Kitab yang Ditulis Penganut Asy’ariyah Tapi Dipakai Para Penolaknya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Benci tapi rindu. Kira-kira ungkapan inilah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana emosi jiwa para penolak paham Asy’ariyah di Indonesia.

Kalau dianalogikan mirip seperti cinta yang tak direstui. Menyukai seorang perempuan tapi membenci keluarganya. Suka kitabnya tetapi membenci akidah pengarangnya.

Kira-kira seperti itu kurang lebihnya gambaran orang yang melabeli diri dengan julukan ustaz sunnah dan memproklamasikan anti-Asy’ariyah tapi masih memakai kitab karya ulama penganut Asy’ariyah.

Lihat saja di youtube, ustaz-ustaz sunnah seperti Ustaz Firanda, Ustaz Badrusalam dan kawan-kawan. Sekali waktu mencaci-maki, menyesat-nyesatkan Asy’ariyah, tapi di lain waktu mereka membuat kajian kitab Riyadhus Shalihin.

Nah, yang menjadi pertanyaan besar adalah apa mereka tidak tahu kalau Imam An-Nawawi penulis kitab Riyadhus Shalihin adalah seorang Asy’ariyah tulen?

Bukan berarti saya melarang beliau-beliau memakai kitab hadis Imam An-Nawawi ini lho ya. Saya cuma mau bilang, kalau kitabnya saja masih mau dipakai mbokya jangan mensesat-nyesatkan penganut Asy’ariyah.

Soalnya nanti malah repot sendiri, bukan cuma Imam An-Nawawi saja yang ikut sesat. Bayangkan saja mayoritas ulama ahli hadis itu Asy’ariyah Maturidiyah .

Sebut saja Al-Hafidz Ibnul Jauzi, Imam Ibn Hibban, Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali, Al-Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al- Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi .

Baca juga:  Ini 5 Keunggulan Kitab Taqrib di Mata Para Santri

Kalau masih kurang saya tambah lagi, Qadhi Iyadh, Al Hafidz Zainudin Al-Iraqi, dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqalani dan lain-lain.

Kalau para ahli hadis ini dianggap sesat, terus ahli hadis yang mana yang mereka ikuti sebenarnya? Kan jadinya lucu, masa orangnya sesat bukunya tetap dibaca. Apa tidak takut ikut tersesat juga?.

Atau jangan-jangan bencinya cuma di mulut saja, tetapi di hati tetaplah cinta? Makanya masih membaca kitab Riyadhus Shalihin, meski isinya tentang akhlak adab dan tasawuf. Padahal kan mereka juga anti tasawuf.

“Itu bukan tasawuf itu tazkiyatun nafs,” kata mereka. Lho ya sama saja, bedanya di mana? Tazkiyatun nafs itu membersihkan hati, tasawuf juga tujuannya menyucikan hati untuk sampai pada ilahi. Sama saja kan?

Jadi sebenarnya cinta, tapi gengsi mengakui. Sampai- sampai mengarang cerita kalau Imam An-Nawawi ini mengikuti mazhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, tetapi bukan Asy’ariyah yang seperti sekarang.

Karena menurut mereka Imam Abu Hasan Al Asy’ari (pendiri mazhab Asy’ariyah) itu melewati tiga fase. Pertama fase mu’tazilah, kemudian keluar dari mu’tazilah mengikuti paham Ibnu Kulab dan terakhir kembali ke pemahaman salaf.

Baca juga:  Pemahaman Salah tentang Asy'ariyah yang Meracuni Pikiran Orang Awam

Imam Nawawi menurut mereka, mengikuti mazhab Abu Hasan Al-Asy’ari yang fase ketiga, yaitu ketika beliau telah kembali ke pemahaman salaf.

Padahal faktanya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari hanya mengalami fase Mu’tazilah dan kembali ke pemahaman Ahlussunnah.

Yo wes rapopo, sing waras ngalah. Namanya juga gengsi. Biarkanlah mereka berhujah dengan fantasinya sendiri.

Riyadhus shalihin sesuai namanya akan tetap menumbuhkan orang-orang saleh di taman-tamanya masing-masing. Maka jangan heran jika kitab ini senantiasa familiar di semua kalangan.

Akan terus dikaji di pesantren, madrasah, masjid, majelis-majelis taklim. Dan mudah-mudahan melalui barakah penulisnya, kitab ini mampu menjadi titik temu dua poros umat muslim yang berbeda. Amin.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam

One thought on “Kitab yang Ditulis Penganut Asy’ariyah Tapi Dipakai Para Penolaknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close