Ketika K.H. Hasyim Asy`ari Nyantri pada K.H. Kholil Bangkalan

  • 12
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares

DatDut.Com – Ketika awal nyantri, Hasyim Asy’ari muda disuruh naik ke atas pohon bambu, sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik tidak boleh turun sampai ke pucuk pohon bambu tersebut.

Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu akan patah atau bagaimana. Yang jelas, beliau hanya patuh pada perintah gurunya.

Hebatnya, begitu sampai di pucuk, Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim langsung meloncat ke bawah.

Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat, sami’na wa atha’na. Beliau selamat, sehat afiat. Ternyata itu hanya ujian Kepatuhan seorang santri kepada Kiainya.

Sebagai murid, Kiai Hasyim tidak pernah ngersulo (mengeluh) disuruh apa pun oleh gurunya termasuk angon  (menggembalakan) kambing dan sapi, mencari rumput dan membersihkan kandang.

Baca juga:  Akibat Tolak Muslim Masuk Amerika, Donald Trump Dapat 5 Hukuman Ini

Beliau terima titah gurunya itu sebagai khidmat (dedikasi) kepada Sang Guru. Beliau sadar bahwa ilmu dari guru akan diperoleh dan barakah apabila sang guru rida kepada muridnya.

Inilah yang dicari Kiai Hasyim, rida guru. Beliau tidak hanya berhadap ilmu teoretis dari Kiai Kholil tapi lebih dari itu, yang diinginkan adalah barakah-nya.

Selain itu, dikisahkan juga saat Kiai Kholil kehilangan cincin pemberian istrinya yang jatuh—maaf—di WC, Kiai Hasyim memohon izin untuk mencarinya.

Setelah diizinkan, sejurus kemudian beliau masuk ke septictank dan mengeluarkan isinya. Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kiai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil ditemukan.

Betapa senangnya sang guru melihat muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya hingga terucap doa “Aku rida padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu.”

Baca juga:  Ini Sikap Habib Taufiq Pasuruan Soal Pemimpin Umat Islam

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan

Alvian Iqbal Zahasfan

Kandidat doktor pada Universitas Dar El hadith El Hassania, Rabat, Maroko. Pernah jadi santri di Ponpes Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Ponpes Al-Ghazali Karangrejo-Tulung Agung, PIQ Singosari-Malang, Al-Ma’had Darus-Sunnah Al-‘Dauli li Ulumil Hadis Jakarta.
Alvian Iqbal Zahasfan
  •  
    12
    Shares
  • 12
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *