• 56
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares

DatDut.Com – Suatu ketika, saat para sahabat duduk-duduk bersama Rasulullah saw. untuk belajar, Rasulullah bersabda, “Sebentar lagi akan datang seseorang penduduk surga.”

Para sahabat penasaran. Siapa dia. Dalam hati, mereka berharap mudah-mudahan orang yang datang adalah keluarga mereka. Tak lama kemudian, munculah sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas.

Sahabat yang hadir pun tahu, Sa’ad mendapat kebahagiaan dunia-akhirat. Mereka tidak berkomentar apa-apa. Mereka hanya ingin kelak mereka juga masuk surga bersama-sama.

Besoknya, para sahabat hadir lagi di majelis yang sama. Tiada lelah bagi mereka untuk menimba ilmu. Kemudian, terdengar suara Rasulullah mengatakan hal yang sama dengan kemaren, “Sebentar lagi akan datang seseorang ahli surga.”

Para sahabat sedikit terkejut mendengar sabda Nabi itu. Hati mereka penasaran. Dalam pojok hati mereka berharap mudah-mudahan orang yang datang adalah keluarga mereka. Lalu muncullah Sa’ad bin Waqqas. Sa’ad lagi.

Keesokan harinya, seperti biasa, para sahabat duduk manis untuk mendengarkan hadis-hadis Rasulullah saw. Tak disangka, Rasulullah mengatakan seperti kemarin. “Akan datang pada kalian seorang penduduk surga.”

Para sahabat yang hadir berdebar-berdebar. Hati mereka berharap semoga orang yang datang adalah keluarga mereka. Mereka pandangi arah jalan. Kemudian tampaklah seorang laki-laki. Ternyata Sa’ad bin Abi Waqqas lagi.

Terbesit di hati sahabat rasa penasaran. Amal apa yang dikerjakan Sa’ad kok sampai mendapat tabsyir bil jannah (dibahagiakan dengan surga) sampai tiga kali.

Ketika Rasulullah beranjak pergi,  Abdullah bin Amer yang diselimuti penasaran bangkit dan menghampiri Sa’ad bin Waqqas. Ia ingin tahu amal apa yang dikerjakan Sa’ad. Abdullah ingin sekali mengerjakannya. Siapa tahu juga mendapat tabsyir bil jannah dari Rasulullah saw.

Baca juga:  Meski Diperlakukan Tak Nyaman, Para Ulama Besar Ini Memilih Mengalah

Abdullah pun mencari alasan supaya bisa menginap di rumah Sa’ad. “Maaf wahai Sa’ad. Saya ada masalah dengan ayah. Saya juga bersumpah tidak akan pulang sampai tiga malam. Jika kau berkenan, izinkan saya menginap di rumahmu,” Kata Abdullah sedikit mengiba. Lalu Sa’ad bin Waqqas mengiakan.

Jadilah Abdullah menginap di rumah Sa’ad bin Abi Waqqas. Pada malam pertama, Abdullah tidak mendpati Sa’ad bin Abi Waqqas beribadah semalam suntuk. Ibadah Sa’ad biasa-biasa saja. Saat tidur, Sa’ad berbalik, lidahnya menyebut nama Allah dan bertakbir. Itu saja.  Sampai fajar terbit.

Abdullah sama sekali tidak melihat Sa’ad bin Waqqas berdiri panjang dalam salat malam. Ketika azan subuh berkumandang, Sa’ad mengambil wudu dan menyempurnakannya. Kemudian salat subuh. Dan Sa’ad tidak berpuasa. Melihat semua itu, Abdullah tambah penasaran. Mungkin ada amal yang tidak ditampakkan oleh sahabat Sa’ad.

Untuk itu, Abdullah menginap di rumah Sa’ad sampai tiga hari dan tiga malam. Akan tetapi, Abdullah tidak menemukan ibadah Sa’ad yang wah. Menurut Abdullah, amaliah Sa’ad biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Mungkin sahabat yang lain juga melakukan hal yang sama.

Pada hari ketiga, dalam hati Abdullah timbul rasa meremehkan. Kemudian, Abdullah berterus terang pada sahabat Sa’ad. Sebenarnya, antara dia dan ayahnya tidak terjadi apa-apa.

Baca juga:  Musa, Qarun, dan Pelacur Bayaran

Ia melakukan semua ini karena penasaran amal apa yang dilakukan sahabat Sa’ad sehingga mendapatkan janji surga sampai tiga kali. Sahabat Abdullah juga mengabarkan tentang pengamatannya selama ini. Ternyata ia tidak mendapati amal Sa’ad yang istimewa.

Mendengar penuturan sahabat Abdullah, Sa’ad terdiam. Lalu mengakui hal itu. “Memang tidak ada yang wah. Amalku seperti apa yang kamu saksikan,” kata Sa’ad.

Sahabat Abdullah kecewa. Lalu ia melangkah ingin pergi. Ketika Abdullah berbalik badan, suara Sa’ad menghentikan langkahnya.

“Memang amalku seperti yang kamu lihat. Namun ada satu hal yang tidak kamu ketahui. Aku tidak pernah sakit hati pada orang Islam. Jika mereka mendapat ni’mat, aku tidak iri apa lagi dengki,” kata Sa’ad bin Abi Waqqas.

“Inilah yang membuat dirimu beruntung. Dan aku tidak mungkin bisa menirunya,” sahut Abdullah bin Amer.

(Disarikan dari kitab Tarikh Dimasyqa karya Ibnu ‘Asakir).

Komentar

A Saifuddin Syadiri
  •  
    56
    Shares
  • 56
  •  
  •