Klayu dan Ketakutan Kita sebagai Manusia

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Badrun berjinjit keluar rumahnya dari pintu samping. Sementara istrinya dan si kecil yang 7 hari lalu genap berumur 3 tahun berada di depan televisi menikmati tayangan untuk anak.

Sesekali si bocah membuka mulut dan sang ibu menyuapkan bubur ayam kesukaannya.

Bukan cuma sesekali bapak muda itu harus mlipir keluar rumah saat hendak berangkat kerja, sekedar untuk menghindari pantauan anaknya.

Kalau ndilalah kepergok, si bocah pun spontan merengek minta ikut. Kalau tak dituruti, jegerrrr.. tangisnya pecah membahana. Klayu, begitu orang Jawa menyebutnya. Pingin ikut, nggak mau ditinggal, maunya dibersamai.

Begitulah kebiasaan si bocah saat ditinggal bapaknya pergi. Seolah akan merasa ditinggal pergi jauh dan dalam waktu yang lama.

Meski sebenarnya cuma ditinggal beli air isi ulang yang jaraknya 10 menitan dari rumah. Tapi begitulah anak kecil.

Namun tanpa sadar, kita yang merasa diri sebagai manusia dewasa ini pun memiliki sifat laiknya si kecil.

Kadang kala kita didera perasaan kuatir akan ditinggal oleh sesuatu yang kita sayangi. Sebagaimana bin Badrun yang tak ingin bapaknya pergi bekerja.

Baca juga:  Utari - Bagian 2

Meski kita tahu bahwa semua yang ada di hadapan kita, yang kita genggam, yang kita merasa memilikinya, semuanya adalah fana dan akan hilang tak berbekas.

Dan di titik itulah kita tersungkur di bawah level seorang anak. Sebab si kecil itu belum mengerti arti fana sedangkan kita sepenuhnya paham akan hal itu.

Sehingga seharusnya kita bertanya-tanya, mengapa kita justru terpedaya pada yang fana.

Dunia adalah sebuah wahana yang berisi segala bentuk permainan dan polesan. Termasuk yang mempermainkan kita, memutarbalikkan logika serta meletakkan kewarasan di bawah alas kaki.

Tak jarang tenaga dan waktu tersita untuk berbagai hal yang hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lahiriyah yang tak utama, hanya berguna untuk memenuhi hasrat yang tak penting.

Kekuatiran kita akan hilangnya pekerjaan lebih besar dari keyakinan kita bahwa Tuhan telah menjamin rezeki setiap makhluk.

Kita terbiasa mengikuti logika linier, hukum sebab akibat, meski pada kenyataannya tak semua masalah terselesaikan dengan semua itu.

Baca juga:  Puisi Ini Menyindir Orang yang Merasa Paling Baik dan Paling Benar Sendiri

Solusi bisa datang dari mana saja dan tak terduga sebelumnya. Kita terbiasa berpikir secara materialistik tanpa melibatkan spiritualitas, meski kita sendiri kerap bersemboyan “berusaha dan berdoa”.

Hingga pada akhirnya, kita lebih memilih kehilangan waktu untuk lebih dekat pada Tuhan daripada kehilangan kesempatan untuk dipandang ‘lebih’ di mata manusia.

Keinginan kita untuk selalu dibersamai kerap terbatas pada kenyataan yang sejatinya nisbi.

Rasa takut kehilangan kita justru lebih menguat saat dihadapkan pada kefanaan, bukan pada hal-hal yang mengarah kepada keabadian.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

follow me

Ahmad Indra

Pekerja yang tengah mencoba untuk geluti dunia literasi
Ahmad Indra
follow me

Latest posts by Ahmad Indra (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close