Ketika Ulil Pun Akhirnya Amat Murka pada Ahok, Bukti Si Penista Tak Lagi Punya Pembela

  • 27
  •  
  •  
  •  
    27
    Shares

Dibaca: 719

Waktu Baca5 Menit, 42 Detik

DatDut.Com – Ulil Abshar Abdalla, siapa yang tak kenal nama itu. Bisa jadi bagi kalangan tertentu Ulil justru lebih terkenal daripada masyayikh NU seperti kiai Maimoen Zubair misalnya.
Lho kok bisa?

Ya, karena bagi mereka, tema-tema tertentu yang unacceptable (tidak diterima) dalam ruang pikir mereka tak ayal dinisbahkan begitu saja kepada kelompok yang digawangi oleh Ulil yakni Jaringan Islam Liberal. Salah satunya Islam Nusantara. Ah, mungkin mereka hanya belum pernah menyimak dawuh Mbah Moen yang mendukung tema muktamar ke-33 itu di youtube. Tak apalah, biar sejarah yang membuktikan.

Mengenai Ulil, ada yang menarik dari aktivitasnya di media sosial baru-baru ini. Yakni saat dia menanggapi kasus Kiai Ma’ruf Amin yang diperlakukan tak santun oleh Ahok dan pengacaranya di sidang ke-8 dalam kasus dugaan penistaan agama tempo hari.

Dalam kultwit panjang yang ditulisnya pada 02/02/2017 mulai pukul 21:11 hingga 21:56 itu, dia menyebut Ahok sebagai sosok yang tak mengindahkan kebhinnekaan dan hanya mementingkan egonya sendiri.

“Saya justru berpendapat, Ahok tampaknya tak peduli dengan kebhinnekaan. Dia hanya peduli dengan egonya sendiri.”, begitu petikan twitnya. Selanjutnya dia mengatakan,”Membiarkan Ahok pada posisi publik yang penting seperti gubernur jelas tak bisa dibenarkan. Membahayakan kehidupan sosial.”

Dan sebelumnya, Ulil dengan tegas menyatakan ketersinggungannya dengan tuduhan pengacara Ahok bahwa Kiai Ma’ruf Amin berbohong dalam kesaksiannya. Penasaran tentang ciutan Ulil? Berikut ini twit lengkapnya:

Saya masih gatel soal penyadapan SBY ini, dan soal tuduhan bhw SBY memesan fatwa dari MUI soal Ahok. Saya tak betah untuk tak ngetwit lg.

Bahwa ada pembicaraan per telepon antara SBY dan Kiai Maruf soal kunjungan AHY ke PBNU, benar. Dan tak ada yang salah dengan itu.

Tetapi bahwa SBY memesan fatwa dari MUI soal Ahok, dan ada pembicaraan via telepon soal itu, saya yakin tak ada.

Apalagi SBY menekan MUI agar menerbitkan fatwa soal Ahok, jelas ndak benar. Yang mungkin “nyetir” MUI bukan SBY, tetapi penguasa dong.

SBY sekarang bukan penguasa. Dia tak punya kapasitas untuk nyetir MUI. Yang paling mungkin nyetir MUI, kalau mau, ya penguasa sekarang.

Ketika Kiai Maruf menolak adanya pembicaraan dengan SBY di pengadilan, yang ditolak adalah adanya telepon soal pesanan fatwa.

Kalau soal pembicaraan mengenai kunjungan AHY ke PBNU antara SBY dan Kiai Maruf, memang ada. Tapi itu non-issue.

Jadi, ketika pengacara Ahok menuduh Kiai Maruf berbohong soal adanya pembicaraan dengan SBY per telepon, mereka jelas ceroboh dengan tuduhan itu.

Secara pemikiran, saya berseberangan dengan Kiai Maruf, hingga sekarang. Tapi ndak terima kalau dia dituduh bohong oleh pengacara Ahok.

Kiai Maruf sama sekali tak bohong dalam hal tak adanya pembicaraan per telepon dg SBY soal permintaan fatwa.

Tapi tampaknya pengacara Ahok yakin benar ada bukti bahwa SBY memesan fatwa dari MUI soal Ahok. Kita tunggu saja buktinya.

Bukti ini perlu digelar secara publik, biar tuduhan Ahokers bahwa SBY ada di balik fatwa MUI soal Ahok bisa dikubur. Ini tuduhan bengis!

Sekarang saya akan twit soal Ahok. Saya tak pernahngetwit soal pribadi Ahok selama ini, sampai soal Kiai Maruf ini muncul.

Selama ini twit-twit saya paling hanya mengkritik Jokowi atau mempromosikan AHY. Tapi mengkritik Ahok, nyaris ndak pernah.

Tetapi gara-gara kasus Kiai Maruf ini, terpaksa saya bicara terus-terang soal Ahok. Terpaksa, karena kondisi “force majeur”.

Tadi siang saya ngetwit bahwa Ahok ini “too dangerous to our social fabric.” Saya serius dengan twit itu. Tidak main-main.

Sejak awal hingga sekarang, sikap saya jelas, tanpa tedeng aling-aling: saya tak anggap Ahok melecehkan agama. Ini sikap saya.

Tapi bukan berarti Ahok tak lakukan kesalahan. Dia lakukan blunder politik yang bodoh dengan pernyataan-pernyataanya yang kurang perlu soal Al Maidah dulu.

Sekarang Ahok melakukan blunder lagi dengan memproduksi kesalahan yang bikin marah segmen umat yang penting, yaitu NU.

Saya tahu tak semua warga NU marah dengan perlakuan Ahok atas Kiai Maruf. Tapi yang marah, harus diakui, banyak juga. Jangan “denial” dong.

Kalau pengurus pusat GP Ansor mengeluarkan pernyataan keras untuk bela Kiai Maruf, ini sudah “wake up call”. Ahok “crossing the line”.

Blunder-blunder Ahok ini menegaskan satu hal: dia tak sensitif terhadap konteks sosial. Insensitivitas dia bisa bahayakan huhungan-hubungan keumatan.

Merawat harmoni sosial itu susah. Dan tampaknya Ahok “took this too lightly”. Dia hanya mau jalan dengan ego dan arogansinya sendiri.

Ahok “complain” karena diperlakukan tak adil oleh FPI. Fair enough. Ini komplain yang “justified”. Saya juga bukan pendukung FPI.

Tapi yang saya sayangkan: jika Ahok tahu berhadapan dengan kelompok seperti FPI, kenapa dia bikin pernyataan-pernyataan yang justru bisa “membunuh”-nya sendiri?

Sekarang Ahok tak saja membuka front dengan FPI, tetapi dengan umat NU. Maunya apa orang ini? Mau merusak hubungan sosial dan keumatan?

Kalau Anda seorang pemikir bebas di kampus, boleh lah bikin statemen yang kontroversial soal agama. Tapi kalau pejabat publik kayak Ahok?

Ahok jangan niru-niru Gus Dur, ikut-ikutan mau bikin statemen yang kontroversial soal agama. Ndak maqam-nya. Harus tahu diri.

Kalau anda pejabat publik, anda harus hati-hati ketika berhadapan dengan isu-isu sosial yang potensial membangkitkan kemarahan orang banyak.

Kalau anda sembrono sebagai pejabat publik dengan berceloteh seenaknya, ya anda harus siap menghadapi resikonya. Jangan salahkan umat/rakyat.

Membela Ahok dengan argumen pluralisme dan kebhinnekaan dalam situasi dan konteks seperti ini, jelas “completely misplaced”!

Saya justru berpendapat, Ahok tampaknya tak peduli dengan kebhinnekaan. Dia hanya peduli dengan egonya sendiri.

Jika Ahok peduli dengan kebhinnekaan, dia tak akan berlaku kasar pada Kiai Maruf. Sebab ini potensial bikin marah warga nahdliyyin.

NU itu ormas ynng selama ini paling “friendly” pada Ahok. Nahdliyyin yang dukung Ahok juga banyak. Kok bisa Ahok berlaku kasar pada tokohnya?

Insentisitivitas Ahok pada konteks sosial sudah sampai pada derajat yang “intolerable”. We cannot afford having him as governor anymore!

Membiarkan Ahok pada posisi publik yang penting seperti gubernur jelas tak bisa dibenarkan. Membahayakan kehidupan sosial.

Tak pernah saya seterus terang ini. Tapi saya harus mengatakannya: Ahok berbahaya bagi hubungan antar-agama di negeri ini.

Sikap-sikap sosial Ahok sama sekali tak kondusif dan “kompatibel” dengan tujuan bersama untuk merawat harmoni sosial. Sekian.

***

Baca juga:  Meski Non-Muslim dan Cina, Umat Islam Tak Pernah Mempermasalahkan Kwik Kian Gie

Terlepas dari asumsi bahwa Ulil tengah terbelit dengan kepentingan politik karena posisinya yang mendukung salah satu konstestan penantang Ahok, argumen dalam ciutannya adalah sesuatu yang bisa dikatakan logis.

Adapun tokoh lain yang biasa dikaitkan dengan liberalisme di antaranya adalah Akhmad Sahal. Dia berkata dalam media sosialnya, “Mari kita jaga marwah KH. Ma’ruf Amin. Mengkritik atau menggugat kesaksian beliau sah-sah aja, tapi jangan menghina dan mencaci-maki,” kata Sahal via akun twitternya @sahaL_AS beberapa hari lalu (31/1).

Dalam konteks ini dan dengan berbaik sangka, saya anggap respon mereka saat ini seperti yang pernah dikataan kiai Said Aqil Siradj saat dimintai pendapat mengenai liberalisme yang menjangkit di sebagian generasi muda NU.

Baca juga:  Mengapa Warga NU Hanya Peka Saat Kiainya Dihujat, Namun Tidak Saat Al-Quran Dinista?

“Itu hanya kenakalan intelektual yang suatu saat akan kembali lagi ke pangkuan NU, lha wong mereka saja dengan kiai masih cium tangan. Liberal kok cium tangan, itu bisa batal liberalnya,” begitu jawaban santai Kiai Said seperti dikutip situs muslimedianews.com.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Ahmad Indra
follow me
Latest posts by Ahmad Indra (see all)
  • 27
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *