Ketika Harus Nyantri Dua Ramadan di Hongkong, Macau, dan Jepang

  • 44
  •  
  •  
  •  
    44
    Shares

DatDut.Com – Dua Ramadhan ini saya ditugasi Dompet Dhuafa untuk “nyantri” di negeri-negeri minoritas kaum Musliminnya.

Ada banyak yang saya lihat. Soal kemajuan suatu bangsa, kedisiplinan, kebersihan, kenyamanan, kepedulian, keamanan, keramahan, dan berbagai hal yang tak bisa diceritakan satu persatu. Saya juga bisa berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim dari berbagai negara.

Namun, di atas itu semua, yang paling membahagiakan adalah saya bisa menyaksikan bagaimana umat Islam melaksanakan kewajibannya dalam serba keterbatasan tapi dengan penuh semangat.

Saya juga melihat secara langsung berbagai alternatif praktik ber-Islam yang sebelumnya hanya saya baca melalui literatur.

Sebagai contoh, bagaimana mereka berwudhu, beristinjak, dan salat, yang menggunakan mekanisme rukhshah (dispensasi dalam fikih) dengan mencari pendapat-pendapat dari imam-imam mazhab yang memberikan alternatif solusi dalam situasi khusus seperti yang mereka alami.

Baca juga:  Propaganda Anti-Arab Paling Lucu! Ikuti Tuntunan Syariah Kok Dianggap Kearab-araban

Ramadan lalu saya harus belajar bersama para TKW di Macau dan di Hongkong, untuk melihat langsung apa kendala dan tantangan menjadi Muslim di negara non-Muslim. Ada banyak yang bisa saya petik dari perjalanan tahun lalu.

Tahun ini kembali saya harus belajar dengan mahasiswa-mahasiswa hebat yang mendapat beasiswa baik dari pemerintah kita maupun pemerintah Jepang untuk menggeluti berbagai bidang yang unik di S1, S2, dan S3 di kampus-kampus terkemuka di sini. Bahkan, ada sebagian yang sudah menjadi dosen dan asisten profesor di sini.

Memang terasa ada yang kontras antara tahun ini dan tahun lalu, tapi hidup mengajarkan kepada kita untuk selalu siap menghadapi berbagai situasi. Dan, selalu ada hikmah di balik kejutan-kejutan situasi itu.

Alhamdulillah sejauh ini saya bersyukur dengan semua perjalanan nyantri di negara orang, meskipun harus jauh dari istri dan keluarga, menahan rindu dan terkadang harus menyeka air mata.

Baca juga:  Karena Dituduh Bidah Itu Memang Menyakitkan

Sekarang saya bisa sedikit merasakan bagaimana beratnya ulama-ulama dan para pendahulu kita dalam berdakwah. Tapi dakwah memang kewajiban kita semua. Tak harus masuk daftar dari pemerintah. Cukup menyampaikan saja yang sudah dikuasai, termasuk menunjukkan akhlak Islam di negara yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah
  •  
    44
    Shares
  • 44
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *