Ketika Teman FB Komen Nyelekit

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Setelah paham dengan baik dunia permedsosan, saya lalu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengomentari status orang lain yang tak saya setujui isinya.

Saya memilih sikap bahwa cara saya menghormati pendapatnya adalah dengan tidak mengomentarinya, apalagi komentar negatif.

Kalau pun saya benar-benar tidak setuju, barulah saya buat status terkait status itu, yang belum tentu dibacanya juga.

Setidaknya saya berharap status saya bisa jadi opini pembanding bagi teman-teman di lingkaran saya dan penulis status itu.

Maka, saya merasa aneh bila ada teman FB yang tiba-tiba komen nggak enak tentang status saya di kolom komentar.

Bahkan, ada yang nongol hanya ketika mau komen negatif. Padahal, saya tak pernah komen sekalipun di statusnya, apalagi komen negatif.

Baca juga:  Tak Usah Ribut Soal Doa di Sidang Paripurna! Di Negeri Ini Agama Sudah Lama Dipolitisasi, Bahkan Diproyekkan

Saya tentu paham, FB ruang terbuka. Kolom komentar berarti kita mengizinkan orang lain untuk mengomentari apa saja tentang status kita.

Tapi, sebebas-bebasnya kita di medsos pasti ada etikanya. Bagi saya, orang seperti ini kurang etikanya. Dia seperti ngelabrak dan ngatain-ngatain orang di depan rumah orang yang dikatainnya.

Padahal, seringkali saya ketemu komentar yang justru menandakan dia tak paham konteksnya.

Saya biasanya masih mentoleransi komentar nyelekit beberapa kali. Tapi kalau terus-terusan, pasti saya selesaikan secara adat: unfriend atau block.

Niatnya sederhana: hanya biar tidak menambah dosa saya dan dia. Apalagi kalau sampai terlibat perang kata-kata karena saya ingin memberi pelajaran kepada ybs.

Baca juga:  Mengajar Tafsir Ibnu Katsir dan Karamah Gus Qoyyum Lasem

Begitulah dunia permedsosan. Tak semua orang baik, tapi tak semua orang juga jahat.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close