Larang Jemaah Dengarkan Ceramah Ustaz Lain, Tanda Ketidakikhlasan

  • 11
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares

DatDut.Com – Belakangan beredar berita tentang seorang ustaz yang melarang jemaahnya mendengarkan ceramah ustadz yang lain. Ia bahkan meminta mereka menjauhinya dan menghapus semua videonya dari HP mereka.

Setidaknya, ada dua hal yang penulis perhatikan dari berita yang yang berseliweran beberapa hari terakhir di media sosial itu:

Pertama, sikap pelarangan yang diiringi klaim kebenaran, bahkan monopoli kebenaran, menunjukkan ketidakbijaksanaan dalam menyikapi perbedaan yang meniscaya dalam kehidupan.

Memang, meyakini kebenaran pendapat pribadi adalah keharusan untuk menunjukkan sikap dan pendirian. Tetapi menunggalkan bentuk kebenaran hanya pada pendapat sendiri dan menegasikannya dari pendapat orang lain adalah bentuk kepongahan.

Sebaliknya, ketawadukan tercermin pada sikap menerima potensi kebenaran pada pendapat orang lain yang berbeda dengannya. Karenanya, dikatakan, “Pendapatku benar dan berpotensi salah. Pendapat selainku salah dan berpotensi benar.”

Bahkan, dalam konteks perdebatan di mana masing-masing yang terlibat dituntut mempertahankan pendapatnya sendiri, Imam Syafi’i –sebagaimana dikutip oleh al-Sya’rani dalam al-Tabaqat al-Kubra– dengan ketulusannya justru berujar, “Aku ingin bila aku mendebat seseorang Allah menampakkan kebenaran melaluinya.”

Kedua, sikap pelarangan seorang ustaz kepada jemaahnya mendengarkan ceramah ustaz lainnya merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip ketulusan dalam berdakwah. Dalam hal ini, Imam Ghazali berujar dalam Mizan al-‘Amal, h. 242:

Baca juga:  Setelah Menimbulkan Polemik di Masyarakat, Kemenag Pastikan Info Sertifikasi Khatib Hoax

فعلامته أنه لو جلس على مكانه واعظ أحسن منه سيرة، وأغزر منه علماً، وأطيب منه لهجة، وتضاعف قبول الناس به بالنسبة إلى قبوله، فرح به وشكر الله على إسقاط هذا الفرض عنه بغيره، وبمن هو أقوم به منه

Tanda penceramah yang tulus adalah bila posisinya ditempati oleh penceramah lain yang lebih baik reputasinya, lebih luas ilmunya, lebih indah retorikanya dan penerimaan masyarakat terhadapnya jauh melebihi penerimaan mereka terhadap dirinya, ia merasa senang dan bersyukur kepada Allah atas gugurnya kewajiban dakwah dari dirinya sebab telah diampu oleh orang lain dan lebih kompeten daripadanya.

Guru penulis, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, MA., pernah menceritakan tentang sikap demokratis gurunya, K.H. Idris Kamali, menantu Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang mempersilakan muridnya untuk berguru kepada kiai yang lain. Dalam sebuah transkip wawancara dengan judul “Demokrasi Ala Kiai Idris” (termuat dalam Tokoh Besar di Balik Layar, 129), Pak Kiai Ali Musfata Yaqub berujar:

“Ada catatan lagi, beliau itu terkenal disiplin. Kalau ada santrinya tidak ikut mengaji tanpa izin, beliau sering menegur, ‘Kalau tidak mau dengan aturan saya, silakan belajar dengan kiai lain. Silakan, wong kiai lain masih banyak aja kok.’ Itulah sifat demokratisnya Kiai Idris. Sementara terkadang, ada guru yang tidak memperbolehkan muridnya belajar pada orang lain.”

Baca juga:  Keren! Khatib Jumat Ini Berdoa untuk Gubernur Muslim di Jakarta, Netizen Kompak Mengamini

Ajaran gurunya ini kemudian dipraktikkan oleh Kiai Ali Mustafa kepada santri-santrinya. Penulis selalu ingat bagaimana beliau selalu memotivasi para santrinya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus dari Darus-Sunnah.

Dengan kata lain, beliau memerintahkan kami, para santrinya, untuk menyerap ilmu dari guru-guru lainnya di institusi-institusi lainnya. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi penulis menjadi murid dari guru-guru yang demokratis.

Komentar

Muhammad Al-Faiz

Muhammad Al-Faiz

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.
Muhammad Al-Faiz
  •  
    11
    Shares
  • 11
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *