Konser Musik di UIN Jakarta, Suatu Kemunduran Akademik?

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ada yang bilang di tahun 2017 ini UIN Jakarta mirip dengan Balai Sarbini, sebuah gedung konser yang terletak di Selatan Jakarta. Alasannya adalah terhitung sejak awal tahun ini lapangan Student Center dan lapangan Triguna sering digunakan untuk konser-konser musik dari musisi dan genre yang berbeda-beda.

UIN Jakarta disambangi oleh beberapa penyanyi atau group band yang sedang naik daun atau yang sudah melegenda di kancah permusikan Indonesia, diantaranya ada, Payung Teduh, Danilla Riyadi, Fourtwnty, Sheilla On 7, The Sigit, Sisitipsi, Float, dan Tulus.

Tidak ada yang tau pasti apa yang jadi penyebab UIN bisa mirip dengan Balai Sarbini, mungkin ini pertanda dari sebuah pergeseran zaman yang sangat signifikan. Pada masa IAIN dulu, dosen-dosen sering bercerita bahwa IAIN ini adalah lokusnya pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, hingga sering kali predikat liberal disematkan oleh orang-orang untuk IAIN saat itu.

Tampaknya predikat itu tidak lah sepenuhnya benar karena harus diakui bersama sejak tahun 80-an sampai sekarang alumni-alumni UIN banyak yang menjadi pilar-pilar Islam baik di struktur pemerintahan atau pun di ranah kultural, dari yang terkenal/kontroversial, sampai yang sederhana dan biasa saja.

Harus diakui memang hukum dari dunia adalah berubah, zaman akan terus berubah, berubah menuju kemajuan menurut orang-orang optimistis dan berubah menuju kemunduran bagi orang-orang pesimistis.

Ramainya konser musik di UIN bagi sebagian orang adalah sebuah kemajuan, namun bagi sebagian lainnya merupakan dekadensi. Lantas dari mana kita harus melihat kondisi UIN sekarang ?. Sebaiknya kita harus melihat UIN secara utuh, tidak melihat dari satu sisi lalu menghapus sisi yang lain.

UIN adalah lembaga pendidikan Islam miliki negara. Sama dengan kampus-kampus yang lain UIN pun menganut Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sama, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Secara formal UIN Jakarta sudah melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini dengan baik. Ada pembelajaran di kelas antara dosen dengan mahasiswa.

Studi lapangan atau riset yang sering dilakukan oleh mahasiswa atau dosen dan juga ada lembaga penelitian milik UIN, terakhir lembaga pengabdian juga ada dan pengabdian dilakukan rutin terutama yang rutin dilakukan setahun sekali yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh para mahasiswa. Secara formal UIN sudah melaksanakan ketiganya dengan cukup baik.

Meski secara formal UIN sudah melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik belum tentu kualitas yang sekarang ada juga sudah baik. Maka dari sinilah kita melihat sejauh mana pergeseran budaya terjadi terutama budaya mahasiswanya.

Pendidikan yang diterima mahasiswa di dalam atau pun di luar kelas apakah sejauh ini berubah menuju ketitik yang lebih baik atau sebaliknya? Jumlah mahasiswa yang ada sekarang apakah berbanding lurus dengan prestasi yang dicapai, baik prestasi individu atau prestasi atas nama UIN.

Banyaknya prestasi akademis dan non akademis menjadi ukuran perubahan budaya mahasiswa, jika memang prestasi yang dihasilkan lebih banyak dan berpengaruh luas dari era 80-an, maka jelas ini adalah pergeseran zaman menuju kemajuan, namun sebaliknya jika lebih sedikit berprestasi dan tidak memiliki pengaruh maka ini adalah suatu pergeseran menuju kemunduran.

Mengapa prestasi akademis dan non-akademis dijadikan sebagai indikator dari pergeseran sebuah budaya mahasiswa? Prestasi adalah sesuatu yang harus ada dalam diri seorang mahasiswa, karena pada dasarnya setiap manusia punya potensi untuk meraih prestasi dari modal awalnya, yaitu berupa akal yang harus didukung oleh kegiatan lain dalam pengembangannya.

Prestasi akan dihasilkan jika iklim belajar berjalan dengan baik, letak utamanya bukan pada fasilitas yang mewah, tapi pada metode pembelajaran yang dijalankan.

Fasilitas yang mempuni memang penting, seperti harus adanya ruang kelas yang cukup, perpustakaan yang lengkap dan tersedianya jaringan internet, tapi semuanya dirasa kurang bermanfaat kalausannya metode pembelajaran yang diberikan masih ketinggal zaman, seperti pengajaran satu arah dari dosen (ceramah).

Maka dari sanalah kita bisa mengetahui menuju kemana pergeseran yang sedang terjadi pada mahasiswa UIN, apakah menuju sebuah kemajuan atau kemunduran.

