Malaikat yang Turun ke Bumi di Lailatul Qadar Tahun Ini

0 0
  • 14
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares

Dibaca: 1467

Waktu Baca5 Menit, 14 Detik

DatDut.Com – Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, kita sangat dianjurkan untuk mengoptimalkan pemanfaatannya dengan berbagai macam amal ibadah dan ketaatan. Selain itu, Lailatur Qadar juga menjadi sesuatu yang paling diincar dalam malam-malam ini, demi mencapai keutamaannya yang luar biasa.

Ia memiliki beberapa konotasi makna, antara lain bermakna ‘malam kemuliaan dan ketetapan’. Kemuliaan, berdasarkan pada tumpah-ruahnya kemuliaan, kebaikan, dan keberkahan yang Allah anugerahkan di malam itu. Ketetapan, yakni ketetapan Allah atas  para hamba-Nya, terkait banyak hal selama satu tahun kedepan, temasuk ajal, rezeki, dan lain-lain.

Berikut 5 hal tentang Lailatul Qadar yang wajib kita tahu:

[nextpage title=”1. Malam Diturunkannya Alquran”]

1. Malam Diturunkannya Alquran

Alquran, sebagai kitab undang-undang hidup manusia, diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam beberapa ayat: QS. 97: 1; 44: 3; 2: 185. Nah, menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan diturunkannya Alquran pada malam Lailatul Qadar adalah diturunkannya dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia secara keseluruhan.

Lha, terus diturunkannya kepada Nabi kapan? Nah, ini nih yang diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan pada tanggal 17 Ramadan, tanggal 24, dan lain-lain. Dua Imam Ibn Hajar, al-‘Asqalani dan al-Haytami, cenderung pada pendapat kedua, tanggal 24. Jadi, menurut mereka dan yang sependapat, Alquran diturunkan ke langit dunia pada malam tanggal 24 Ramadan, dan pada malam itu pula Lailatul Qadar.

Kemudian, keesokan harinya, tanggal 24, Alquran, yakni awal surah al-‘Alaq, diwahyukan kepada Nabi Muhammad untuk yang pertama kali melalui perantara Malaikat Jibril. Demikianlah, untuk selanjutnya, Alquran diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun hingga tuntas 30 juz.

[nextpage title=”2. Samson dan Keutamaan 1000 Bulan”]

2. Samson dan Keutamaan 1000 Bulan

Bila Anda seusia saya, lulusan SMA tahun 2010, pasti masa kecil Anda pernah mendengar nama Samson. Atau mungkin, pernah nonton Samson Betawi? Dih, apa hubungannya Samson dengan Lailatul Qadar.

Nah, ini dia yang perlu anda ketahui. Samson yang kita kenal di layar kaca dikisahkan sebagai pemuda Betawi yang gagah perkasa, memiliki kekuatan luar biasa. Nah, ntah memang terinspirasi atau kebetulan, kisah Samson ini serupa dengan kisah Syam’un yang menjadi sebab turunnyan surah Al-Qadr.

Konon, pada masa Bani Israil, ada seorang lelaki gagah perkasa yang ahli ibadah dan jihad. Lelaki itu bernama Syam’un (Samson?). Selama 1000 bulan Syam’un tak henti-henti beribadah dan berjihad hingga orang-orang yang memusuhi agama Allah takluk di hadapannya.

Baca juga:  Ini 5 Hal yang Perlu Diperhatikan terkait Salat Gerhana Matahari

Nah, para sahabat Nabi yang mengetahui kisah Syam’un tersebut merasa cemburu. Jelas, lah. Secara usia, bentuk dan kekuatan fisik, umat Nabi Muhammad tentu jauh di bawah Syam’un. Karena itu, “Adakah amal perbuatan yang dapat kami perbuat dan keutamaannya tak kalah saing dengan keutamaan Syam’un?” tanya para sahabat kepada Nabi.

Lalu, sebagai jawabannya, Allah menurunkan surah Al-Qadr yang menyatakan bahwa beribadah pada malam Lailatul Qadar adalah lebih utama daripada beribadah 1000 bulan tanpa Lailatul Qadar. Maka, Lailatul Qadar pun menjadi keistimewaan umat Nabi Muhammad atas umat-umat yang lain.

Sebagian ulama tafsir yang lain berpandangan bahwa angka 1000 tidak berarti nominal antara 999-1001, tetapi hanya merupakan ungkapan atas jumlah yang banyak.

[nextpage title=”3. Para Malaikat Turun ke Bumi”]

3. Para Malaikat Turun ke Bumi

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan,” (QS. Al-Qadr: 4). Ayat ini menegaskan bahwa para malaikat, termasuk Malaikat Jibril (Al-Ruh), pada Malam Lailatur Qadar turun ke bumi.

Pertanyaannya, untuk apa mereka turun ke bumi? Menurut para ahli tafsir, mereka turun ke bumi untuk menyaksikan amal ibadah dan ketaatan para hamba Allah di muka bumi. Sebuah pemandangan yang tidak mereka lihat di langit.

Doa-doa para hamba Allah pada malam itu mereka amini dan rintihan tobat para pendosa menjadi sesuatu yang mereka sukai, seakan-akan sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Mari kita dengarkan suara rintihan tobat para pendosa yang lebih dicintai oleh Tuhan kita daripada tasbih kita.”

Sebagian ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa turunnya para malaikat ke bumi adalah untuk mencari keutamaan plus. Sebab, kebaikan yang dilakukan di bumi pada malam itu lebih berkeutamaan daripada dilakukan di langit.

Ya, seperti pahala ibadah di Mekah yang lebih banyak daripada di tempat lain. Selain itu, para malaikat ditugaskan oleh Allah Swt. untuk suatu urusan tertentu terkait ketentuan Allah untuk para hamba-Nya selama satu tahun ke depan.

[nextpage title=”4. Kesejahteraan hingga Fajar”]

4. Kesejahteraan hingga Fajar

Malam itu penuh kesejahteraan. Segala kebaikan dan keberkahan Allah curahkan. Tak ada yang ditetapkan pada malam itu kecuali membawa kedamaian dan bebas dari tipu muslihat setan. Ya, hingga terbit fajar, kondisi jagad penuh kebahagiaan.

Baca juga:  Kamu Harus Tahu Kelebihan dan Kekurangan 5 Antivirus Ini

Bahkan, menurut para ulama, kesejahteraan malam itu berefek pada siang keesokan harinya, dengan indikasi cuaca yang sedang, air laut tenang, binatang galak kalem, dan segala hal yang menunjukkan ketenangan. Kondisi ini pula menjadi tanda tersendiri bagi kita untuk tahu bahwa malamnya adalah Lailatul Qadar.

Oleh karena itu, siapa yang menyaksikan tanda-tanda ini, segeralah bertekun ibadah. Karena bisa jadi keutamaan malam harinya dapat tersusul di siang hari. Itulah indikator Lailatul Qadar pada semesta. Sementara indikatornya pada diri orang yang mencapai keutamaannya, maka jelas, selalu ada energi Ilahi yang mendorongnya untuk selalu melangkah ke arah yang lebih positif.

[nextpage title=”5. Tepat pada Malam 25?”]

5. Tepat pada Malam 25?

Biasanya memasuki 10 malam terakhir bulan suci, banyak sekali broadcast yang menginformasikan secara pasti bahwa Lailatul Qadar pada bulan Ramadan tahun ini akan jatuh pada malam tanggal 25. Lha, iya, kah? Ya, informasi yang berseliweran medsos begitu. Berarti benar tanggal 25? Wallahu a’lam.

Tetapi, begini. Informasi itu memang bereferensi. Konon, itu adalah prediksi Imam Ghazali atau, ada yang mengatakan, Abul Hasan Syadzili. Tepatnya berbunyi, “Bila puasa dimulai pada hari tertentu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25.” Ini hanyalah prediksi berdasarkan pengalaman spiritual pribadi.

Sebagai sebuah prediksi, tentu bisa salah dan bisa benar. Ya, tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya pada beliau-beliau. Emang Nabi tidak memberitahu waktu yang pasti? Nah, riwayat tentang ini banyak sekali. Bermacam-macam pula. Tak pelak, perbedaan pendapat di kalangan ulama pun menjadi sangat banyak, mencapai 24 pendapat, kata Imam ‘Iraqi.

Nah, tidak adanya kesepakatan atas kepastian waktu terjadinya Lailatul Qadar sebenarnya menjadi hikmah luar biasa. Yakni bahwa kita menjadi terdorong untuk terus beribadah setiap waktu, memburu Lailatul Qadar setiap malam bulan Ramadan, tanpa harus pilah-pilih malam. Semoga kita menggapainya!

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Muhammad Al-Faiz
  • 14
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *