Gus Mus Berkisah tentang Kiai Hamid Pasuruan

  • 17
  •  
  •  
  •  
    17
    Shares

DatDut.Com – Kiai Hamid Pasuruan adalah sosok ulama karismatik. Karisma beliau bukan hanya karena kedalaman ilmu, tapi juga karena keluhuran budi dan kemakrifatannya. Meskipun lebih dikenal sebagai wali, tapi berdasarkan penuturan banyak orang yang pernah bertemu beliau, Kiai Hamid selalu menekankan pentingnya memiliki kesalehan sosial dan kesalehan individual, selain pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Tak banyak yang tahu, meskipun dikenalnya pada nama beliau ada embel-embel nisbat “Pasuruan”, tapi beliau bukan kelahiran kota seribu santri ini. Beliau justru lahir di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Lasem sendiri merupakan salah satu kecamatan di timur kota Rembang, yang dikenal bukan hanya karena batik Lasemnya, tapi juga karena banyak pesantren dan ulama-ulama besarnya. Ada lebih dari 10 pesantren di kecamatan yang sebetulnya tak terlalu luas ini.

Tak heran pada satu masa, Lasem menjadi destinasi penting untuk menimba ilmu agama. Dan, dari kecamatan yang ada di jalur pantura ini, lahir banyak ulama-ulama dan ilmuan besar. Salah satu contohnya Prof. Dr. Mukti Ali, menteri agama era Orde Baru, yang dikenal sebagai ilmuwan yang amat brilian pada masanya. Contoh lainnya tentu saja figur yang sedang menjadi fokus tulisan ini: Kiai Hamid Pasuruan.

Nah, kedekatan lokasi antara Lasem dan Rembang ini, mempertemukan tokoh dan ulama besar beda generasi ini. Kiai Hamid yang asli Lasem meskipun tinggal dan menetap di Pasuruan, sementara Gus Mus tinggal di Rembang. Pertemuan Gus Mus dengan Kiai Hamid ini ternyata juga memberi kesan mendalam dan membekas pada diri Rais Am PBNU sebelum periode K.H. Ma’ruf Amin ini. Berikut 5 kesan itu yang disarikan dari kata pengantar Gus Mus yang berjudul “Kiai Hamid Bukan Wali Tiban” untuk buku biografi wali dari Pasuruan tersebut:

1. Kesan Gus Mus Saat Bertemu Kiai Hamid

Gus Mus ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika Gus Mus masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu Gus Mus dibawa ayah Gus Mus, K.H. Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayahnya, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Menurut Gus Mus, ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe.

Dengan Kiai Hamid baru ketika itulah Gus Mus melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

2. Suwuk Kiai Hamid sebagai Doa

Baca juga:  5 Karamah Mbah Ma’shum Lasem, Pendiri Pesantren Al-Hidayat

Ayah Gus Mus berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya, Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai karismatik itu mencengkeram dada Gus Mus sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”

Telinga Gus Mus menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah Gus Mus sendiri di notes Gus Mus: “Liyakun waladul asadi syiblan la hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam Gus Mus selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

3. Kiai Hamid, Wali yang Memanusiakan Manusia

Ketika Gus Mus sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah Gus Mus mulai mengenal putra-putra wali Pasuruan ini–Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris—Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola Gus Mus yang istimewa.

Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang–melihat dan mendengar karomah beliau–ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau lebih dari itu.

Pernah suatu hari Gus Mus sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, Gus Mus bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Gus Mus melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia.

Bayangkan saja, waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ Gus Mus agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan Gus Mus sedikit demi sedikit mencair.

Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi Gus Mus mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau.

Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak Gus Mus dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada Gus Mus (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hobi’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat Gus Mus tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

4. Kiai Hamid Bukan Wali Tiban dan Bukan Kiai Kagetan

Baca juga:  Ini 5 Kesan Mendalam Dr. K.H. Ahsin Sakho pada Sosok Almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Dalam hal ini terkait ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan.

Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara muttafaq ‘alaih. Bahkan ayah Gus Mus, Kiai Bisri Mustofa dan guru Gus Mus Kiai Ali Maksum–keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid–yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

5. Kiai Hamid; Ulama Paripurna yang Mengamalkan Ilmunya

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra.

Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena keamanahannya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

 

 

Komentar

Measha

Measha

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu rumah tangga yang menggemari film korea dan martabak manis juga pesmol gurame.
Measha

Comments are closed.