Penjelasan terkait Pernyataan Quraish Shihab Kalau Nabi Tak Dijamin Masuk Surga

  • 56
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares

DatDut.Com¬†– Setelah ramai jadi bahan perbincangan di media sosial hingga hari ini dan ada beberapa orang yang bertanya secara langsung pendapat saya, saya lalu mencari video di youtube yang berisi materi yang disampaikan Prof. M. Quraish Shihab di acara “Tafsir Al-Misbah” pada salah satu stasiun televisi swasta.

Setelah ketemu, saya putar berulang-ulang video itu. Saya ingin memastikan bagian yang kemudian membuat Pak Quraish dianggap sesat. Saya perhatikan bagian per bagian dari menit ke-19-an yang katanya berisi pernyataan Pak Quraish yang kontroversial itu. Namun, sampai beberapa kali memutarnya, saya tak menemukan sesuatu yang janggal atau salah. Apalagi apa yang disampaikan Pak Quraish itu dasarnya hadis sahih riwayat Muslim.

Mungkin bagian yang sedikit membuat orang ada yang berpikir lain dan hingga ada yang menuduh beliau sesat adalah di bagian “tidak ada jaminan” yang oleh Pak Quraish diulang dua kali sebagai bentuk penekanan.

Maka, pada bagian ini saya selalu senang mengutip pendapat seorang ahli bahasa¬†dalam memahami teks. Teks tidak bisa dipahami sendiri, tanpa melibatkan koteks (qarinah) dan konteks (siyaq). Kalau memahami hanya teks tanpa memerhatikan koteks, kita bisa salah memahami ayat “wayl lil mushallin” (neraka wayl bagi orang yang salat). Tanpa memperhatikan konteks, kita juga bisa keliru dalam memahami ayat “fihima itsmun kabirun wa manafi’u lin nas” (ada dosa besar dalam khamr dan judi dan banyak juga manfaatnya bagi masyarakat).

Baca juga:  Mencatut Nama Imam Syafi`i untuk Kepentingan Politik

Saya Ahad lalu di salah satu masjid yang cukup besar di bilangan Selatan Jakarta, menyampaikan di pengajian subuh sesuatu yg membuat jamaah tak bisa menyembunyikan keterperangahannya. Saya menceritakan bahwa Nabi suatu kali bercukur dan rambut yang dicukur itu diberikan pada Abu Thalhah untuk dibagikan pada para sahabat lainnya.

Jamaah rupanya kaget dan beberapa akhirnya menanyakan hal ini di sesi tanya-jawab. Namun, setelah tahu hadisnya sahih riwayat Bukhari dan Muslim, mereka pun menyadari bahwa memang ada praktik seperti itu di zaman Nabi. Saya juga memperkuat penjelasan saya dengan riwayat Muslim yang menunjukkan bahwa para sahabat juga berlomba-lomba salat di tempat di mana Nabi pernah salat.

Baca juga:  Soal Sebutan Kafir

Nah, saya kemudian berkesimpulan, masyarakat juga harus diedukasi agar tidak mudah dihasut dan diperdaya oleh orang-orang yang punya kepentingan terselubung baik untuk kelompok maupun pribadi. Bila benar nama yang diduga menebar tuduhan sesat adalah orang yang selama ini saya tahu aktivitasnya, saya justru mencium adanya motif numpang tenar. Semoga dugaan ini salah. Maka, kita patut waspada pada siapa saja yang punya motif hubbusy syuhrah (pengen tenar). Karena orang seperti itu, pasti mau melakukan apa saja agar bisa tenar. Berikut video yang memuat pernyataan Pak Quraish itu.

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *