Kitab Anti Murtad, Ini 5 Hal Penting yang Dibahas dalam Sulam at-Taufiq

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Kitab Sulam at-Taufiq merupakan salah satu kitab dasar yang biasa dikaji di pesantren dengan sistem sorogan. Cetakan yang banyak beredar di pesantren-pesatren salaf berupa kitab dengan tulisan berharakat dan bermakna pegon (bahasa jawa dalam huruf arab).

Biasanya dicetak satu jilid dengan kitab  Sulam al-Munajah yang juga manjadi bahan sorogan. Ada pula yang menggunakan kitab ini dalam kajian sorogan tapi menggunakan kitab versi cetak tanpa harakat.

Sayyid Abdullah bin Al-Husain bin Thahir Al-‘Alawi Al-Hadhromi, penulis kitab ini adalah seorang ulama ahli fikih bermazhab Syafi’i. lahir di Yaman pada 1191 H da wafat pada 1242 H dalam usia 52 tahun.

Dikisahkan dalam Umdah ar-Raghib fi Mukhtashar Bughyah ath-Thalib bahwa setiap hari beliau selalu membaca kalimat tahlil (la ilaha illallah), Ya Allah, serta salawat masing-masing 25.000 kali.

Tentang Sulam at-taufiq, kitab ini terkenal sebagai kitab yang tegas mengecam berbagai tindakan dan perkataan yang menjurus kepada perbuatan yang tergolong murtad.

Selain itu, kitab ini juga memberi dasar tasawuf dengan mengenalkan akhlak dan peringatan berbagai bentuk perbuatan dosa. Lebih mendalam tentang kitab ini, berikut 5 isi pokok dalam kitab Sulam at-Taufiq:

[nextpage title=”1. Pembekalan Dasar Akidah”]

1. Pembekalan Dasar Akidah

Kitab Sulam at-Taufiq diawali dengan mengenalkan makna dua kalimat syahadat sebagai penguatan dasar akidah islam. Sebagai kitab fikih, maka pembahasan tauhid dalam kitab ini disajikan ringkas dan padat.

Berbeda dengan kitab ilmu kalam mazhab Asy’ari yang biasanya menghadirkan pembahasan sifat Allah dan rasul-Nya yang lazim disebut Aqa’id 50, Sulam at-Taufiq hanya mambahas inti pada dua kalimat syahadat saja.

Makna kalimat syahadat pertama yang disebut juga syahadat tauhid (asyhadu an la ilaha illallah), menurut Sulam at-Taufiq adalah: bersaksi bahwa Tuhan yang paling hak disembah hanyalah Allah. Segala sifat kesempurnaan ada pada Allah dan Allah bersih dari segala sifat rendah.  Tak ada yang menyamai atau menyerupai Allah.

Makna syahadat kedua atau syahadat rasul (asyhadu anna muhamadar rasulullah) adalah bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh makhluk-Nya. Beliau yang lahir di Mekah dan hijrahnya ke Madinah serta wafat di sana.

Baca juga:  Tata Niat Ketika Mau Pesantrenkan Anak! Perhatikan 5 Hal Ini Demi Kesuksesannya

Juga meyakini kebenaran segala hal yang disampaikan olehnya, terlebih perkara gaib seperti nikmat dan siksa kubur, surga dan neraka juga berbagai hal terkait akhirat.

Syahadat rasul juga berarti kita mengimani sisa 5 rukun iman lainnya (iman kepada Allah telah ada dalam syahadat tauhid).  Syahadat rasul bermakna meyakini bahwa Muhammad adalah nabi terakhir dan junjungan seluruh anak adam.

[nextpage title=”2. Menjaga Keislaman”]

2. Menjaga Keislaman

Menjadi muslim dengan megikrarkan dua syahadat saja tidaklah cukup. Menjaga keislaman adalah kewajiban selanjutnya dari seorang muslim. Ia harus menghindari dan menjaga diri dari berbagai hal yang menjerumuskannya pada jurang kemurtadan dan kekafiran.

Hal ini memiliki porsi pembahasan yang panjang dalam Sulam at-Taufiq. Sayyid Abdullah mengkategorikan murtad menjadi 3 macam: murtad dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan.

Tentang murtad dari sisi keyakinan (i’tiqad), menginkari atau menentang hal-hal terkait sifat-sifat tuhan, hal-hal gaib yang telah ditetapkan dalam Islam, kewajiban-kewajiban muslim, keyakinan terhadap kitab suci, adalah termasuk hal yang menyebabkan seseorang tergolong murtad.

Di sini jadi muncul pertanyaan, masih Islamkah orang yang menganggap salat tidak wajib, akhirat tidak ada, hal-hal yang telah jelas keharamannya diotak-atik agar halal?

Pembahasan terkait perbuatan dan perkataan yang tergolong menjurus pada kemurtadan memakan porsi hingga 6 halaman sendiri dalam kitab ini. Di masa merebaknya liberalisme ini selayaknya muslim merujuk kembali pada ada yang uraikan Sayyid Abdullah dalam kitab ini.

[nextpage title=”3. Pembahasan Ibadah dan Muamalah”]

3. Pembahasan Ibadah dan Muamalah

Tata laksana ibadah dalam kitab ini disajikan secara ringkas namun cukup jelas dan lengkap. Mulai dari shalat, zakat, puasa, hingga haji dijelaskan dalam bab-bab terpisah. Meskipun ringkas dan sepertinya hanya sepintas lalu, namun penjelasan tersebut mencukupi kebutuhan orang yang ingin mempelajari dan melaksanakannya.

Selain ibadah, pembahasan muamalah atau hubungan sosial ekonomi juga disinggung dalam kitab ini. Diawali dengan penekanan agar setiap muslim sebelum terjun dalam bidang pekerjaan tertentu, hendaknya tahu seluk-beluk pekerjaan itu.

Baca juga:  Resapi 5 Nasihat Gus Miek Ini Untukmu yang Berstatus sebagai Santri

Ia juga harus mengerti bagaimana agar tidak terjerumus dalam transaksi dan tindakan yang diharamkan. Orientasi ekonomi seorang muslim adalah sisi kehalalan dan tidak melulu keuntungan.

[nextpage title=”4. Dasar Akhlak Terpuji”]

4. Dasar Akhlak Terpuji

Menurut al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan mudah dan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sifat baik melahirkan perbuatan baik. Sifat ini disebut akhlakul karimah. Sifat buruk dalam jiwa akan melahirkan perbuatan buruk. Sifat ini disebut akhlakul mazmumah.

Sulam at-taufiq menyisipkan pembekalan akhlak al-karimah dalam satu bab tentang kewajiban qalbiyah. Beberapa dasar akhlak terpuji dalam bab ini antara lain tentang keyakinan terhadap hal-hal ketuhanan, tawakal, sabar, ikhlas, qanaah, dan lain-lain.

[nextpage title=”5. Rambu-rambu Berbagai Maksiat”]

5. Rambu-rambu Berbagai Maksiat

Sifat buruk yang tertanam dalam jiwa dan melahirkan perbuatan buruk, disebut akhak al-mazmumah atau akhlak buruk. Perbuatan buruk itu berupa tindakan melakukan berbagai kemaksiyatan.

Kitab Sulam at-Taufiq memberi berbagai rambu peringatan dosa. Dari urusan hati hingga seluruh anggota badan. Ini seperti pesan dari syair berikut:

Siapa yang tidak bisa membedakan keburukan dan kebaikan Dikhawatirkan ia terjerumus ke dalamnya

Oleh karenanya, Sayyid Abdullah menghadirkan pembahasan berbagai maksiat dalam banyak bab. Mulai maksiat hati hingga seluruh anggota badan. Sebagai penutup, seusai menjelaskan beragam dosa anggota badan, kitab ini diakhiri dengan bab pertobatan.

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *