Karena Kopimu Tak Pernah Sepahit Hidupnya (Cerpen Nasrullah Alif S)

  • 13
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

DatDut.Com – Seorang perempuan muda duduk termenung di pojok kedai kopi. Khidmat sekali. Tanpa emosi, ia tak tunjukan guratan marah, bahagia, ataupun sebuah hal yang perlu ditangisi.

Di sekilasan wajah yang terkena sedikit cahaya matahari. Mungkin, dia hanya seorang biasa yang ingin meluapkan sejenak lelah dan kepenatan. Mungkin juga, ia hanya ingin melupakan sejenak semua segala kesibukan, seperti orang kebanyakan.

Setiap sore, tepatnya hari Jumat. Dia selalu melakukan apa yang aku sebutkan tadi dengan khidmat. Dengan lembut, dan santai nya dia menatap keluar jendela dengan lamat.

Kalian tahu? Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu. Tetapi, enggan untuk meluapkan, karena sudah tertanam amat pekat. Begitulah keadaannya.

Ingin ku sambangi, sekedar sapa untuk kenalkan diri. Tapi, ada rasa janggal yang menghalangi. Bagai tembok besar yang menjulang, menghalangi lisan serta tubuh untuk menghampiri.

Aneh sekali menurutku, baru kali ini aku rasakan badanku tak menuruti perintahku. Diam kaku, dan membisu. Memberontak juga segumpal darah dalam raga, dan juga jiwa.

Dibilang malu, tapi aku mau. Dibilang mau, tapi aku malu. Membuat diriku sendiri bingung tak menentu. Begitulah, hingga beberapa bulan terlewatkan.

Aku tak menyapa, padahal tangan ingin sekali bersalaman. Sekali saja, agar aku bisa mengenalnya, memahami dia, dan saling bertukar pikiran.

Hanya kopi saja yang bisa memahami, dan menemani aku untuk sementara kini. Sebagai temanku kala sepi sedang bertamu, dan juga pastinya tanpa gula yang pun bisa kaburkan rasa pahit dalam hidupku.

Walaupun, aku pahami hidupku ini tak pahit-pahit amat. Hanya, sedikit dramatisir. Aku senang untuk itu, karena kuanggap sebagai pelengkap hidup saja. Seperti kopi yang selalu ditemani segelas cangkirnya.

Kesabaranku mulai habis, tapi rasa maluku ini tak kunjung terkikis. Semuanya beradu dalam satu kantong yang amat tipis, dan amat rapuh jika ter iris.

Baca juga:  Pesan Bapak (Cerpen Ali Munir Sangkakala)

Maka, aku sambangi saja sang pemiliki kafe, yang tampilannya sih sangat parlente. Tanpa bertele-tele aku tanya ia ke topik utama, tanpa basa-basi agar obrolan tak terlalu lama.

“Pak tua, boleh kutanya sesuatu?” ucapku mengawali. Ia kaget, karena aku pun berucap tanpa permisi. “Anak muda, jangan begitu kau bertanya” ucapan awalnya. “Kau bikin aku kaget setengah mati!” lanjutnya lagi.

“Maafkan aku pak tua. Hahaha.” Aku hanya tertawa, tak merasa bersalah. “Yasudah, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya si pak tua.

Aku mulai bercerita, dari mulai prolog hingga epilognya. Bagai meracik kopi dari bijinya, lalu kusaring ia dengan lembutnya. Setelah itu, kuproses lagi dengan mesin khusus yang istimewa.

Walau ala kadarnya, tetap hati-hati ku buat agar menjadi kopi yang terlahir sempurna. Pak tua mulai paham yang kuceritakan, sedikit lega karena aku memendam ini dengan tertahan. Tapi kini, setidaknya telah kulepas walau sepersekian.

“Kau jatuh cinta anak muda!” Singkat sekali jawab si pemilik kedai, yang aku pun hanya bisa terdiam sunyi. “Kau bercanda, Pak Tua.” Aku hanya bisa menjawab dengan tawa terpaksa. Amat dipaksakan.

Tetapi, aku lihat wajahnya, tak ada sedikit pun raut wajah canda. Aku bergeming kembali, seperti salah tingkah tingkat tinggi. Mungkinkah yang diucapkannya benar adanya, atau hanya sekelibat rasa, yang nanti hilang ditelan masa.

Aku pun pulang dengan perasaan bimbang, yang mana perkataan pak tua tadi terus terbayang. Seakan melayang-layang di pikiranku, hingga ia tak jemu terus hadir dalam otakku. Seperti lagu nostalgia dulu.

“Menyebalkan sekali, aku tak bisa tidur nyenyak” hanya menggerutu saja yang kini aku lakukan. Esoknya, saat di tempat ku melantahkan tulang pun sama saja. Terus saja ia mampir, tak mau sedikit saja mangkir. Membuat diriku hampir saja memecahkan cangkir.

Baca juga:  Mahar Cinta yang Tak Lunas

Aku sudah tak tahan, tak mampu lagi untuk menahan. Ingin semuanya kutumpahkan, kupecahkan, dan kuhamburkan. Sampai hancur hingga kesekian.

Kakiku akhirnya melangkah ke tempat semestinya, tepat di mana aku melampiaskan rasa yang diucapkan pak tua bangka. Tempat di mana realitas hidupku muncul, dan membuatku menjadi lelaki lemah lagi mandul.

Aku sampai. Kafe tua itu masih sepi, tapi seperti bekas tanda kehidupan terasa walau hanya satu centi. Tanpa basa-basi, aku hampiri si pemilik kedai kopi.

“Kopi satu!” titahku. “Siap, Tuan,” jawabnya dengan canda, yang memang sudah sebagaimana mestinya. “Mana perempuan itu?” tanyaku langsung setelah kopi habis. “Ia telah pergi. Kejarlah!” jawabnya lantang.

“Terimakasih” lalu aku pergi. Singkat, tapi amat padat.

***

Dua mayat itu sama-sama tergeletak kaku di depan pintu kafe. Semua masyarakat hanya memandangi, seperti tontonan yang memang pantas di pandangi. Amat bodoh sekali.

Seorang polisi sedang bertanya-tanya kepada pria tua yang disinyalir pemilik kafe. Ia menjawab dengan santai, tanpa beban yang harus di bebani.

“Terimakasih, Pak.” Polisi lalu pergi, meninggalkan dia sendiri.

Pak tua itu berbalik, tersenyum di balik mukanya. Sangat lebar.

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Mengambil konsentrasi Islamic History & Culture di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pesantren Islam Ummul Quro Al-Islami. Asal-usulnya dari Magelang.
Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *