Ketika Ngaji Ada yang Tidak Bener

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – “Makanya ngaji yang bener!” Kalimat tersebut sering kita dengar akhir-akhir ini. Kalimat ini banyak dijumpai di kolom komentar medsos baik itu facebook, instagram, ataupun youtube.

Biasanya kalimat ini lahir setelah debat kusir yang tak menemui ujung dan hanya menyisakan emosi yang kian meluap.

Persoalan yang diperdebatkan pun hanyalah persoalan khilafiah yang sebenarnya sudah selesai pembahasannya oleh ulama-ulama dahulu.

Sehingga, tak perlu lagi buang-buang waktu untuk membahasnya apalagi memperdebatkannya.

Kembali ke istilah ngaji. Ada apa dengan ngaji ini? Kok tiba-tiba muncul istilah ngaji yang bener. Adakah ngaji yang tidak bener?

Memang akhir-akhir ini kegiatan ngaji mulai dikenal masyarakat luas khususnya yang tinggal di perkotaan setelah sebelumnya hanya populer di kalangan masyarakat pesantren.

Dengan bermodalkan youtube, seseorang bisa belajar agama tanpa harus meninggalkan kursi kerjanya.

Baca juga:  Bantahan Buya Yahya atas Pernyataan Quraish Shihab Soal Nabi Tak Dijamin Surga

Seseorang bisa ikut ngaji subuh tanpa harus meninggalkan tempat tidurnya. Seseorang bisa mendengarkan kajian Islam sambil berkendara menuju kantornya.

Di satu sisi memanglah menguntungkan. Tak lagi butuh banyak tenaga untuk mempelajari ilmu agama, semuanya sudah tersedia. Tinggal klik maka muncul apa yang diinginkan.

Namun di sisi lain, ada hal yang cukup memprihatinkan. Tak sedikit di antara masyarakat yang baru ngaji ini itupun hanya lewat youtube, mendadak agamis (merasa paling beragama).

Baru sekali ikut ngaji sudah merasa paling ngaji dari mereka yang telah ngaji bertahun-tahun.

Umumnya, mereka yang seperti ini tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang baik. Mereka hanya mengandalkan apa yang diperoleh dari satu ustaz kemudian menyalahkan ustaz yang lain.

Sehingga ketika berdebat di kolom komentar dan sudah tidak punya argumen lagi, keluarlah kata-kata “makanya ngaji yang bener!”

Baca juga:  Ketika Victoria Park Hong Kong Mirip Halakah di Pesantren

Karenanya, belajarlah untuk mendengar pendapat orang lain karena belum tentu yang disampaikannya itu salah. Boleh jadi ilmu kitalah yang belum sampai pada pemahamannya.

Di samping itu, berusahalah untuk selalu menambah ilmu. Ngajinya jangan cuma di satu ustaz saja tetapi mencoba mendengar pendapat lain agar kita tidak merasa benar dan gampang menyalahkan orang lain.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi

Latest posts by Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close