Kurban Perasaan ala Santri

  • 16
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares

DatDut.Com – Esok hari Idul Adha. Berbagai persiapan tentunya sudah banyak dilakukan bagi mereka yang punya kemampuan berkorban di hari raya itu. Tak ketinggalan pula, momen Idul Adha juga memiliki kesan tersendiri bagi santri pesantren.

Kalau momen Idul Fitri kebanyakan pesantren pasti liburan panjang, namun Idul Adha beda. Ini karena memang Hari Raya kurban tersebut, kita di Indonesia cuma punya sehari tanggal merah.

Beda halnya jika Idul Fitri yang memiliki 2 tanggal merah dan masih ditambah dengan cuti lebaran bagi para pekerja. Belum lagi acara mudik dan baliknya. Karena pendeknya liburan pada hari raya ini kurang lebih inilah beberapa tradisi santri dan pesantren saat Idul Adha.

1. Puasa Sunah

Menyambut Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah, pengasuh maupun pengurus pesantren biasa menginstruksikan para santri untuk berpuasa sunah hari Tarwiyah (tanggal 8) dan Arafah (tanggal 9). Karena mendapat instruksi maka puasa ini di sebagian pesantren seperti menjadi keharusan. Memang hal ini bertujuan untuk mendidik para santri agar membiasakan puasa-puasa sunah.

Ini khususnya terjadi di pesantren-pesantren yang tidak meliburkan santri saat Idul Adha. Kegiatan hanya libur pada hari raya saja. Sedangkan pada hari Tarwiyah, Arafah, maupun 3 hari tasyriq setelah Idul Adha kegiatan belajar tetap berjalan normal.

Seperti di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi misalnya, santri yang bisa merasakan enaknya masakan daging ala emak di rumah hanya mereka yang rumahnya masih kawasan Banyuwangi. Prosedurnya, para santri lokal ini boleh pulang usai salat Idul Adha, dan harus kembali ke pesantren pada esok pagi.

Baca juga:  Ada 5 Fakta Menarik di Balik Sarung yang Dipakai Para Santri

2. Silaturahmi ke Warga Sekitar Pesantren

Sudah maklum bahwa saat libur dan perayaan Idul Fitri, para santri sebagian besar mudik. Padahal keseharian mereka dalam setahun, sebagian besarnya ada di pesantren dan bersinggungan dengan masyarakati sekitar pesantren.

Seperti kata sebuah meme tentang mudik, katanya mudik itu bikin dosa di kota, minta maafnya ke orang desa. Di pesantren, ibarat kata bikin salah ke warga sekitar tapi pas lebaran minta maafnya ke tetangga rumah.

Menyiasati hal tersebut, ada sebagian pesantren yang membuat tradisi bersama masyarakat sekitar. Lagi-lagi ini bagi pesantren yang saat Idul Adha tidak libur lama. Saat idul adha, masyarakat sekitar pesantren membuat hidangan seperti saat Idul Fitri. Kue-kue, minuman manis hingga menyiapkan makanan untuk para santri.

Pengasuh pesantren memberi arahan agar para santri bersilaturahmi ke penduduk sekitar, karena saat lebaran mereka berlebaran di kampung halaman. Sehingga untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan mudah bermaafan, diadakanlah silaturahmi Idul Adha.

3. Berburu dan Masak Daging Kurban

Ini juga kegiatan yang asyik. Bahkan ada santri yang bilang kalau lebaran haji nggak makan daging, berarti mulutnya si santri lagi sial gak dapat rejeki.

Baca juga:  Saat Kehabisan Bekal, Beginilah 5 Cara Unik dan Sederhana ala Santri untuk Menyiasati Menu Makan

Karena liburan Idul Adha hanya sehari saja, maka kesempatan silaturahmi dimanfaatkan sebagian santri untuk berburu keberuntungan mendapat daging kurban. Ada yang ke tempat saudara, teman atau kenalannya.

Kalau di pesantren yang masih sedikit santrinya, biasa Idul Adha tidak perlu jauh-jauh berburu ke tempat kenalan, tapi sudah didaftar oleh pantia kurban. Minimal satu kamar mendapat sekian ons daging. Maka acaranya adalah mayoran alias pesta.

Meski hanya sedikit, karena beda dari hari biasa, para santri sudah menyebutnya sebagai mayoran alias pesta. Kalau pas punya dana membeli bumbu yang komplit, masakan para santri bisa enak sekali. Tapi kalau pas dana mepet, bisa-bisa daging itu cuma dibakar dengan bumbu kecap atau sambal saja.

Nah, bagi Anda yang rumahnya dekat pesantren, kalau dapat daging kurban berlebih atau memang sedang masak beda, jangan segan untuk berbagi dengan santri ya.

Komentar

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *