Kosakata Unik dan Sisipan Pesan Moral dalam Kitab Tanwirul Qari, Syair Tajwid Berbahasa Jawa

Pin It

DatDut.Com – Tanwirul Qari merupakan salah satu kitab tajwid yang menjadi materi pelajaran di madrasah diniyah pesantren. Sebagian pesantren menempatkannya sebelum memperlajari syair tajwid yang lebih luas membahas tentang makhraj dan sifat huruf, al-Jazariyyah.

Kiai Munhamir Nadzir yang juga disebut Mundzir Nadzir menyatakan bahwa kitab tersebut telah ditashihkan kepada Kiai Khalil Shalih, Ploso, Kediri. Hal itu dijelaskannya di bagian-bagian akhir syair tajwid ini. Kitab tajwid berbahasa jawa dengan tulisan arab pegon ini selesai ditulis di Jogja pada Minggu Kliwon, 26 Muharram 1376 H.

Membaca tulisan pegon alias tulisan arab dengan bahasa Jawa bagi santri sudah sangat akrab karena terlaku dalam keseharian saat mengaji kitab. Tetapi dalam Tanwirul Qari ternyata ada beberapa kosakata unik yang harus dijelaskan sendiri oleh penulisnya dengan catatan kaki. penggunaan kosa kata itu sendiri tak lepas dari kebutuhan untuk menyesuaikan nada dengan panjang syair.

Kadang agak sulit memahami kitab bahasa Jawa ini, tapi dengan ulasan singkat tentang kosakata unik, sisipan pesan dan berbagai tabel dalam syair tajwid Tanwirul Qari ini semoga bisa diambil hikmahnya.

1. Kosakata Unik dalam Tanwirul Qari

Memasuki pembukaan, pembaca sudah berhadapan dengan satu kata unik yang oleh penulis diberi catatan kaki. syair itu berbunyi:

Bola bali den woco ambal ambalan * datan weruh opo isine buntelan

(bolak balik di baca berulang kali * agar tahu apa isi bungkusan)

Baca juga:  Idhatun Nasyi’in, Kitab Pembakar Semangat Kaum Muda

Kata datan agak aneh dalam bahasa Jawa, sehingga oleh Kiai Munhamir diberi catatan bahwa datan artinya supaya. Kosakata langka lainnya misalnya dak yang sama artinya dengan ndak atau tidak. Ada juga penyusutan kata deriji yang artinya jari, menjadi ji karena keterbatasan syair.

2. Tabel Penting tentang Tajwid

Menjelang akhir-akhir kitab tipis ini, Tanwirul Qari dilengkapi dengan tabel-tabel yang sarat isi. Sebelum memasuki lembaran tabel-tabel, penyusun telah mengisyaratkan beralihnya pembahasan dari tajwid dasar ke penjelasan tentang sifat-sifat huruf.

Ada 12 tabel/jadwal dalam Tanwirul Qari. Yaitu meliputi: tabel makharijul huruf, sifat-sifat huruf, tabel bacaan-bacaan langka dalam Alquran, tabel tanda waqaf.

Selanjutnya ada tabel yang memuat ringkasan berbagai pendapat terkait jumlah huruf, ayat dan surat Alquran. Berikutnya tabel tentang jumlah masing-masing huruf hijaiyah dalam Alquran. Misalnya huruf ba dalam Alquran ada berapa, dst. Lalu ada tabel tentang pendapat posisi tengah-tengah Alquran.

Selanjutnya adalah jadwal tentang pembagian seperempat dan sepertiga Alquran. Kemudian tabel surat Makiyah yang turun sebelum rasulullah hijrah, diikuti tabel surat Madaniyah. Kemudian ayat-ayat madaniyah dalam surat makiyah, dan terakhir tabel tentang sebagian tempat saat ayat madaniyah diturunkan.

3. Motivasi untuk Memperlajari Qiraah Sab’ah

Pada bagian penjelasan tentang idghom di halaman 14, Kiai Mundzir Nadzir mengisyaratkan dorongan untuk memperlajari qiraah sab’ah untuk lebih menguasai bacaan Alquran. Memang bacaan-bacaan yang berbeda-beda terhadap Alquran haruslah melalui jalur sanad keguruan. Terkait hal itu Kiai Mundzir Nadzir bersyair yang terjemah bebasnya:

Baca juga:  Qawa’idul I’lal fish Sharf, Kitab Kecil tentang Berbagai Perubahan Kata Bahasa Arab

Ingin tahu tentu engkau harus tidak enggan, tuk tekun belajar dan mengkaji Qiraah Sab’ah

Kelak Akan kau terima janji Allah, selamat (bacaannya) sebab memperoleh ijazah keilmuan.”

4. Pesan Moral Tentang Kerukunan

Pesan moral agar rukun dengan saudara disisipkan dalam penjelasan tentang idghomnya dal, dzal, dan tak taknis serta lam lafadz qul, hal dan bal. Pesan itu disisipkan sebagai penyempurna bait syair contoh bacaan. Terjemah bebasnya adalah:

قُلْ رَبِّ احْكُم, بَلْ رَفَغَه selanjutnya * إِذْ ظَلَمُوا rukunlah dengan saudara

Senang bertengkar malah bisa-bisa, menyesal kemudian ingatlah cerita lama

Qabil habil si Qabil jangan kau tiru, bumi tandus burung gagak pun jadi guru

Pesan tersebut mengingatkan pembaca agar menjaga kerukunan dan persaudaraan jangan sampai terjadi saling bunuh seperti halnya dalam kisah Qabil dan Habil.

Demikian ulasan singkat tentang beberapa hal menarik dari kitab Tanwirul Qari.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *