Barat! Mereka pasti akan puja dan carikan alasan pembenarnya dengan dalil-dalil absurd yang biasa mereka pakai.

Kerancuan logika mereka terkait LGBT itu kentara sekali. Kalau yang LGBT dibela karena itu HAM, terus kalau yang pakai jenggot, celana cingkrang, dan bercadar memang itu bukan hak asasi dia juga?! Wong itu jenggot, jenggot dia. Celana yang cingkrangin juga dia. Cadar dia juga beli sendiri.

Kalau ada orang poligami, dia cuap-cuap seperti kejinan, padahal itu hak asasi dia. Selagi tidak ada pihak yang dikorbankan, apa alasan orang liberal nyinyir pada pelaku poligami.

Bahkan, kalaupun ada yang dikorbankan dalam kasus poligami, memangnya tidak ada yang dikorbankan oleh pelaku LGBT itu, minimal orangtua, anak, dan keluarganya?! Tapi kenapa yang LGBT dibela, tapi yang poligami dibuat nelangsa.

Inilah yang saya sebut bahwa mereka mengklaim diri sebagai orang rasional, tapi nalar mereka miskin karena tertutup oleh pengabdian mereka yang sempurna pada kepentingan Barat.

Mereka tak pernah adil menilai. Ke berbagai hal yang berbau Barat, mereka tunduk dan jadi budak. Ke berbagal yang berbau ajaran Islam, mereka nyinyir setengah mati. Orang-orang seperti ini memang perlu dikasihani. Bahkan tidak hanya butuh dikasihani, tapi juga butuh diruqyah agar jin mata dolaran keluar dari tubuh mereka.

[nextpage title=”4. Nama Orangtuanya Terbawa-bawa”]

4. Nama Orangtuanya Terbawa-bawa

Setiap ada pendapat yang aneh-aneh (bertentangan dengan akidah dan akal sehat) muncul dari kaum liberal, ternyata masyarakat kita tidak hanya menggunjingkan orang yang berpendapat, tapi juga orangtua yang bersangkutan. Bahkan, mertuanya juga ikut kebawa-bawa. Pepatah Jawanya: “anak polah bopo kepradah”.

Baca juga:  Ini 5 Pemikiran Kontroversial Ulil Abshar Abdalla yang Bikin Ngelus Dada

Apalagi ada juga kepercayaan di masyarakat, bahwa orangtua yang sudah meninggal pun mengetahui apa yang dilakukan anaknya yang masih hidup. Orangtua akan sedih kalau anaknya berbuat salah dan akan bahagia kalau anaknya berbuat baik.

Nah, sebagian gembong liberal ini justru anak kiai dan bahkan punya pesantren. Orangtuanya semasa hidupnya bahkan dikenal sebagai orang-orang yang berakidah lurus. Inilah yang membuat pergunjingan di masyarakat kerap terdengar, kenapa kiai yang berakidah lurus kok bisa punya anak yang berpikiran liberal seperti itu.

Tapi begitulah hidup. Tak semua orang yang diajari kebaikan, menjadi baik. Begitupun sebaliknya. Musa Samiri yang dididik dan dibesarkan oleh malaikat Jibril, justru menjadi penyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Musa yang dididik dan dibesarkan oleh Firaun justru jadi rasul dan nabi. Maka, orang-orang liberal pun patut dikasihani karenanya.

[nextpage title=”5. Anak dan Keturunannya Akan Menanggung Malu Sepanjang Masa”]

5. Anak dan Keturunannya Akan Menanggung Malu Sepanjang Masa

Seperti anak aktivis partai komunis yang hingga hari ini selalu dikucilkan dan distigma negatif oleh masyarakat, maka tak tertutup kemungkinan anak-anak gembong-gembong liberal pun diperlakukan sama.

Meskipun dalam Islam tak ada dosa bawaan, tapi budaya masih sulit menghilangkan hal ini. Apalagi saat ini teknologi mesin pencari yang memungkinkan semua data dapat tersimpan lama dan massif.

Mari bayangkan apa yang akan dialami oleh anak-anak mereka setelah besar dan banyak berhubungan dengan internet nanti. Mereka akan melihat pendapat-pendapat yang bertentangan dengan akidah dan akal sehat dari orangtua mereka. Apa juga yang akan mereka rasakan membaca bahwa apa yang disampaikan orangtua mereka berbeda dengan ajaran agamanya.

Belum lagi betapa kagetnya mereka saat melihat meme dan poster-poster yang menghujat orangtua mereka. Bukankah butuh waktu lama untuk membuat mereka mengerti soal apa yang terjadi pada orangtua mereka?! Mereka juga pada titik tertentu perlu pula dikasihani.

Dan, semoga tulisan ini nantinya dibaca oleh anak-anak gembong liberalisme itu, lalu membuatnya bisa menyadarkan orangtua mereka untuk kembali kepada jalan kebaikan dan kebenaran yang lebih hakiki, otonom, dan tak terbeli, termasuk oleh dolar yang dibawa oleh jin kulit putih.

syarif hadeDr. Moch. Syarif Hidayatullah | Founder DatDut.Com
Twitter: @syarifhade

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close