Ingin Merukunkan NU dan Wahabi? Tak Perlu Serukan 5 Nasihat Ini kepada Kalangan Nahdliyyin

0 0
  • 74
  •  
  •  
  •  
    74
    Shares

Dibaca: 1171

Waktu Baca4 Menit, 29 Detik

DatDut.Com – Ibarat obat, nasihat, saran atau anjuran pun harus sesuai dan tepat sasaran. Sesuai dengan kebutuhan, tepat kepada siapa saran itu harus disampaikan. Kalau salah sasaran, bukannya berguna, tapi malah menyesatkan, bahkan terkesan lucu.

Terkait konflik antar aliran dalam Islam, usaha untuk mencari titik temu agar tidak terjadi perpecahan lebih parah patut diapresiasi. Bagaimanapun, selama masih masih berkiblatkan Kakbah dan menjalankan kewajiban salat lima waktu, tidak layak seseorang dicap sebagai kafir. Itulah kaidah yang sering dikutip para ulama, termasuk Ibnu Taymiyyah, sebagaimana fatwanya yang dikutip almeshkat.net.

Sedikit menguak sejarah, NU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas keagamaan terbesar yang pernah terlibat konflik cukup panjang. Perbedaan pemikiran dan sebagian amaliyah, meskipun didirikan oleh dua orang tokoh sealiran, telah melahirkan dinding pemisah dan konflik di tataran warga.

Namun seiring waktu dan semakin dewasanya pemikiran, kini NU dan Muhammadiyah sudah saling memahami dan menghindari persoalan khilafiyah. NU dan Muhammadiyah menekuni bidang dakwah masing-masing dengan jamaah yang juga khas dengan segmen yang berbeda.

Di saat kedua ormas besar ini mulai rukun, muncullah gerakan dakwah Wahabi dengan berbagai variannya yang kian gencar semenjak terbukanya era reformasi. Hal-hal yang dulu diperselisihkan antara NU-Muhammadiyah kembali diungkit dan kalangan NU kembali harus menangkis dan melindungi warganya dari serangan “dakwah” tak santun aliran ini. Titik awal, siapa yang diganggu dan siapa yang mengganggu, harus kita ingat dan dijadikan titik awal menemukan usaha mendamaikan cekcok antaraliran.

Nah, lima ungkapan nasihat berikut ini sering terlontarkan dalam berbagai kesempatan. Sayangnya, banyak dai, penceramah, kadang juga dosen dalam seminar-seminar keagamaan yang salah menyampaikan hal-hal berikut ini. Salah sasaran. Sering juga terlontar di tengah perdebatan sengit di kolom-kolom komentar. Sebaiknya, dalam ranah mendamaikan konflik antar aliran Islam, tidak perlu menyampaikan 5 hal ini kepada warga NU:

[nextpage title=”1. Jangan Suka Berdebat alias Jidal”]

1. Jangan Suka Berdebat alias Jidal

Bagi kalangan NU, santri khususnya, sudah terbiasa dengan perdebatan dalam rangka mencari kebenaran. Istilahnya musyawarah atau mudzakarah. Sedangkan debat dalam rangka mencari-cari kesalahan, bukan menemukan titik kebenaran lebih tepat disebut jidal alias debat kusir. Sebagaimana dianjurkan dalam Ta’limul Muta’alim, pelajar dianjurkan melakukan musyawarah dan mudzakarah namun harus menghindari jidal.

Ketika sekian banyak amaliyah kaum Nahdliyin diserang dengan vonis bidah, syirik, warisan Hindu, meniru Budha, tentu para ulama dan pakar ormas ini tidak tinggal diam warganya dilemahkan. Lalu muncullah jawaban, klarifikasi, bantahan hingga tantangan diskusi agar jelas apakah tuduhan itu benar.

Baca juga:  NU antara Keaswajaan dan Kebangsaan

Lalu tiba-tiba ada yang menyerang dengan nasihat, “Jangan suka berdebat, agama bukan untuk diperdebatkan.” Sayangnya, ungkapan itu justru sering keluar dari kelompok penuduh bidah sendiri. Dengan itu mereka mengklaim kebenaran hanya milik mereka sendiri, karena melarang pihak tervonis untuk membantah. Zalim.

[nextpage title=”2. Jangan Membongkar Aib”]

2. Jangan Membongkar Aib

Siapa yang memulai mengotak-atik dan bongkar-bongkar amaliyah golongan lain? Lalu, salahkah bila pihak yang diusik itu membantah dan membongkar sisi sesat kelompok yang berbahaya? Di sinilah kita merasa sedih. Ketika kelompok yang divonis sesat, bidah, syirik dan lainnya bangkit membela diri, mengungkap kerusakan dalil dan cara berpikir kelompok yang usil, ada yang sok bijak dengan menasohati, tidak perlu membongkar-bongkar aib orang lain.

Kalau ungkapan itu keluar dari tokoh NU sendiri, bisa jadi merupakan peredam agar tidak keterlaluan menyerang balik.

[nextpage title=”3. Hormatilah Perbedaan”]

3. Hormatilah Perbedaan

Hormati perbedaan. Soal berbeda pendapat, khilafiyah, beda mazhab, jangan Anda minta orang NU untuk memahaminya. Karena NU sudah sejak lahir memahami perbedaan. Bagaimana tidak? Lha wong jelas-jelas mengakui dan mengikuti salah satu dari 4 mazhab fikih, kok.

Sejak lahirnya, memang ormas ini memposisikan diri sebagai penyeimbang dari golongan yang anti terhadap perbedaan. Jadi, nasihat untuk menghormati perbedaan, yang disampaikan kepada komunitas warga NU adalah nasihat salah sasaran.

[nextpage title=”4. Semoga Mendapat Hidayah”]

4. Semoga Mendapat Hidayah

Hidayah. Dalam al-Furuq al-Lughowiyyah, halaman 42, hidayah adalah petunjuk secara umum. Ada hidayah kepada kebenaran ada juda hidayah ke dalam kesesatan dan siksaan. Kadang, orang yang sudah dalam hidayah keislaman pun masih memohon hidayah (Q.S. Al-Fatihah, 6). Dalam pemakaian umum kita, ungkapan semoga mendapat hidayah lebih sering berkonotasi negatif. Artinya, orang yang didoakan dianggap dalam kesesatan.

Baca juga:  Foto Ini Diklaim sebagai Jamuan Makan Kapolda Jabar untuk GMBI Usai Bentrok dengan FPI, Padahal…

Ungkapan ini sering digunakan kalangan Wahabi dan simpatisannya ketika terjadi kebuntuan diskusi dengan orang NU. Karena merasa benar meskipun hujjahnya jelas lemah, dan menganggap lawannya sesat, maka terlontarlah “semoga mendapat hidayah”. Inilah yang salah sasaran dan salah ungkapan. Hem… aminkan saja, dengan arti masing-masing.

[nextpage title=”5. Tak Usah Mengurusi Amal Orang lain”]

5. Tak Usah Mengurusi Amal Orang lain

Karena semakin runyam dan ruwetnya silang pendapat. Baik dalam diskusi dan debat via online di medsos maupun via offline dengan buku-buku dan media cetak, sebagian orang yang tidak tahu ataupun lupa sejarah dan asal-muasal kesemrawutan ini berkomentar, “Sudahlah, tidak usah mengurusi amal orang lain!”

Maksudnya, masing-masing beramallah sesuai keyakinan dan mazhabnya, tak usah menyalahkan dan menjelekkan amal kelompok lain. Sebatas ini bagus sekali nasihat tersebut. Tapi jadi aneh kalau itu disampaikan kepada kalangan warga NU yang merupakan obyek penderita dari serangan-serangan “fatwa” dari kelompok tertentu.

Nah, bagi yang ingin mempersatukan umat, menghilangkan persengketaan, sampaikan nasihat Anda seperti di atas ataupun ungkapan bijak sejenisnya kepada sasaran yang tepat. Peringatkanlah mereka yang zalim agar tidak meneruskan kezalimannya. Selamatkanlah mereka yang dizalimi agar tak selalu jadi korban. Jangan malah membelenggu dan mengikat yang terzalimi agar pelaku lebih leluasa melakukan kezalimannya. Hentikan saja tudingan-tudingan miring kepada NU. Yakinlah, mereka akan bersedia kembali ramah dan santun. Wallahu A’lam.

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 74
    Shares