Ini 5 Khotbah Jihad Paling Menggetarkan Sepanjang Sejarah

  • 66
  •  
  •  
  •  
    66
    Shares

DatDut.Com – Khotbah jihad biasa disampaikan terkait dan dalam situasi perang. Sejauh ini, nama khotbah jihad atau yang sejenis, tidak diketahui pernah diacu pada zaman Nabi Muhammad Saw.

Meskipun ada hadis riwayat Abdurrahman bin’ Sa’ad yang menuturkan bahwa Nabi Muhammad Saw. setiap kali dalam suatu peperangan beliau berkhotbah di atas anak panah, sementara saat berkhotbah di hari Jumat beliau berpegangan pada tongkat (HR Ibnu Majah, 1107; al-Baihaqi, 3/206).

Hadis ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad Saw. juga memanfaatkan khotbah dalam memompa semangat sahabat yang ikut berperang bersama beliau. Dengan kata lain, khotbah yang terkait dan dalam situasi berjihad, juga pernah dilaksanakan Nabi Muhammad Saw., meskipun tidak dikenal sebagai khotbah jihad.

Nah, berikut 5 khotbah jihad yang paling menggetarkan sepanjang sejarah, seperti yang saya tulis dalam disertasi yang berjudul Khotbah Dorongan Berjihad:

1. Khotbah Nabi setelah Perang Badar dan Perang Hunain

Khotbah yang cukup populer dalam konteks ini adalah khotbah Nabi sepulang dari Perang Badar. Hanya saja banyak yang meragukan kualitas hadis mengenai khotbah sepulang dari Perang Badar atau perang lainnya yang kemudian mempopulerkan ungkapan “ raja‘na min al-jihadi al-aṣghari ilā al-jihadi al-akbari” (kita kembali dari jihad yang kecil menuju ke jihad yang besar).

Sementara itu, khotbah sepulang dari Perang Hunain terkait dengan kegalauan sahabat Ansar yang merasa tidak nyaman hati saat Nabi memberi perhatian lebih terhadap sahabat Muhajirin dalam hal pembagian rampasan perang, setelah mereka mendapat kemenangan pada peperangan tersebut.

Namun, bila memperhatikan isi khotbahnya, khotbah Nabi tersebut disampaikan setelah perang, tetapi tidak dimanfaatkan sebagai sarana pemompa semangat jihad. Khotbah Nabi justru terlihat lebih meredam konflik kepentingan yang terjadi di antara sahabat setelah menang dalam perang.

2. Khotbah Ali bin Abi Thalib

Khotbah ini disampaikan dalam konteks konflik yang berlangsung antara Ali dan pendukung Muawiyah yang dipimpin Sufyan al-Ghamidi, yang bertujuan mendelegitimasi Kekhilafahan Ali dengan melakukan kekacuan dan perampokan.

Hal inilah yang mendorong Ali menyampaikan khotbah di hadapan masyarakat Kufah yang pada intinya menggugah keberanian masyarakat dalam melawan para pemberontak (Musa, 2011: 16). Dalam khotbahnya, terasa sekali kekecewaan Ali terhadap masyarakat Kufah yang enggan bangkit untuk berjihad melawan pemberontak yang merongrong pemerintah yang sah.

Baca juga:  Ini Sejarah 5 Perluasan Masjidil Haram di Masa Lalu

3. Khotbah Khalid bin Walid

Khalid bin al-Walid adalah sahabat mendapat gelar  sayfu Allah (pedang Allah) dari Nabi Muhammad Saw. Dia dikenal sebagai orang yang memimpin peperangan melawan Musailamah al-Kadzdzab dalam Perang Riddah (perang melawan orang-orang yang murtad setelah wafatnya Nabi).

Dia juga berjasa besar dalam peperangan melawan Romawi dan Persia. Khotbah yang pada intinya memompa semangat jihad, disampaikan Khalid bin al-Walid di kawasan Ajnadin Palestina saat bergolaknya Perang Romawi (634 M) dengan bangsa Arab (Musa, 2011: 21).

4. Khotbah Thariq bin Ziyad

Khotbah jihad yang fenomenal sepanjang sejarah Islam adalah khotbah yang disampaikan Thariq bin Ziyad. Khotbah itu disampaikan saat menyemangati tentaranya untuk tak gentar berjihad di jalan Allah dan berjuang membela agama Allah dalam penaklukan Andalusia (Spanyol), meskipun mereka menghadapi musuh yang memiliki kekuatan yang luar biasa, apalagi mereka berperang di tempat yang sangat jauh dari tempat mereka.

Sebelumnya, sejak tahun 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Gotic, Jerman. Saat itu raja yang berkuasa adalah Raja Roderick. Ia berkuasa dengan lalim. Akibat kelalimannya, rakyat Spanyol tidak betah. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara.

Di sini di bawah Pemerintahan Islam yang dipimpin Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian ikut mengungsi.

Melihat kezaliman itu, Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu (Musa, 2011: 22). Khalifah al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal di mana 4 buah di antaranya adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang.

Baca juga:  Berisikonya Mengkritik Orang Terkenal

Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Akhirnya, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.

Thariq bin Ziyad adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata dan ilmu bela diri.

Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar—diambil dari bahasa Arab Jabal Ṭāriq ‘Bukit Thariq’.

Saat itulah dia berkhotbah di hadapan tentara-tentaranya. Khotbah itulah yang berhasil memompa semangat para tentara, sehingga mereka berhasil memenangkan pertempuran itu. Padahal, kekuatan mereka kalah jauh dengan kekuatan musuh.

5. Khotbah Sultan Muhammad al-Fatih

Khotbah lain yang juga fonemenal adalah khotbah Sultan Muhammad al-Fatih (Fetih Mehmed) sebelum menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Fetih lebih dahulu berkhotbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Swt.

Dia membacakan ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi Saw. tentang penaklukan Konstantinopel, yang tentu memberikan semangat yang tinggi pada tentara. Mereka diperintahkan supaya selalu bertakbir dan mengumandangkan kalimat tauhid saat menyerang kota. Mereka akhirnya berhasil menaklukkan Konstantinopel melalui Pintu Edirne.

Dari beberapa khotbah di atas, dapat disimpulkan bahwa khotbah tidak hanya berkaitan dengan urusan agama murni, tetapi juga dimanfaatkan oleh para panglima perang untuk memompa dan mengobarkan semangat tentara di medan perang (Musa, 2011: 9).

Dengan kata lain, perjalanan sejarah mencatat bahwa mimbar-mimbar khotbah tidak hanya berhubungan dengan urusan akhirat, tetapi juga merespons urusan dunia, termasuk situasi perang.

 

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *