Ini Makna “Khilafah” dalam Al-Qur’an dan Hadis

  • 36
  • 2
  •  
  •  
    38
    Shares

DatDut.Com – Secara morfologis, khilafah merupakan bentuk infinitif (mashdar) dari kata khalafa. Sedangkan dalam tinjauan leksikografi, kata khalafa diberikan beberapa arti. Ada yang mengartikannya sebagai seseorang yang datang berikutnya (Lisan al-Arab, 9:89).

Ada pula yang mengartikannya sebagai seseorang yang menempati posisi orang lain (Mu’jam Mufradat al-Qur’an, 157). Ada yang lebih tegas lagi menyebutkan bahwa kedatangan orang itu telah berarti sebagai pengganti (Taj al-Arus, 246).

Ibn al-Atsir mengatakan bahwa kata khalafa bisa dibaca dalam dua versi, dengan menfathahkan lam (khalafa) dan mensukunkan lam (khalfu). Keduanya sama-sama berarti setiap orang yang datang setelah orang yang berlalu.

Bedanya jika dibaca dengan menfathahkan lam berarti sebagai pengganti yang baik, sedangkan jika dibaca dengan mensukunkan lam berarti sebagai pengganti yang tidak baik (Taj al-Arus, 247).

Al-Raghib al-Ashfihani mengartikan khilafah sebagai pergantian kepemimpinan seseorang dikarenakan yang bersangkutan tidak berada ditempat, atau telah meninggal dunia, atau ia tidak mampu lagi untuk memimpin, atau untuk memberikan kesempatan kepada yang lebih berhak (Mu’jam Mufradat al-Qur’an, 157).

Sedangkan khalifah, Muhammad Murtadha al-Husain al-Zabidi mengartikan sebagai penguasa tertinggi untuk keseluruhan dunia Islam yang menggantikan posisi penguasa sebelumnya, dengan melaksanakan tugas-tugasnya (Taj al-Arus, 264).

Baca juga:  Ini 5 Fenomena Catut Nama NU yang Dilakukan Oknum Wahabi

Derivasi kata khilafah yang terdapat dalam al-Qur’an semuanya berjumlah 127 ayat (Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, 238-241). Beberapa kata yang menonjol dalam tema ini, antara lain, kata khalifah, khala’if, khulafa’.

Sedangkan kata khilafah sendiri tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Kata khalifah terdapat pada dua tempat (2:30; 38:26). Kata khala’if disebutkan dalam empat ayat (6:165; 10:13; 10:73; 35:39). Dan kata khulafa’ terdapat di tiga tempat (7:69; 7:74; 27:63).

Dalam Hadis tentu jumlahnya jauh lebih besar. Penelitian sekelompok orientalis dengan editor A.J. Wenschink terhadap kata khilafah berikut derivasi-derivasinya yang terdapat dalam al-kutub al-tis’ah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Abi Daud, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Al-Muwattha’, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Darimi) saja, ditemukan ratusan kata (Al-Mu’jam al-Mufahras fi Alfazh al-Hadits al-Syarif, 2:70-71).

Seperti dalam al-Qur’an, ada beberapa kata yang menonjol dan relevan dengan tulisan ini, antara lain, khalifah, khulafa’, khalifatain, khilafah.

Kata khilafah ditemukan lebih dari 40 Hadis. Kata khulafa’ (bentuk plural) disebutkan di 11 Hadis. Kata khalifatain (bentuk dual) ditemukan di tiga tempat. Sedangkan bentuk tunggalnya terdapat di sekitar 68 Hadis.

Semua kata di atas berikut derivasinya yang terdapat dalam al-Qur’an dan beberapa hadis Nabi di atas tidak semuanya dapat diartikan mempunyai keterkaitan dengan otoritas politik atau minimal mengandung pengertian politik.

Baca juga:  Ini 5 Fakta Keterlibatan Muslimah Prancis dengan ISIS

Karenanya, para ulama berbeda pendapat apakah ayat-ayat dan hadis-hadis dalam tema ini semuanya mengandung keterkaitan antara urusan-urusan keagamaan dan urusan-urusan politik, atau tidak?

Menurut Ibnu Taimiyyah beberapa kata itu bermakna kepemimpinan dan pemimpin (imamah dan imam) atau kerajaan dan raja (mamlakah dan malik) dalam pengertian yang umum, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perintah ilahi semisal pengangkatan secara nubuwwah (Pemikiran Politik Ibnu Taymiyyah, 135).

Sementara itu, beberapa ulama lainnya menyebutkan bahwa beberapa kata itu mempunyai keterkaitan langsung yang menggabungkan antara urusan-urusan keagamaan dan urusan-urusan politik (Bahasa Politik Islam, 63).

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah