Konflik Suriah dan Media Hoax

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Salah satu sisi perang di Suriah yang telah berlangsung tujuh tahun ini adalah pemberitaan tentang perang itu sendiri. Media cetak dan media elektronik umumnya mengandalkan berita perang Suriah dari media arus utama Barat yang berat sebelah. Akibatnya terjadi kekeliruan persepsi tragedi ini.

Orang cenderung membebankan semua kesalahan ditangan rezim Bashar Al-Assad. Dampaknya demo oleh beberapa kalangan di Jakartayang mengecam Bashar Al-Assad dengan menyebutnya pembantai rakyatnya sendiri.

Salah persepsi ini bersumber dari pemberitaan media yang kurang berimbang, selain tidak mengirim langsung wartawan ke lapangan, media di Indonesia menerjemahkan berita-berita dari media asing yang kebanyakan menyandarkan informasi tersebut pada lembaga bernama Syrian Observatory for Human Reights (SOHR) yang berbasis di Inggris.

Anti-Bashar Al-Assad

LSM ini dikelola oleh keturunan Suriah yang jelas-jelas anti-Bashar Al-Assad. Sumber informasi dari lapangan didapatnya dari para “aktivis oposisi”. Sejumlah video dan foto dari lapangan pun disediakan oleh LSM bentukan intelijen Barat, White Helmets.

Tidak jarang kita jumpai video dari zona perang lain atau video yang disutradarai dan disebarluaskan sebagai berita. Jangankan melakukan asas jurnalisme terpenting, yaitu mengonfirmasi berita dari pikhak yang berseberangan, media barat cenderung menganggap pemberitaan perang Suriah sebagai tugas patriotik mendudkung kebijakan negerinya.

Akhir 2016 jurnalis perang kawakan Inggris Robert Fisk menulis, “Sangat banyak kerusakan yang mencederai kredibilitas jurnalisme dan politisi dengan menerima hanya satu sisi berita, ketika taka da satupun reporter yang bisa mengonfirmasi apa yang mereka beritakan”.

Keprihatinan Robert Fisk terkait dengan menyesatkannya media Barat dalam pemberitaan konflik dan proses pembebasan Aleppo dan Ghouta dari tangan milisi oposisi.

Sama seperti pemberitaan yang hari-hari ini kita baca tentang konflik di Ghouta. Waktu itu Aleppo dikabarkan sedang menjadi korban genosida oleh tentara Suriah.

Namum berita itu akhirnya terbantahkan ketika setelah dibebaskan pada 25 Desember 2016 muncul berita gegap gempitanya ribuan warga Aleppo merayakan Natal. Inilah Natal pertama yang mereka rayakan setelah lima tahun tercekam ketakutan atas kehadiran kelompok-kelompok fanatik yang menghalalkan teror demi membentuk negara “Khilafah”.

Menurut The Washington Post, Rabu (28/2), butuh waktu lama bagi pemerintahan Damaskus untuk merebut kembali Ghouta timur karena puluhan ribu milisi yang bercokol disana bertahun-tahun. Selain sudah membangun terowongan bawah tanah untuk perlindungan, bahkan mereka juga memiliki persenjataan yang sangat lengkap.

The Washington Post bercerita, selain menghujani damaskus dengan mortit, milisi ekstrem itu pernah mengurung kelompok minoritas Alawi di kerengkeng dan ditaruh di pusat-pusat keramaian sebagai tameng serangan dari Damaskus.

Baca juga:  Apa yang Sebetulnya Terjadi di Suriah? Ini Pernyataan Sikap Persatuan Pelajar Indonesia di Suriah

Pemberitaan tentang operasi tentara Suriah di Ghouta Timur sebenarnya adalah pengulangan dari cerita pembebasan di Aleppo, melihat tentara milisi di Ghouta makin terdesak, pers dan Intelijen Barat menyebarkan berita genosida di Ghouta dan meminta perhatian di dunia.

Setiap kali milisi anti pemerintah yang merupakan proksi barat untuk menjatuhkan Bashar Al-Assad terdesak, siding-sidang darurat Dewan Keamanan PBB diadakan untuk memaksakan gencatan senjata. Tidak lupa pemberitaan tentang penggunanaa senjata kimia oleh tentara Bashar Al-Assad yang tidak pernah terbukti.

Pemberitaan yang massif sebenarnya hanya mengindikasikan bahwa milisi jihadis yang terdiri dari sejumlah tentara asing bentukan Barat yang mengalami kekalahan.

Berita terbaru membenarkan hal ini Ghouta mulai berani berkelompok melawan milisi bersenjata yang selama ini menyandera mereka sebagai respons kedatangan tentara Suriah.

Sangatlah mengherankan apabila kita gagal membaca motivasi Barat dalam perang Suriah setelah menyaksikan jatuh dan hancurnya Libya serta tragedi agresi Arab Saudi dengan Sokongan Amerika Serikat di Yaman yang masih berlangsung sampai saat ini.

Bagi AS dan kawan-kawan, Bashar Al-Assad yang membangkang terhadap kemauan Barat, membahayakan eksistensi Israel, sekutu Iran dan Hizbullah di Lebanon, serta kawan dekat Rusia. Maka harus distop dan disingkirkan. Tak ada niat mereka mendirikan demokrasi disana karena AS melindungi rezim-rezim otoriter di Timur Tengah.

Namun tidak semudah menjatuhkan Moammar Khadafi, Barat terus terkejut berhadapan dengan Bashar Al-Assad. Ternyata Suriah tak semudah Libya untuk ditaklukkan.

Kegagalan demi kegagalan dihadapi Barat meski dengan menciptakan trgaedi kemanusiaan terbesar abad ini. Mengapa ? Pertama, Bashar Al-Assad bukanlah Muammar Khadafi dan Suriah bukanlah Libya yang tidak siap menghadapi maneuver Barat.

Tidak pula seperti Saddam Hussein yang dibenci rakyatnya, Bashar Al-Assad didukung oleh mayoritas warga Suriah yang bersedia berkorban untuk mempertahankan kedaulatan negerinya.

Bashar Al-Assad juga punya teman setia di Iran dan Lebanon yang siap membantu. Akhirnya Rusia memutuskan tidak membiarkan Barat sesukanya menguasai Timteng.

Melawan Teroris

Seperti banyak diberitakan sejak 18 Februari, Pemerintah Suriah melakukan operasi pembebasan di Ghouta, dipinggiran Damaskus dari tangan milisi bersenjata yang terafiliasi Al-Qaeda dan ideologi ekstrem lain.

Mereka adalah Jaiysh al-Islam, Jabhat An-Nusra, Levant Liberation Committee (Haiat Tahrir al-Sham) dan Faylaq Ar-Rahman. Semua kelompok berambisi membentuk khilafah di Suriah.

Wawancara Sky News Australia beberapa hari lalu dengan Dr Marcus Papadopoulos, seorang pengamat politik asal Inggris seharus membuat kita sadar.

Dia mengingatkan kepada Publik Australia bahwa yang dilakukan tentara Suriah di Ghouta Timur adalah kelompok dengan ideologi sama dengan mereka pelaku Bom Bali.

Baca juga:  Wahai Kaum Terpelajar! Adillah Sejak di Alam Pikiran hingga Perbuatan

Bom Bali I merupakan aksi teroris terbesar di Indonesia yang menewaskan dan melukai ratusan orang yang kebanyakan berasal dari Australia dan Indonesia.

Anehnya sebagai bangsa yang pernah secara langsung mengalami aksi brutal kelompok ekstrem atas nama agama, simpati dan empati kita terhadap pemerintah Suriah terasa minim. Padahal bangsa Suriah sedang mengalami kelompok ekstremis dengan ideologi yang sama.

Latar Belakang Konflik Suriah

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi konflik di Suriah, seperti:

(1) Ketidakpuasan terhadap pemerintah (hal ini pasti terjadi di setiap negara);

(2) intervensi Asing dengan mensuplai senjata dan para milisi Suriah dikarenakan dukungan total Bashar Al-Assad terhadap kemerdekaan Palestina;

(3) perebutan eksistensi dua kekuatan besar (Rusia dan Amerika Serikat);

(4) perebutan pengaruh di Timur tengah antara Arab Saudi, Iran, blok Negara-negara yang pro terhadap Ikhwanul Muslimin;

(5) Isu pemasangan Minyak Qatar-Eropa yang melewati Suriah dan Turki

Semua konflik yang terjadi di Suriah bisa saja terjadi di Negara-negara Islam umumnya bahkan Indonesia khususnya.

Dapatkah kita membayangkan betapa porak porandanya negeri kita andai tahun 1998 Soeharto menolak mundur dan kemudian kelompok reformis mendatangkan milisi asing untuk bertempur melawan Soeharto ? Atau, andai ribut-ribut jelang Pilkada di berbagai daerah dicampuri oleh kekuatan milisi asing ?

Indonesia adalah Negara yang plural dengan dasar Negara pancasila. Konflik SUriah seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa tidak ada tempat di Nusantara bagi kelompok ekstremis yang ingin mengobarkan konflik dan peperangan.

Tantangan bagi media kita adalah menjadi media yang bertanggung jawab dalam menjbarkan bahaya ekstremisme dengan menyampaikan pemberitaan faktual mengenai konflik Suriah dari sumber bonafide.Posisi pemerintah kita sudah benar dan tidak terpengaruh oleh pemberitaan media yang berat sebelah.

Upaya dan kewaspadaan ini harus terus dipelihara. Langkah yang lebih maju tentunya apabila ada peluang bagi pemerintah kita untuk berperan sebagai sebagai juru damai diantara faksi yang bertikai disana seperti yang sudah diusahakan di Afghanistan.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Suherman

Dai Ambassador Cordofa Dompet Dhu’afa dan Wakil Komisi Dakwah Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Negeri 21 Jakarta
Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close