Ketika Purgatory Bershalawat Asyghil

  • 26
  •  
  •  
  •  
    26
    Shares

DatDut.Com – Lantunan Shalawat Asyghil menggema. Bukan dari speaker musholla tempat Pak Jiman biasa mengumandangkan adzan, bukan pula dari kantor pusat GP Ansor di Jl. Kramat Raya.

Namun justru dari sebuah panggung musik cadas, saat band metal asal Jakarta yang berjuluk Purgatory itu manggung di depan para penggemarnya.

Beragam pendapat muncul selepas orang melihat aksi itu di Youtube.

Bayu yang penggemar Metallica dan gitaris sebuah grup band itu dengan cekatan langsung mengapresiasi aksi itu.

Dia beranggapan bahwa itulah cara yang dapat ditempuh para personel Purgatory untuk mensyiarkan Islam di tengah para penggemar musik cadas. 

Beda halnya dengan Abu. Dia dengan tegas mengatakan bahwa mengajak kepada kebaikan dengan cara seperti itu otomatis tertolak.

Bahkan justru merendahkan shalawat karena dikumandangkan di tengah helatan yang tidak syar’i dan dengan cara yang tak patut. Fix..haram!

Beda lagi dengan mbak Aufa. Tanpa ba bi dan bu, dia langsung bersabda, “Inilah hasil dari syiarnya para punggawa Islam Nusantara yang pro JIL dan Syiah!”.

Padahal, para personel Purgatory pernah berpartisipasi dalam acara Apel Umat Islam yang bertajuk “Damai Tanpa Liberal” di Bundaran HI beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Ini Hoax-hoax Seputar Kunjungan Raja Salman yang Dipakai untuk Saling Bully

Dan dari sekian banyak pendapat tentang Shalawat Asyghil di panggung musik metal, pendapat Sudrun lah yang paling elegan. Katanya, “Purgatory itu grup musik gambus ya? Kaya Sabyan itu?.

Ah, ternyata Sudrun belum pernah nonton videonya!

Cerita di atas adalah rekaan belaka, namun terinspirasi oleh sebuah kejadian nyata dan mendeskripsikan berbagai pikiran yang muncul di masyarakat dalam menanggapi sebuah masalah yang sama.

Ragam pendapat, positif maupun negatif, beradab maupun dibalur cercaan, datang dari berbagai orang dengan kapasitasnya masing-masing.  

Ada yang suka beragumen dengan cerdas berdasarkan data dan fakta.

Namun, ada pula yang pendapatnya justru terbantahkan oleh ketidakpahaman mereka sendiri akan permasalahan yang digunjingkannya, ya kaya mbak Aufa tadi itu.

Namun yang paling menggelikan adalah kini, ada golongan yang gemar mengklaim bahwa golongannyalah yang patut dikatakan sebagai golongan berakal sehat saat mengkritik orang lain yang berbeda dengannya.

Baca juga:  Mempersoalkan Ungkapan "Menjadi Islam Tak Perlu Menjadi Arab"

Dan akhirnya, di tengah simpang siur informasi dan karut marutnya pergumulan pendapat di media sosial, sifat golongan manusia yang oleh Imam al-Ghazali dinamakan sebagai “rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri”, patutlah diteladani oleh mereka yang ingin menjaga kebersihan hati.

Yakni menjadi seseorang yang mencukupkan diri dengan tak berkata ini dan itu saat merespon kejadian yang dia tak pahami benar. Kira-kira ya seperti Sudrun itu.. hehe.

Komentar

follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *