Paham

Bantahan terhadap Dr. Khalid Basalamah terkait Masalah Sayyidina

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Baru-baru ini muncul fatwa baru yang membuat gempar umat Islam Indonesia, khususnya adalah warga Ahlussunnah. Dalam video pendek itu terdapat pembidahan dalam menisbatkan kata “sayyidina” ketika menyebut Nabi Muhammad Saw. Menurutnya, kata sayyidina belum ada di zaman Nabi. Menyebut Nabi dengan sayyidina malah mengurangi martabat Nabi. Pendapat ini disampaikan oleh Dr. Khalid Basalamah, yang beberapa waktu ini banyak menarik perhatian netizen.

Kontan saja pendapat ini menimbulkan polemik. Pasalnya, memanggil Nabi Muhammad dengan menggunakan sayyidina sudah menjadi kebiasaan turun temurun mulai dari zaman dahulu. Nah, ketika masyarakat mendengar fatwa kontroversial seperti itu, pastilah masyarakat merespons dan menanggapinya dengan cepat, dan bahkan hingga mengatakan hal-hal negatif.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya pemanggilan dengan kata sayyidina terhadap beliau Nabi Muhammad Saw. sudah digunakan oleh para sahabat seperti dalam beberapa hadis yang akan disebutkan di bagian berikutnya. Entah mengapa hadis-hadis tersebut diabaikan begitu saja. Beliau malah justru membidahkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya.

[nextpage title=” 1. Dalil dari Segi Bahasa”]

1. Dalil dari Segi Bahasa

Kata sayyid dari segi bahasa mempunyai banyak makna. Bisa diartikan dengan ‘orang yang memimpin suatu kaum, orang yang banyak pengikutnya, orang yang mulia di antara lainnya, orang yang patut untuk ditaati (Al- Mu’jam Al-Wasith).

Jadi, kalau ditinjau dari segi bahasa, kata sayyidina sangatlah tepat disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai nabi, beliau adalah pemimpin semua manusia, diikuti oleh semua orang Islam, dan orang yang paling mulia di antara semua makhluk di sisi Allah Swt. Hal ini tidak bisa dibantah lagi.

Yang perlu diingat bahwa memuji itu tidak harus menggunakan kata yang tepat dan tidak harus melampaui batas. Apalagi kemuliaan Nabi tidak ada yang mengetahui batasnya kecuali Allah. Jadi, kalau disebut bahwa memuji dengan kata sayyidina akan mengurangi martabat Nabi, tentulah tidak berdasar.

[nextpage title=”2. Dalil dari Al-Qur’an”]

2. Dalil dari Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. juga menisbatkan sayyidina kepada Nabi Yahya a.s. seperti pada ayat berikut:

“Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat dari Allah, panutan (sayyid), berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh,” (QS Ali Imran [3] : 39).

Ditilik dari ayat ini, jika Allah menisbatkan kata sayyidina kepada Nabi Yahya, apakah tidak bisa, tidak sah, tidak tepat jika kata sayyid juga dinisbatkan kepada Nabi Muhammad mengingat keduanya adalah sama-sama seorang nabi dan rasul yang menyampaikan hukum-hukum-Nya? Apakah dengan menyebut Nabi Yahya dengan sayyid, Allah Swt. sedang mengurangi martabat Nabi Yahya sehingga memuji dengan kata sayyid?

[nextpage title=”3. Dalil dari Hadis”]

3. Dalil dari Hadis

Dalil kata sayyidina dari hadis, ternyata sangat banyak. Hal ini menunjukkan bahwa kata tersebut sudah digunakan mulai zaman Nabi. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Beliau Menyebut Diri Sendiri sebagai Seorang Sayyid

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda: “Saya adalah pemimpin semua bani Adam di Hari Kiamat,” (HR Muslim, 5.899).

Baca juga:  Ini 5 Wajah Komunisme Indonesia

Dalam riwayat lain, terdapat perbedaan sedikit, “Saya adalah pemimpin seluruh manusia di Hari Kiamat,” (HR Bukhari, 3.340; Muslim, 479).

  1. Sahabat Memanggil Beliau dengan Panggilan Sayyid

Dari Sahl bin Hunaif r.a. bercerita bahwa suatu ketika kita mendapati sungai sedang mengalami banjir, kemudian aku masuk ke dalam sungai tersebut untuk mandi. Keluar dari sungai itu, kudapati badanku terasa panas. Akhirnya kulaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw.

Beliau berkata: “Perintahkanlah kalian semua kepada Abu Tsabit untuk bertaawwuz (membaca a’udzubillahi minasy syaithani),” Aku berkata: “Wahai Sayyidi, masih ada azimat (jimat) yang ampuh (kenapa diperintah bertaawwuz) ?” Beliau bersabda, “Tidak ada azimat kecuali penyakit dalam tubuh, panas, dan penyakit akibat sengatan,” (HR Abu Dawud, 3.888; An-Nasa’i dalam Amalul Yaum wa Lailah, 257).

Begitulah pengakuan (taqrir) beliau Nabi yang tidak mengingkari sama sekali ketika dipanggil dengan menggunakan kata sayyid.

  1. Nabi Menisbatkan Kata Sayyid kepada Beberapa Sahabat

Dari Aisyah r.a. dalam menceritakan datangnya sahabat Sa’d bin Muadz ketika dipanggil oleh Nabi untuk mengeluarkan keputusan hukum dalam peristiwa Bani Quraizhah. Beliau bersabda, “Berdirilah kalian untuk sayyid kalian dan persilahkanlah dia,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dari jalur Abu Said Al-Khudry, lebih ringkas sedikit “Berdirilah kalian semua untuk sayyid kalian,” (HR Bukhari, 3.043).

Dari Abu Bakrah r.a. yang melihat Rasulullah Saw. sedang berkhutbah dan Hasan bin Ali sedang duduk di sampingnya. Beliau menghadap kepada hadirin dan terkadang menghadap kepadanya seraya bersabda, “Sungguh, putraku ini adalah pemimpin (sayyid). Dan kelak, dengan putraku ini, Allah akan mendamaikan di antara dua golongan besar yang berseteru dari orang-orang Islam,” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Hasan dan Husain adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga,” (HR Tirmidzi, 3.768).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda terhadap Fatimah r.a. “Apakah kamu tidak rida jika kamu akan menjadi pemimpin (Sayidah) para perempuan surga?” (HR Tirmidzi).

  1. Sahabat Menisbatkan Sayyidina kepada Sahabat Lain

Diriwayatkan bahwa Umar r.a. berkata, “Abu Bakar adalah pemimpin kita (sayyidina) dan telah memerdekakan pemimpin kita pula yaitu Bilal,” (HR Bukhari).

Diriwayatkan pula bahwa Umar berkata kepada Abu Bakar dalam peristiwa baiat khilafah, “Bahkan kami akan membaiat kamu. Sungguh kamu adalah pemimpin kita (sayyidina), orang yang paling bagus di antara kita, yang paling cinta kepada Rasulullah Saw.” Lalu, Umar mengambil tangannya dan membaiatnya menjadi khalifah. (HR Bukhari).

Dan, masih banyak hadis tentang hal ini yang kiranya sudah kita cukupi dengan hadis-hadis yang disebutkan sebagai tendensi tentang masalah ini. Sebenarnya masih banyak hadisnya, tetapi kami berusaha mengambil hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, agar supaya predikat kesahihan hadisnya tidak dipermasalahkan oleh orang-orang yang mengaku menguasai hadis.

Baca juga:  Ini Kerancuan-kerancuan Cara Berpikir ala Salafi yang Kontradiktif dan Bikin Bingung

[nextpage title=”4. Dalil Secara Logika”]

4. Dalil Secara Logika

Sesuai fakta dan realitas, semua orang pasti mempunyai figur yang ia hormati dalam kehidupan. Misalnya, anak menghormati ayahnya, murid kepada gurunya, masyarakat kepada para pejabat tingginya, dll.

Pertanyaannya, sopankah jika anak memanggil bapaknya dengan langsung memanggil namanya tanpa ada penisbatan ‘”bapak”, “ayah”, dll.? Sopankah jika seorang murid memanggil gurunya dengan langsung menggunakan namanya? Begitu pula masyarakat, sopankah memanggil bapak presiden dengan langsung memanggil namanya di hadapannya?

Jika semua itu terjadi, yakni anak langsung memanggil nama bapaknya dan seterusnya, pastilah semua orang mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak bejat, anak durhaka. Murid yang kurang waras, tak berpendidikan. Masyarakat yang sombong, tidak tau sopan santun, dll.

Dalam kaitannya dengan memanggil beliau Nabi, manusia paling mulia, paling dicintai Allah, paling sempurna segalanya di alam semesta, pengen dikatakan orang seperti apa jika Anda memanggil beliau Nabi dengan langsung menggunakan nama beliau? Kata sayyidina adalah kata yang tepat disandangkan oleh beliau Nabi ditilik dari kandungan maknanya secara bahasa. Itulah logikanya sebagai renungan.

Nah, setelah kita mengetahui semua itu, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. Pantaskah kita memanggil beliau Nabi dengan langsung menggunakan nama beliau? Tidak lain bahwa panggilan kita kepada beliau Nabi menggunakan sayyidina adalah sopan santun, adab, tata karma kita kepada beliau. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Janganlah kamu jadikan panggilan rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain,” (QS An-Nur [25]: 63).

Ayat ini secara tegas melarang panggilan kita kepada Nabi dengan langsung menggunakan nama beliau. Ayat ini turun ketika sebagian sahabat memanggil beliau dengan langsung menggunakan nama beliau ‘Muhammad’, ‘Ahmad’, dll.

Kita juga diwajibkan memuliakan Nabi, seperti halnya firman Allah Swt. berikut:

“Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS Al-A’raf [7]: 157).

Dari semua itu, kita bisa mengatakan bahwa kebiasaan kita memanggil beliau Nabi dengan kata sayyidina adalah dianjurkan sesuai dua ayat terakhir tersebut. Kata tersebut juga tidak bidah dengan bertendensi dengan ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sudah disebutkan. Panggilan kita menggunakan kata tersebut, tidak mengurangi derajat Nabi.

 

Muslihin, Lc.

Muslihin, Lc.

Alumni Universitas Imam Syafi'i Mukalla Hadramaut Yaman. Anggota Bahtsul Masail PCNU Kab. Grobogan. Alumni Pon Pes Al-Ma'ruf Bandungsari, Pon Pes Al-Maymun Kauman Klambu Grobogan.
Muslihin, Lc.