Sekarang ini apa saja prestasi yang sudah dihasilkan oleh mahasiswa UIN, berapa jumlahnya dan sejauh mana jangkauan pengaruhnya untuk dunia akademis dan dunia kemasyarakatan. Semuanya hanya bisa dijawab dengan data kongkrit dari pihak kampus atau pihak lain di luar kampus, bukan hanya sekedar spekulasi atau apologi.

 

Filosofi Nasi dan Lauk

“Kalau belum makan nasi itu belum makan namanya,” begitu orang Indonesia sering berkata. Misalkan kita sudah makan roti, pizza atau gorengan, kita sering merasa belum kenyang, karena bagi kita kenyang itu kalau sudah makan nasi pake lauk. Lauk yang kita makan bisa bervariasi yang bisa disesuaikan dengan kocek, apalagi kocek mahasiswa.

Lantas apa hubungannya makan nasi pake lauk dengan pergeseran budaya mahasiswa ?. Membaca buku, diskusi, dan  menulis adalah ibarat makan nasi dan aktifitas main futsal, musik, nongkrong dan yang lainnya adalah lauknya.

Karena nasi adalah kebutuhan pokok maka harus kita makan, karena kalau tidak kita makan nasi (karbohidrat) maka badan kita akan kekurangan energi atau lemas.

Sedangkan lauknya adalah pelengkap yang isinya mengandung nutrisi yang jika ditinggalkan juga akan membuat hambar rasa dari nasi. Membaca, menulis, dan berdiskusi tidak bisa ditinggalkan karena jika ditinggalkan maka seorang mahasiswa akan kehilangan energinya, akan tampil menjadi sosok yang lemah dan tidak bisa berdiri tegak.

Aktivitas seperti bermain futsal, bermusik, dan nongkrong juga jangan ditinggalkan sepenuhnya, karena kegiatan itu mampu memberikan banyak energi positif yang berperan sebagai nutrisi dalam sebuah lauk.

Melihat mahasiswa sekarang dari filosofi nasi dan lauk ini kenyataannya berbeda. Membaca, menulis, dan berdiskusi semakin jauh ditinggalkan. Baca, berdiskusi, dan menulis hanya sebatas formalitas untuk memenuhi tugas dosen, bukan menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari seperti makan nasi.

Futsal, bermusik, dan nongkrong malah lebih menonjol sekarang ini, mereka hanya memakan lauknya tanpa memakan nasi, sudah disebutkan sebelumnya “belum makan nasi maka belum makan”. Karena tidak makan nasi (tidak baca buku, diskusi, dan menulis), maka yang terjadi mahasiswa sekarang menjadi mahasiswa yang tidak berenergi karena kekurangan gizi.

Mereka juga lupa meminum air bening yang mampu melancarkan jalannya nasi dan lauk ke dalam lambung. Air bening itu ibarat nilai-nilai keluhuran yang diajarkan oleh agama yang mampu melancarkan segala kegiatannya di bawah nilai-nilai ketauhidan.

Mahasiswa UIN sudah banyak yang meinggalkan kebutuhan pokoknya sebagai mahasiswa, mereka lupa makan nasi, dan minum air bening. Mereka hanya memakan lauk dan kadang mengganti nasi dengan makanan cepat saji (fast food).

Dalam sudut pandang filosofi ini mungkin bisa dilihat konser musik yang tempo hari dilakukan di UIN merupakan sebuah kemajuan atau kemunduran dengan indikatornya adalah jumlah prestasi akademis dan non-akademis serta jangkauan pengaruhnya.

Apakah di belakang konser musik yang megah masih ada mahasiswa-mahasiswa yang masih makan nasi, minum air bening beserta lauknya, atau kebanyak dari mereka hanya memakan lauknya.

Seberubah apapun zaman, orang Indonesia tidak bisa meninggalkan nasi, sagu, dan atau jagung sebagai makanan pokonya. Orang Indonesia harus tetap memakan makanan pokoknya untu memenuhi energi dalam dirinya.

Begitupun mahasiswa seberubah apapun zaman, kebutuhan baca buku, diskusi, dan menulis tidak bisa ditinggalkan begitu saja, aktivitas yang terlihat semakin klasik dan tidak menarik ini tetap suatu kebutuhan pokok.

Mahasiswa akan terus produktif melahirkan prestasi jika mereka telah memenuhi kebutuhan pokoknya terlebih dahulu dan ditemani lauknya. Pergesaran budaya mahasiswa akan dikatakan menuju titik kemajuan jika antara kebutuhan pokok dan lauknya bisa berimbang atau pribahasanya “empat sehat, lima sempurna”.

Tidak hanya konser band yang tempo hari dilaksanakan di UIN, hal lain seperti menjamurnya mahasiswa yang nongkrong di café setiap malam diantara mereka, atau hal lainnya yang berkaitan dengan aktifitas mereka.

Selama apa yang mereka lakukan menghasilkan prestasi akademis dan non-akademis yang sebanding dan berpengaruh luas maka kegiatan-kegiatan yang zaman IAIN tidak pernah ada merupakan sebuah perubahan zaman menuju titik kemajuannya.