Ketika Masyarakat Latah Mengidolakan Ustaz

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Sebelum membaca tulisan ini, saya sarankan Anda untuk memahami dengan serius substansi tulisan ini. Jangan buru-buru baper bila belum benar-benar paham substansinya, apalagi kalau Anda masih dilanda cinta berlebih pada figur ustaz tertentu. Kata orang bijak, memang susah menasihati orang yang sedang kasmaran.

Tulisan ini terkait kebiasaan latah, yang memang menjadi masalah serius masyarakat kita, termasuk soal belajar agama. Dulu ketika ada ustaz X populer di radio, semua orang mengundangnya dan menjadikannya sebagai rujukan “kebenaran”.

Ketika popularitasnya surut gara-gara berpolitik, lalu muncul ustaz Y yang populer di TV, semua pun ramai-ramai mengundangnya dan menjadikannya sebagai rujukan “kebenaran dan kebaikan”.

Ketika ustaz Y ada masalah dengan rumah tangganya, semua ramai-ramai meninggalkannya dan juga mencacinya. Lalu muncul ustaz Z di YouTube. Semua ramai-ramai mengundangnya dan menyanjungnya setinggi langit. Bahkan, menjadikannya sebagai pedoman “kebenaran dan kebaikan”.

Baca juga:  Nasihat untuk Jonru dan Para Pemujanya

Meskipun saat ini semua masyarakat terpana dan terpesona pada ustaz Z, bukan berarti menandakan bahwa ustaz Z itu satu-satunya sumber kebenaran. Keberadaan ustaz-ustaz yang populer itu sebetulnya hanya menunjukkan bahwa setiap masa ada ustaznya dan setiap ustaz juga ada masanya.

Jadi tak usahlah menyanjung berlebihan. Ustaz-ustaz itu memang punya kelebihan, tapi tak usahlah melebih-lebihkan. Toh banyak juga ulama-ulama lain yang punya kelebihan, tapi hanya karena “nggak main” dan bahkan “tidak tertarik dengan” YouTube, jadi tak begitu dikenal. Bahkan, ulama-ulama dalam kategori ini justru punya karya yang penting dan hingga kelas dunia.

Nah, kalau kita terlalu melebih-lebihkan ustaz yang lagi tenar, itu hanya menunjukkan bahwa kita terlalu sering buka YouTube daripada hadir di majelis, kita lebih sering buka medsos daripada buka buku/kitab. Atau, kita memang punya masalah dengan latahisme, karenanya kita gampang terbawa arus. Semoga saya salah.

Baca juga:  Ini 5 Hukum Terjemahan Alquran versi Fatwa Ulama Al-Azhar Mesir

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *