Jangan Cuma Berlebaran di Medsos Lalu Tak Bersilaturahim di Dunia Nyata

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Setiap hari besar Islam selalu dirayakan dengan suka cita oleh penganutnya, tak terkecuali dengan hari raya Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri menjadi hari yang sangat ditunggu selepas menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Selama satu bulan penuh umat Islam menahan diri dari lapar, haus dan hawa nafsu. Sehingga Idul Fitri menjadi momen yang sangat dinanti karena setelah itu umat Islam boleh lagi makan dan minum di siang hari, dengan syarat tetap bisa mengontrol hawa nafsunya.

Ekspresi perayaan Idul Fitri sangat banyak macamnya, mulai dari takbiran keliling, bakar kembang api, pawai obor,  dan mengumandangkan takbir di Masjid bersama-sama. Keberagaman ekspresi itu merupakan bagian dari keindahan Idul Fitri di Indonesia yang mungkin saja di negara-negara lain belum tentu sama seperti itu.

Rasa bahagia yang diluapkan lewat beragam kegiatan itu kini lebih berkembang. Perkembangan ini tidak terlepas dari kehidupan manusia modern yang tak bisa jauh dari teknologi gadget yang kian pesat. Bisa dipastikan generasi zaman ini tidak pernah bisa satu hari pun tanpa memegang smartphone, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Lewat smartphone sekarang kita bisa merayakan Idul Fitri dengan meriah, ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” berhamburan terlontar dari teman-teman di sosial media. Hal itu bisa terjadi karena tidak terlepas dari efisiensi dan  kecepatan informasi  yang ditawarkan oleh setiap sosial media, sebut saja Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, dan Path. Melalui sosial media ini para netizen merayakan Idul Fitri dengan suka cita.

Baca juga:  7 Meme dan Gambar Kreatif, Lucu, dan Menyindir Menghiasi Reshuffle

Para netizen meluapkan perasaan senangnya dengan ragam kreativitasnya, mulai dari merangkai kata-kata seindah mungkin, membuat meme ucapan selamat, membuat desain gambar dan lain-lain. Perilaku netizen ini menjadi budaya baru dalam merayakan hari raya.

Budaya baru ini memiliki sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah orang malas berkunjung langsung menemui temannya untuk meminta maaf karena sudah minta maaf lewat sosial media. Padahal komunikasi melalui sosial media banyak kekurangannya, yaitu tidak ada kontak fisik secara langsung yang sebenarnya jika kontak fisik terjadi kata-kata yang disampaikan bisa dapat mudah dipahami karena kontak fisik akan memberi efek yang berpengaruh pada kata-kata yang disampaikan.

Namun di sisi lain melalui sosial media akan membuat yang jauh menjadi dekat, sehingga tali silaturahim tetap terjalin bahkan lewat sosial media tali silaturahim bisa meluas. Budaya baru perayaan Idul Fitri ini menciptakan atmosfer baru dalam perayaannya, karena banyak netizen yang senang karena mereka bisa merayakan Idul Fitri dengan meriah tanpa harus mengeluarkan uang dan waktu yang banyak.

Atmosfer budaya baru perayaan Idul Fitri ini menambah gegap gempita umat Islam, melalui sosial media ini mereka berbagi kesenangan dengan mengunggah foto-foto dan video. Foto dan video yang diunggah sudah barang tentu berisi ekspresi kesenangan dari para Netizen, kalaupun ada ekspresi kecewa dan sedih mungkin bisa dihitung oleh jari.

Baca juga:  Hoax Narkoba dari China Viral hingga 20 ribu Kali, Pemilik Akunnya Dibully Netizen

Lebaran gaya sosial media benar-benar kita rasakan sekarang. Banyak teman-teman yang sudah menjadikan sosial media sebagai tempat mencurahkan perasaannya terlepas dari hal-hal negatifnya. Perayaan Idul Fitri tidak hanya dapat dirasakan di dunia nyata, tapi di dunia maya juga dengan kemeriahannya yang khas.

Budaya baru ini harusnya tidak menggantikan budaya lama yang bersifat langsung dalam bersilaturahim ketika Idul Fitri. Silaturahim melalui sosial media mestinya dijadikan hanya sebagai ragam komunikasi. Karenanya, budaya lama merayakan lebaran di dunia langsung dan lewat sosial media harus berjalan beriringan lantaran kedua-duanya saling melengkapi keindahan komunikasi.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Irvan Hidayat

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora 2016 dan mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Irvan Hidayat
Close