Kiai Hamid Pasuruan, Wali yang Memanusiakan Manusia

  • 13
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

DatDut.Com – Kiai Hamid Pasuruan adalah sosok ulama karismatik. Karisma beliau bukan hanya karena kedalaman ilmu, tapi juga karena keluhuran budi dan kemakrifatannya.

Meskipun lebih dikenal sebagai wali, tapi berdasarkan penuturan banyak orang yang pernah bertemu beliau, Kiai Hamid selalu menekankan pentingnya memiliki kesalehan sosial dan kesalehan individual, selain pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

(Baca: Ini 5 Kesan Mendalam dan Membekas pada Diri Gus Mus terkait Kiai Hamid Pasuruan)

Ini dia kiai yang menurut istilah Gus Mus, waliyullah yang “muttafaq alaih” (semua orang sepakat). Berikut ini akan saya persembahkan 5 karamah beliau yang diangkat dari buku Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan karya Hamid Ahmad dengan sedikit editan, komentar, dan tambahan dari pengalaman ayah saya ketika sowan kepada beliau.

[nextpage title=”1. Asmawi Memanen Uang”]

1. Asmawi Memanen Uang

Asmawi sedang galau. Ia harus membayar hutang yang jatuh tempo. Jumlahnya 300 ribu rupiah. Jumlah segitu besar waktu itu. Hutang itu untuk pembangunan masjid. Asmawi sampai nangis saking sedihnya, dari mana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu. Pikirannya jadi buntu. Dia sowan melaporkan masalahnya ke Kiai Hamid. “Laopo nangis. Sik ono Yai” (Mengapa nangis. Masih ada Kiai), begitu beliau menghibur.

Lalu dia disuruh menggoyang-goyang pohon kelengkeng di depan ndalem (rumah) beliau. Daun-daun yang berguguran di suruh ambil, diserahkan kepada Kiai Hamid. Beliau meletakkan tangannya di belakang tubuh, lalu memasukkannya ke saku. Begitu dikeluarkan ternyata daun-daun itu di tangan beliau menjadi uang kertas.

Beliau menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng satunya lagi. Daunnya diambil tangan beliau ditaruh di belakang tubuh (punggung), lalu dimasukkan ke saku, lantas daun-daun itu jadi uang kertas.
Setelah dikumpulkan dan dihitung, jumlahnya 225 ribu, alhamdulillah.

Masih kurang 75 ribu, tiba-tiba ada tamu datang memberi uang 75 ribu kepada beliau, jadi pas. Kisah ini mengingatkan kita kisah Siti Maryam yang disuruh Allah menggerakkan pohon kurma yang tidak berbuah, eh nyatanya kurma-kurma matang jatuh berguguran.

[nextpage title=”2. Juara MTQ”]

2. Juara MTQ

Karamah kedua ini tentang mustajabnya doa beliau. Kisah ini oleh Hamid Ahmad diangkat dari majalah Panji Masyarakat. Kisah ini menceritakan H. Sholehuddin Kebonsari Pasuruan yang dituturkan langsung kepada Hamid Ahmad selaku wartawan Panji Masyarakat di Jambi bulan Juni 1997.

Hamid Ahmad tengah meliput MTQ Nasional di sana, sedang H Sholehuddin menjadi salah seorang juri. Topik yang diwawancarai bukan terkait Kiai Hamid Pasuruan, tapi tentang kisah sukses Sholehuddin sebagai qori nasional. Ternyata kisah suksesnya itu menyinggung Kiai Hamid yang berperan besar kepadanya.

Sholehuddin menceritakan, dulu melagukan Alquran (membacanya dengan lagu) merupakan masalah besar di Pasuruan, apalagi perlombaannya (musabaqah). “Masa Alquran dinyanyikan, dilombakan,” banyak sekali orang berkomentar demikian. Memang belum pernah ada orang yang protes secara langsung kepada saya.

Tetapi suara sumbang itu sampai juga ke telinga saya. Menghadapi badai ini, saya berprinsip, “Kuping budek, mata picek, ati unto” (telinga tuli, mata buta, hati onta), artinya walaupun ada orang bicara apa saja, tidak saya gubris. Dan ati unto maksudnya apa pun yang diperbuat orang saya tetap bersabar.

Ketika saya pertama kali ikut MTQ, saya tidak berani pamit kepada Romo Kiai Hamid. Namun waktu hendak berangkat ke MTQ II Bandung saya nekad pamit. Waktu itu saya cuma bilang, “Nuwun bantuan pendungo, bade kesah teng Bandung wonten undangan maos Alquran” (minta bantuan doa, saya akan pergi ke Bandung ada undangan membaca Alquran). “Alhamdulillah, tak dungakno slamet dunia akherat ndak ono opo-opo,” katanya (saya doakan selamat dunia akhirat tak terjadi apa-apa).

Pada tahun 1970, menghadapi MTQ III di Banjarmasin, saya pamitan lagi tapi masih belum berani bilang akan ikut musabaqah. Kembali beliau mendoakan saya agar selamat. Dan itulah yang saya peroleh. Pada 1971 saya mulai berani, “Nuwun pendungo, bade nderek pertandingan maos Alquran teng Medan (mohon doa, akan ikut pertandingan baca Qur’an di Medan), ya saya bilang pertandingan bukan musabaqah

Baca juga:  Ini Kisah Menakjubkan tentang Sa'ad bin Abi Waqqash yang Masuk Surga karena Tak Pernah Iri

“Hadiahe opo (hadiahnya apa)?” tanyanya. “Nomor satu hadiahnya haji.” “Ya sudah saya doakan.”
Beliau berpesan; begitu sampai di Medan saya tidak boleh kemana-mana, tapi langsung menuju Masjid Sultan Usman. Entahlah, kok tahu beliau, padahal setahu saya beliau belum pernah ke Medan. Ternyata masjid itu ada.

“Salatlah dua rakaat di sana, mohon kepada Allah. Kemudian kamu baca hasbunallah wani’mal wakil 350 kali. Jangn dikurangi, jangan ditambahi.” Ya saya laksanakan perintah itu. Saya baca hasbunallah tadi 350 kali. Tapi begitu selesai, saya merasa belum mantap, lalu saya baca lagi 350 kali. Masih terasa kurang mantap, saya baca lagi 350 kali. Ternyata saya juara tiga.

Sepulang dari sana, saya sowan ke Romo Kyai Hamid. Setelah saya beri tahu bahwa saya meraih juara ketiga, beliau bertanya, “Apakah pesan saya dilaksanakan semua?” “Ya,” jawab saya. “Berapa kali kamu baca?” “350 kali,” jawab saya. “Berapa kali? 350?” beliau masih bertanya. “Tiga kali” jawab saya. “Lha itu apa! Kamu baca tiga kali, ya juara tiga,” ujar beliau setengah bercanda.

Masih dikisahkan Sholehuddin. Pada 1974, menghadapi MTQ VII di Surabaya, saya sowan ke beliau. Saya bertekad akan minta doa nomor satu. Waktu itu, di rumah beliau banyak tamu. Belum sempat saya menyampaikan apa-apa, beliau berkata begini kepada para tamu, “Sampean saksikan, ya… Sholehuddin niki nang Mekah numpak Alquran (kalian saksikan ya, Sholehuddin ini ke Mekah naik Al-Qur’an).”

Sejurus kemudian saya disuruh ngaji (membaca Al-Quran dengan lagu). Beliau lalu melepas serbannya dan dipakaikan ke kepala saya. “Berhasil, berhasil, amin-amin,” katanya. Saya pun berangkat dengan mantap, tanpa keraguan apa pun. Nyatanya, saya benar-benar juara pertama, dan menunaikan ibadah haji sebagai hadiahnya.

Kearifan yang bisa dipetik dari kisah ini antara lain. Pertama, jika diberi amalan oleh guru kita, tidak usah balik bertanya mengapa sekian jumlahnya atau mengapa redaksinya seperti ini dll. Kedua, kita harus yakin dengan perintah dan doa guru-guru kita terutama waliyullah.

Ketiga, doa orang saleh terutama waliyullah mustajab. Oleh karenanya, dianjurkan kita mendekat kepada mereka agar ketularan shalehnya dan memohon doa dari mereka karena antara dia dan Allah tidak ada lagi tabir, doanya langsung dikabulkan.

Keempat, Kiai Hamid tidak melarang membaca Alquran dengan menggunakan lagu, sebab dengan dibaca menggunakan lagu hati makin terasa tersentuh akan keindahan Alquran. Tentu lagu di sini bukan lagu dangdut atau lagu rock yang tidak menyentuh hati tapi lagu semacam Qarar, Nahawan, Bayati, Syika, Ros, jawab, jawabul jawab, dll.

Kelima, Kiai Hamid memberi amalan jika kita akan ikut lomba atau menghadapi wawancara salat dua rakaat di masjid terdekat lalu membaca hasbunallah wani’mal wakil 350 kali tidak kurang tidak lebih. Insya Allah mustajab, pokoke yakin.

[nextpage title=”3. Binatang pun Patuh”]

3. Binatang pun Patuh

Nabi Muhammad bersabda, “Idza ahabba Allahu ‘abdan ahabbahu kullu syai” (kika Allah telah mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan dicintai segala sesuatu). Saya tidak tahu siapa perawinya, namun setelah saya takhrij tidak saya temukan redaksi yang persis seperti itu, namun hadis yang senada dengan itu diriwayatkan Imam Bukhari dalam Bab Kalam Ar-Rabb ma’a Jibril (bab tentang Firman Allah pada Jibril).

Tak hanya orang yang cinta pada Kiai Hamid, binatang pun patuh padanya, hormat padanya. Beliau sendiri adalah pecinta binatang. Para santri pernah menyaksikan seeokor burung perkutut dipanggil dengan menjentikkan jarinya. Binatang itu pun terbang mendekat.

Pernah juga ada dua kucing bertengkar di lorong samping rumah beliau. Ramai sekali. Beliau membuka jendela seraya berkata “Kuciing.., wis yo, wis yo, ojo tukaran (sudah ya, sudah ya, jangan berkelahi),” kata beliau dengan nada halus sekali, seperti bapak menasihati anaknya.

Baca juga:  Karena Ibu Tidak Rida, Sahabat Nabi Sulit Ucap Syahadat di Akhir Hayat

Aneh bin ajaib, kedua kucing itu mendadak berhenti berkelahi, srep, lalu masing-masing berjalan ke arah berlawanan. Mengenai hal ini, Kiai Nu’man Hamid, putra Kiai Hamid, menuturkan, “Saya lihat dengan mata sendiri. Saya berani sumpah.”

[nextpage title=”4. Tahu sebelum Diberi Tahu (Kasyaf)”]

4. Tahu sebelum Diberi Tahu (Kasyaf)

Kyai Hamid dianugerahi karamah mengetahui apa yang ada di benak orang. Misykat misalnya seirng tertebak apa yang ada dalam benaknya. “Beliau tahu maunya orang,” katanya. “Saya kalau ada apa-apa, belum bilang, beliau sudah menjawab.

Hal yang sama dialami Gus Shobich Ubaid, Syamsul Huda, Ahmad Afandi, Gus Hadi Ahmad, Kiai Ahmad Lebak dll. Rata-rata mereka mengalami hal yang sama, belum sempat mengadu sudah diberi jawaban oleh Kiai Hamid.

Adalah Said Amdad Pasuruan dulunya tidak percaya wali. Dia rasionalis. Mendengar kewalian Kiai Hamid yang tersohor, dia penasaran. Suatu kali ia ingin mengetes, “Saya ingin diberi makan Kiai Hamid. Coba, dia tahu apa tidak,” katanya dalam hati, ketika pulang dari Surabaya. Setiba di Pasuruan dia langsung ke Pondok Salafiyah, pesantren Kiai Hamid.

Waktu itu pas ingin jamaah shalat isya. Usai salat, dia tak langsung keluar, membaca wirid dulu. Sekitar pukul setengah Sembilan, jamaah sudah pulang semua. Lampu teras rumah Kyai Hamid pun sudah dipadamkan. Dia melangkahkan kaki keluar. Dia melihat ada yang melambai dari rumah Kiai Hamid. Dia pun menghampiri. Ternyata yang melambai adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. “Makan di sini ya,” kata beliau.

Di ruang tengah, hidangan sudah ditata. “Maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih,” kata Kyai Hamid dengan ramahnya. Said merasa tersindir. Sejak itu dia percaya Kiai Hamid itu wali.

Yang sering terjadi Kyai Hamid itu menjawab apa yang ada di benak orang dengan perlambang, seperti yang dialami oleh ayah penulis sendiri. Ayah sudah memiliki anak 3 perempuan semua. Dia ingin anak laki-laki untuk kehamilan yang keempat istrinya.

Dia sowan ke Kiai Hamid. Seperti biasa yang sowan banyak dan mengantri ditanyai apa keperluan kedatangan tamu-tamu. Baru saja ayah saya masuk dan duduk tiba-tiba dilempari buah pisang. Ternyata anak keempat ayah saya adalah bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Alvian Iqbal Zahasfan.

[nextpage title=”5. Tiba-tiba Ada yang Pulang”]

5. Tiba-tiba Ada yang Pulang

Suatu malam beliau pergi ke Madura bersama keluarga dalam satu mobil. Beliau, Nyai Nafisah, dan Gus Idris. Sampai di Pelabuhan Tanjung Perak ternyata sudah ada 15 mobil yang antri, sementara kapal yang hendak mengangkut mereka belum datang.

Kapal tersebut kapal terakhir jadwal hari itu. Padahal satu kapal hanya memuat 15 mobil. Mestinya Kiai Hamid balik saja, besok pagi antri lagi. Tapi Kiai Hamid menyuruh Kang Said, sopir tetapnya. Eh, tahu-tahu mobil di depannya memutar balik. Mungkin tak sabar menunggu atau entahlah.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan

Kandidat doktor pada Universitas Dar El hadith El Hassania, Rabat, Maroko. Pernah jadi santri di Ponpes Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Ponpes Al-Ghazali Karangrejo-Tulung Agung, PIQ Singosari-Malang, Al-Ma’had Darus-Sunnah Al-‘Dauli li Ulumil Hadis Jakarta.
Alvian Iqbal Zahasfan

Latest posts by Alvian Iqbal Zahasfan (see all)

  •  
    13
    Shares
  • 13
  •  
  •  
Close