Meski Diperlakukan Tak Nyaman, Para Ulama Besar Ini Memilih Mengalah

  • 18
  •  
  •  
  •  
    18
    Shares

Dibaca: 1903

Waktu Baca4 Menit, 51 Detik

DatDut.Com – Sekitar 2 tahun lalu, masyarakat dihadapkan pada polemik “hormati juga orang yang tidak puasa”. Hal itu terlontar dalam twit Menteri Agama, Lukman Saifuddin. Meskipun sudah diklarifikasi, namun tema itu seakan terus mempertahankan hitnya karena menjadi percakapan yang selalu menarik perhatian publik baik untuk membela, mengkritik, maupun sekedar mencemooh.

Dalam klarifikasinya, Pak Menteri mengatakan bahwa yang dimaksudkan sebagai orang yang tidak puasa di dalam twitnya itu adalah orang-orang yang secara syar’i memang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, orang tua, dan wanita hamil di antaranya.

Tapi apa boleh buat, kalimat itu dinilai mengandung subordinasi atas orang-orang Islam yang tengah menjalankan syariatnya. Bagaimana mungkin orang yang sedang menjalankan agama diminta menghormati orang yang lalai? Mungkin hal itu yang menggelayut di benak sebagian orang.

Tapi kita tidak sedang membicarakan hal itu. Kita sedang akan membicarakan apakah ada orang-orang seperti itu? Maksudnya orang-orang yang berpuasa namun menghormati orang yang tidak berpuasa.
Jawabannya, ada. Berikut kisahnya:

1. Abdul Qadir al-Sindi dan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki

Dr. Abdul Qadir al-Sindi adalah seorang ulama yang pernah menulis sebuah artikel yang mengandung cibiran terhadap Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, seorang ulama panutan ahlussunnah. Artikel itu dimuat di Majalah al-Jami’ah bi al-Madinah al-Munawwarah.

Saat artikel tersebut menyebar ke penjuru Madinah bahkan seluruh Arab Saudi, banyak kalangan yang merasa gerah. Mengetahui hal itu, Sayyid Muhammad Alwi justru mengajak beberapa muridnya untuk pergi ke Madinah menuju rumah Dr. al-Sindi.

Sesampainya di rumah Dr. al-Sindi, Sayyid Muhammad bercakap seperlunya dan menyerahkan sebuah kopor yang dibawanya dari tempat tinggalnya. Sesaat berbincang, Sayyid Muhammad lalu mohon diri.

Karena tidak memperkenalkan diri, Dr. al-Sindi tidak mengetahui siapa tamunya itu. Hingga Dr. al-Sindi mengetahui sendiri bahwa yang telah memberinya kopor berisi uang itu adalah orang yang beberapa waktu silam ia hinakan di artikelnya. Kisah ini diceritakan oleh Musthafa Husain al-Jufri dalam al-Injaz fi Karamati Fakhril Hijaz.

2. Hatim al-Asham Mendadak Tuli

Hatim al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Suatu hari, seorang wanita datang ke tempatnya untuk menanyakan sesuatu.

Baca juga:  Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup BJ Habibie yang Mengharukan

Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya. Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.“Tolong bicara yang keras! Saya tuli,”

Namun, si wanita justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim. “Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan.”
Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim benar-benar seorang yang tuli. Ia pun merasa lega karena menganggap suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. Kisah ini dituturkan oleh Imam al-Ghazali dalam dalam Nashaihul Ibad.

3. Hasan al-Bashri dan Tetangganya yang Nasrani

Imam Hasan al-Bashri adalah seorang ulama tabi’in terkemukan di kota Bashrah, Irak. Beliau tinggal di sebuah rumah susun dan bertetangga dengan seorang Nasrani. Sang tetangga menempati rumah di atas dan sang imam tinggal di lantai di bawahnya.

Tetangganya itu memiliki kamar kecil di rumahnya. Karena pipanya mengalami kebocoran, air kotor dari kamar kecilnya itu merembes dan menetes kedalam kamar Imam Hasan al-Bashri. Selama bertahun-tahun berlangsung, Imam Hasan al-Bashri tidak memberitahukan hal itu kepada tetangganya.

Suatu hari Imam Hasan al-Bashri sakit. Sang tetangga pun datang ke rumahnya untuk menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas kamar sang Imam, beberapa saat kemudian dia baru sadar kalau itu adalah air kotor dari kamar kecilnya. Yang membuatnya heran adalah kenapa Imam Hasan al-Bashri tidak mengatakan hal itu padanya.

“Imam, sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing di kamar ini?” tanya si tetangga. Imam Hasan al-Bashri diam dan tidak mejawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak.

Namun karena didesak, akhirnya imam Hasan al-Bashri menjawab, “Nabi mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya”.

Baca juga:  Ini Pelajaran Hidup dari 5 Kisah Unik dalam Kitab Ushfuriyah

4. Hasan bin Ali dan Orang Arab Badui

Suatu hari, ada orang Arab Badui yang datang dan makan di rumah Sayyidina Hasan bin Ali. Sehabis makan, ia tidak langsung pulang melainkan duduk dan membungkus beberapa makanan ke dalam tas.

Melihat keanehan itu, al-Hasan datang menyapa. “Kenapa kau mesti membungkusnya? Lebih baik kau datang makan tiap pagi, siang dan malam di sini. Biar makananmu lebih segar,” kata al-Hasan.

“Oh, ini bukan untukku pribadi. Tapi untuk orang tua yang kutemui di pinggir kota tadi. Orang itu duduk di pinggir kebun kurma dengan wajah lesuh dan memakan roti keras. Dia hanya membahasahi roti itu dengan sedikit air bergaram dan memakannya. Aku membungkus makanan ini untuknya, biar dia senang,” jawab orang Badui.

Mendengar itu, sayyidina Hasan kemudian menangis tersedu. Badui itu heran dan bertanya, “Kenapa Tuan menangis? Bukankah tak ada yang salah jika aku kasihan dengan lelaki miskin yang di pinggiran kota itu?”

Dijawab oleh sayyidina Hasan, “Ketahuilah, saudaraku. Lelaki miskin yang kau jumpai itu, yang makan roti keras dengan sedikit air bergaram itu, dia adalah ayahku. Kerja kerasnya di ladang kurma itulah yang membuatku bisa menjamu semua orang setiap hari di rumah ini.” Kisah ini diceritakan oleh Habib Muhammad Husein al-Habsyi dalam Status Mutiara.

Lho, mana kisah yang mengetengahkan tema twit pak Menteri Agama dan spanduk di atas? Tidak ada, namun keempat kisah di atas adalah kisah-kisah manusia pilihan yang menempatkan akhlak pada kedudukan yang tinggi.

Yakni di saat dalam pandangan orang awam keempatnya berada pada posisi yang bukan seharusnya untuk mengalah namun justru mereka menikmati hal itu. Dengan akhlak seperti itulah, hal-hal yang bersifat normatif kadang tidak berlaku lagi.

Bagiamana dengan kita?

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Ahmad Indra
follow me
Latest posts by Ahmad Indra (see all)
  • 18
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *